18.500 Hektar Hutan Mangrove di Jatim Rusak

No comment 476 views
Penggalakan penanaman pohon bakau dan sejenisnya menjadi kegiatan yang sangat penting untuk menumbuhkan kembali hutan mangrove yang semakin rusak di kawasan pesisir Jatim.

Penggalakan penanaman pohon bakau dan sejenisnya menjadi kegiatan yang sangat penting untuk menumbuhkan kembali hutan mangrove yang semakin rusak di kawasan pesisir Jatim.

GLOBALINDO.CO, MALANG – Kondisi resapan air di kawasan hutan yang semakin memprihatinkan menjadi salah satu penyebab seringnya terjadi banji di Jawa Timur, khsusunya di wilayah pesisir. Tercatat, separuh hutan mangrove yang berada di pesisir Jatim atau sekira 18.500 hektar mengalami kerusakan disebabkan alih fungsi lahan.

Tingkat kerusakannya pun sudah mengkhawatirkan, sebesar 45 persen. Data tersebut diperoleh dari spasial citra satelit BPP FPIK dan Pusat Studi Pesisir dan Kelautan.

Data ini hampir sama dengan persentase kerusakan mangrove secara nasional. Kabag Perlindungan Daerah Aliran Sungai Hutan Lindung Hutan Lindung KLHK Joko Pramono mengatakan dari 3,74 juta hektar mangrove di Indonesia, hanya 2,6 juta hektar yang masih dalam kondisi baik.

“Data olahan itu berdasarkan luasan mangrove dan kerapatannya,” jelas staf ahli Wakil Dekan I Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya Asep Awaludin Prihanto di Malang, Rabu (12/10).

Kerusakan mangrove ini mayoritas diakibatkan ulah manusia. Mangrove makin terkikis karena maraknya alih fungsi lahan untuk keperluan tambak, permukiman, perkebunan, industri, dan pelabuhan.

Direktur Program Yayasan Kehati, Teguh Triono menjelaskan Jawa Timur menjadi salah satu sasaran pihaknya dalam melestarikan mangrove. Namun, tidak semua pesisir Jatim sesuai sebagai tempat hidup mangrove.”Kita pernah menanam mangrove di Tuban dan Probolinggo tapi pertumbuhan sulit karena karakter lahan tidak sesuai,” ungkap Tri.

Sulitnya pertumbuhan mangrove di dua lokasi itu dikarenakan lahan didominasi pasir dan batu. Idealnya, mangrove akan tumbuh di tanah yang mengandung sedimen endapan lumpur. Kini, Kehati bekerja sama dengan Universitas Brawijaya akan kembali menanam mangrove di Pantai Clungup di Malang bagian selatan.

“Di sana karakteristik lahan sesuai untuk hidup mangrove,” ujar Teguh. (rp/gbi)