18 Negara Bahas Tangkal Aksi Ekstrimisme di Surabaya

oleh
Tavares
Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Duta Besar Jose Tavares.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sebanyak 18 negara mengikuti acara agenda East Asia Summit Regional Seminar for Capacity Building to Prevent and Counter Violent Extremism yang digelar di Surabaya.

Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Duta Besar Jose Tavares mengatakan, dipilihnya Surabaya sebagai tempat gelaran agenda yang membahas upaya pencegahan permasalahan terorisme ini punya alasan khusus. Pihaknya sengaja menggelar di Surabaya agar tidak hanya fokus di Jakarta.

“Selain itu, Surabaya juga satu contoh terbaik untuk menunjukkan kepada dunia bahwa keberagaman budaya bisa menghargai dan saling hidup berdampingan. Itu yang penting untuk kita bagikan kepada dunia,” tegas Jose Tavares seusai pembukaan East Asia Summit di Hotel JW Marriot, Surabaya, Senin (5/12).

Dikatakan Jose Tavares, pencegahan merupakan upaya kunci dalam menyelesaikan permasalahan terorisme di dunia. Peserta seminar berkumpul dalam rangka membahas nilai-nilai yang moderat dan penuh toleran.

“Ini harus dilakukan secara kolektif antar negara. Tidak bisa satu negara saja,” ujarnya.

Tavares mengingatkan, penting adanya keterlibatan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda dalam upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme serta ekstremisme dengan kekerasan.

Seminar ini bentuk implementasi EAS Statement on Countering Violent Extremism yang disahkan pada KTT ke-10 Asia Timur, Kuala Lumpur, 22 November 2015 silam. Secara umum, seminar ini membahas faktor penyebab VE, kesenjangan yang terjadi di tingkat nasional dan regional dalam upaya mencegah da memberantas VE.

Serta, kemungkinan kerja sama yang dapat dilakukan antar negara untuk mengatasi permasalahan VE. Diharapkan rekomendasi hasil diskusi kali ini dapat memperkuat kapasitas kawasan dalam mencegah konflik.

Rekomendasi yang dihasilkan juga akan digunakan sebagai dasar pengembangan pendekatan komprehensif dalam mencegah esktremisme baik di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional.

“Hasil dari pertemuan ini akan kami bawa ke agenda East Summit Leader tahun depan yang dihadiri para kepala negara dari negara-negara forum EAS ini. Ini kita sharing untuk menjamin keamananan satu negara dan negara lainnya,” sambung Jose Tavarez.

Agenda East Asia Summit dihadiri perwakilan lembaga pemerintah dan non pemerintah dari negara peserta EAS. Selain 10 negara ASEAN, juga ada Amerika Serikat, Australia, India, Jepang, Korea Selatan, RRT, Rusia dan Selandia Baru. Ikut hadir perwakilan dari kementerian/lembaga nasional RI, akademisi serta organsasi kemasyarakatan.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini menambahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memiliki banyak program sebagai upaya pencegahan aksi teror dan esktremisme di Surabaya. Menurutnya, terjadi nya aksi ekstremisme mayoritas berawal dari kemiskinan dan kesendirian.

Karenanya, Pemkot berupaya membangun masyarakat toleran yang meski berbeda. Meski di Surabaya ada berbagai macam etnis, tetapi mereka bisa membaur dan bersama-sama membangun kota.

“Sekarang kami lagi mendata warga yang kena PHK. Jangan sampai dimanfaatkan seseorang dengan imbalan. Sebab, di saat seseorang bingung, apapun bisa terjadi. Kami harus bangun dan pererat lagi dengan aktifitas macam-macam. Kami juga rapatkan barisan dengan kepolisan, ulama dan masyarakat,” tegas walikota. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *