2,7 Juta Warga Kelas Menengah Indonesia Ternyata Suka Shopping di Singapura

singapura-HP9GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Indonesia diprediksikan menjadi negara keempat terbesar di dunia yang memiliki kelas menengah sebanyak 20 juta rumah tangga pada 2030 mendatang.

Lonjakan kelas menengah Indonesia ini menurut Euromonitor merupakan potensi keuntungan dari perjalanan dan belanja bebas pajak atau tax free shopping (TFS) di luar negeri. Ironisnya, negara yang meraup keuntungan besar dari TFS Indonesia ini adalah Singapura.

Berdasarkan laporan Global Blue, negeri yang kini dipimpin Lee Hsien Loong ini merupakan sorga belanja bagi para shoppers Indonesia.

Selama 2015 saja tercatat sebanyak 2,7 juta orang Indonesia yang berbelanja di sana.

Global Blue juga melaporkan, shoppers Indonesia terbesar kedua setelah China, dan secara historis dianggap penting oleh para peritel yang beroperasi di negeri Singa tersebut.

“Karena shoppers Indonesia mewakili hampir seperlima dari jumlah transaksi global TFX,” kata Wakil Presiden Global Blue Asia Pasifik, Jan Moller di laman resminya.

Indonesia juga dianggap menjadi pendorong utama kinerja TFS Singapura dalam dua bulan pertama tahun 2016, Januari dan Februari, dengan rata-rata pertumbuhan 4 persen secara bulanan dan 3 persen secara tahunan (2015), meskipun terjadi sedikit penurunan pengeluaran dengan angka rerata 3 persen.

Penurunan pengeluaran ini terjadi karena Rupiah melemah yang memengaruhi pengurangan permintaan untuk perjalanan wisata dan belanja pada 2015.

Nah, saat kinerja Rupiah pulih, belanja orang-orang Indonesia pun melonjak dalam dua bulan pertama tahun 2016.

“Januari dan Februari adalah pertama kalinya kami telah melihat peningkatan belanja oleh orang Indonesia terhadap tahun sebelumnya. Ini jelas berita baik bagi Singapura,” tambah Jan.

Meski mengalami lonjakan, untuk segi pengeluaran masih dinilai lebih rendah dibandingkan pembelanja asing lain, karena preferensi mereka lebih banyak untuk kategori fashion.

Peningkatan shoppers Indonesia ini didorong penerbangan murah atau low cost carrier ke berbagai negara tujuan belanja, khususnya Singapura, dan juga aplikasi visa yang dibuat lebih mudah.

Selain Singapura, Jepang dan Korea Selatan juga tengah giat menarik minat wisatawan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Jepang menerapkan relaksasi aturan visa sehingga membantu jumlah kunjungan dan mendongkrak TFS lebih signifikan.

Data lonjakan jumlah pembelanja ini menjadi basis optimisme sektor ritel Tanah Air. Menurut Direktur Ritel Savills Indonesia, Rosaline Lie, meski tingkat permintaan masih relatif terbatas, namun secara keseluruhan pasar ritel Indonesia masih terbilang stabil.

Daya beli yang masih cukup tinggi dan tren gaya hidup semakin mendorong tingkat pengeluaran dan konsumsi yang cukup signifikan walaupun dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini.

“Pasar ritel bahkan berpeluang menjadi sektor properti yang pertama bangkit dari kondisi perlambatan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini,” ujar Rosaline kepada Kompas.com, Rabu (11/5/2016).

Selain jumlah pembelanja, kata Rosaline, faktor lain yang bisa menjadi pendorong peningkatan pasar ritel, adalah kondisi pertumbuhan pasok yang relatif minim akibat moratorium pembangunan pusat perbelanjaan baru di wilayah DKI Jakarta.

Hal itu menyebabkan kompetisi yang ada tidak seketat dibanding sektor lainnya. Sebaliknya, justru bisa memicu kenaikan tingkat permintaan ritel saat terjadinya perbaikan ekonomi yang signifikan dalam waktu dekat.

“Kondisi ini mirip yang dialami selepas periode krisis akhir tahun 1990-an,” tuntas Rosaline.(kcm/ziz)