Keponakan Novanto Jadi Tersangka Penampung Suap e-KTP 3,5 Juta USD

oleh
Eks Direktur PT Murakabi Sejahtera Irvanto Hendra Pambudi Cahyo (kiri) ditetapkan sebagai tersangka yang diduga menampung duit suap sebesar 3,5 juta USD untuk pamannya, Setya Novanto dalam proyek e-KTP.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Satu lagi orang kepercayaan Setya Novanto yang ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi proyek e-KTP. Keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo ditetapkan sebagai tersangka yang diduga menerima suap total 3,5 juta USD pada Januari-Februari 2012 untuk diserahkan kepada pamannya.

“IHB adalah keluarga Setnov (Keponakan),” kata Ketua KPK Agus Rahardjo di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (28/2).

Irvanto tidak sendirian. Eks Direktur PT Murakabi Sejahtera itu ditetapkan sebagai tersangka bersama mantan bos PT Gunung Agung, Made Oka Masagung. MOM dan IHB merupakan tersangka ke-tujuh dan ke-delapan dalam kasus korupsi e-KTP.

“IHB dan MOM diduga bersamasama Setnov, Anang Sugiana Sudihardjo, Andi Agustinus, irman dan Sugiharto dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain,” kata Agus.

Agus mengatakan IHB diduga sejak awal mengikuti proses e-KTP dengan perusahaannya PT Murakabi Sejahtera dan ikut ke dalam tim Fatmawati yang disebut merekayasa tender proyek e-KTP.

“IHB diduga menerima total 3,5 juta USD pada Januari-Februari 2012 kepada Setnov,” kata Agus.

Sedangkan MOM, kata Agus, merupakan pimpinan perusahaan yang diduga menjadi perusahaan penampung dana.  “MOM melalui perusahaannya diduga menerima 3,8 juta USD yang diperuntukan pada Setnov,” katanya.

MOM memiliki hubungan erat dalam kasus korupsi yang ditaksir merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun. Dalam sidang Andi Agustinus alias Andi Narogong, Oka disebut pernah datang ke rumah Setnov pada sekitar November 2011.

Dalam pertemuan itu juga dihadiri Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo. Mereka membicarakan modal awal pengerjaan proyek e-KTP.

Anang datang bersama Andi Agustinus alias Andi Narogong, almarhum Direktur Biomorf Lone LLC Johannes Marliem serta Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulus Tanos. Ketika itu, Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) tak mendapat modal awal dari Kementerian Dalam Negeri.

Setelah mendengarkan keluhan anggota Konsorsium PNRI itu, Setnov menyebut urusan modal akan dibantu Oka, yang juga pemilik Delta Energy Pte Ltd, perusahaan berbasis di Singapura. Setnov menyerahkan penyaluran jatah proyek e-KTP untuk anggota DPR kepada Oka.

Nama MOM juga muncul dalam surat dakwaan Setnov. Oka yang juga sebagai pemilik OEM Investement, Pte, Ltd dan mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera Irvanto Hendra Pambudi disebut membantu Setnov menerima uang sekitar 7,3 juta USD yang diduga dari proyek e-KTP. Uang itu diberikan oleh Andi Narogong dan Johannes sebagai kompensasi karena Setnov telah membantu proses penganggaran e-KTP di DPR.

Dalam kasus ini, sebelumnya KPK telah menetapkan enam orang sebagai tersangka. Bahkan, dua diantaranya yakni Mantan Direktur Pengelolaan Informasi dan Administrasi Ditjen Dukcapil Kemendagri, Sugiharto dan Mantan Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Irman telah berstatus terpidana.

Empat lainnya yang telah ditetapkan sebagai tersangka korupsi e-KTP yakni Andi Agustinus atau yang dikenal sebagai Andi Narogong, Mantan Ketua DPR Setya Novanto, Markus Nari, dan Anang Sugiana Sudiharjo. (cni/nad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *