Berkas Tersangka Pelecehan Pasien RS National Hospital Sudah Di Tangan Jaksa

oleh
M Sholeh, Kuasa Hukum tersangka kasus pelecehan seksual pasien RS National Hospital, Zunaidi Abdillah, melayangkan gugatan praperadilan atas hasil penyidikan Polrestabes Surabaya yang dianggap tidak sah.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya melimpahkan berkas perkara dan tersangka kasus pelecehan seksual, Zunaidi Abdillah, mantan perawat National Hospital ke Kejari Surabaya, Selasa (6/3).

“Hari ini kami terima pelimpahan tahap II dari penyidik atas nama tersangka ZA,” terang Kajari Surabaya, M Teguh Darmawan saat dikonfirmasi.

Saat ini, lanjut Teguh, pihaknya sedang meneliti berkas perkara dan barang bukti kasus ini. Diakui Teguh, pihaknya akan melakukan penahanan terhadap tersangka Zunaidi Abdillah, perawat RS National Hospital yang dipecat karena melakukan pelecehan seksual terhadap pasien.

“Tersangka ZA kami tahan selama 20 hari kedepan dan akan kami titipkan di Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng,”kata Teguh.

Kepala Kejari Surabaya telah menunjuk tiga orang Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang akan menangani kasus ini. “Ketua tim JPU nya adalah Kasipidum, Didik Adyotomo dan beranggotakan JPU Damang Anubowo dan Dedy Arissandi,” ujar Teguh.

Pria kelahiran Kota Pahlawan ini mengaku akan segera melimpahkan berkas perkara kasus ini ke Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. “Kita lengkapi dulu berkas administrasi dan surat dakwaannya,”tandas Teguh.

Dalam kasus ini, tersangka Zunaidi Abdillah dijerat melanggar Pasal 292 ayat (1). Ancaman hukumannya 7 tahun penjara.

Tim Kuasa Hukum Ajukan Praperadilan

Pelimpahan berkas ini dipermasalahkan oleh kuasa hukum tersangka, Zunaidi Abdillah. M Sholeh, Kuasa hukum tersangka mengatakan, pelimpahan tersebut tidak sah karena proses penyidikan tak sesuai prosedur.

Sholeh mengaku akan menguji sah tidaknya penyidikan yang dilakukan penyidik PPA Polrestabes Surabaya. Pengujian itu dituangkan dalam gugatan praperadilan yang telah didaftarkan hari ini ke Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Lebih jauh, Sholeh menguraikan kronologis kasus yang menjerat kliennya. Pada 23 Januari 2018 sekitar jam 11.30-12.00 WIB setelah operasi penyakit pasien Widyanti, tersangka dituduh telah melakukan tindakan asusila terhadap pasien dengan memegang payudara pasien. Pemohon juga dituding telah meremas -remas payudara pasien itu.

Kejadian tindakan asusila yang dituduhkan kepada tersangka terjadi pada 23 Januari 2018 antara jam 11.30-12.00 WIB terhadap korban Widyanti. Sedangkan tersangka menemui korban yang diantar oleh terjadi pada 24 Januari 2018 jam 12.00 WIB.

“Artinya ada durasi waktu 24 jam setelah kejadian. Pertanyaannya, apakah logis, orang mendapatkan tindakan pelecehan payudaranya diremas-remas, puting dibuat mainan. Dia diam saja, baru setelah 24 jam dipermasalahkan?,” tandas Sholeh di PN Surabaya, Selasa (6/3).

Sholeh menambahkan, satu jam pasca operasi, Pemohon dalam hal ini tersangka Zunaidi Abdillah mengajak korban berbicara. Tersangka mengatakan kepada korban “Bu pindah ruangan ya”, pasien menjawab “Ya”, kemudian tidur lagi.

“Artinya tidak benar jika korban tidak berdaya, saat itu kondisi korban sudah bisa berkomunikasi. “Tentu jika Penohon meremas-remas payudara korban tentu korban bisa protes, ini sebuah kejanggalan,” tambahnya.

Selain itu lanjut Sholeh, Polrestabes Surabaya selaku termohon tidak pernah memeriksa Majelis Kode Etik Keperawatan Indonesia Jawa Timur yang menyidangkan dugaan pelanggaran Kode Etik. Dalam keputusanny, Majelis Kode Etik Keperawatan menyatakan Zunaidi Abdillah tidak melanggar Kode Etik Keperawatan Indonesia tertanggal 3 Februari 2018.

Menurut Sholeh, kasus a quo bukanlah kasus pembunuhan yang penyidik harus bergerak cepat menangkap pelaku. Kasus ini juga bukan perkosaan atas nama kemanusiaan penyidik harus segera menangkap pelaku. Tapi kasus ini hanya tindakan asusila, dimana dilihat dari pengakuan korban sebenarnya bukan kasus besar dan bukan kasus predator anak anak.

Seharusnya termohon dalam hal ini berati-hati dan seksama menjalankan tugas penyidikan sesuai prosedur. Tapi yang dilakukan oleh Termohon seperti dikejar tayang.

Pada 25 Januari 2018 dilaporkan, tanggal itu juga Termohon mengeluarkan sprindik, kemudian 26 Januari 2018 Pemohon langsung ditetapkan menjadi Tersangka. Ttanggal itu juga Pemohon ditangkap dan ditetapkan menjadi Tersangka.

“Pertanyaannya, kapan Termohon memeriksa saksi-saksi, kapan Termohon melakukan visum et repertum, kapan Termohon memeriksa ahli, kapan Termohon melakukan gelar perkara. Sepertinya antara 25-26 Januari 2018 Termohon tidak ada kasus lain yang disidik, sehingga semua energi harus dikerahkan untuk menyelesaikan perkara Pemohon. Andaikata semua perkara yang ditangani Termohon diselesaikan seperti kasus yang dialami oleh Pemohon, tentu Termohon menjadi aparat penegak hukum yang terbaik didunia,” terangnya.

Sholeh menyatakan jika termohon tidak melakukan proses penyelidikan, tapi langsung ke tahap penyidikan, hal ini melanggar Pasal 4 huruf c Peraturan Kapolri No 14 tahun 2012 tentang Managemen Penyidikan Tindak Pidana.

Tidak memeriksa Pemohon sebagai calon Tersangka melanggar Putusan Mahkamah Konstitusi no 21-PUU-XII-2014  halaman 98 alinea ke dua tertanggal 16 Maret 2015.

Perolehan Rekaman video permintaan maaf Pemohon melanggar putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU-XIV/2016 tertanggal 7 September 2016 halaman 96. Tidak memberikan kesempatan menghadirkan saksi dan ahli untuk kepentingan Pemohon melanggar Pasal 65 UU No 8 tahun 1981 tentang KUHAP

Tidak adanya 2 alat bukti dalam menetapkan Pemohon sebagai Tersangka melanggar Pasal 184 Undang-Undang No 8 tahun 1981.

“Untuk itu kami memohon agar majelis hakim menerima dan mengabulkan Permohonan Praperadilan Pemohon untuk seluruhnya, menyatakan Penetapan Tersangka atas diri Pemohon yang dituangkan dalam Surat Ketetapan Nomor; S-Tap/90/I/2018 SATRESKRIM kepolisian Resort kota Besar Surabaya tertanggal 26 Januari 2018 adalah Tidak Sah dan tidak berdasar hukum,” pungkasnya

Seperti diketahui, Kejadian ini berawal saat video dugaan pelecehan seksual yang dilakukan tersangka Zunaidi Abdillah seorang perawat laki-laki di National Hospital Surabaya, Jawa Timur tersebar melalui media sosial hingga WhatsApp group.

Awalnya, video terkait pelecehan tersebut diunggah di akun Instagram milik korban. Video menampilkan korban yang berada di atas ranjang dengan tangan masih diinfus.

Dalam video tersebut, perempuan tersebut tampak menangis dan mengaku payudaranya diremas oleh
tersangka Zunaidi Abdillah saat bertugas menjaganya di National Hospital. “Kamu ngaku dulu, kamu remas payudara saya kan? Dua atau tiga kali?” ujar pasien wanita tersebut kepada perawat laki-laki itu.

Video kedua masih dengan latar yang sama. Di video ini terlihat pasien perempuan itu menangis. “Psikis saya, saya enggak bisa tidur, enggak bisa makan. Saya nangis,” ujarnya.

Tak lama kemudian, suami korban yakni Yudi Sukinto Wibowo melaporkan kasus ini ke Polrestabes Surabaya dan akhirnya menetapkan
Zunaidi Abdillah sebagai tersangka.

Mantan perawat ini sempat menjadi buron, lalu Zunaidi Abdillah berhasil ditangkap anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, di sebuah hotel di Surabaya. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *