Kritik dan Opini Pedas Prabowo Tiru Strategi Trump

oleh
Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subinato dan Presiden AS Donald Trump dinilai memiliki kemiripan dalam strategi mengerek elektabilits dan menjatuhkan lawan politik.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto kerap melontarkan kritik tajam pada pemerintahan Joko Widodo dan opini kebangsaan yang berpotensi memantik kecemasan publik. Bagi pengamat politik, pernyataan bernada ‘momok’ itu adalah bagian dari siasat Prabowo sebelum menyatakan diri maju sebagai calon presiden 2019.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, strategi yang dipakai Prabowo itu mengekor gaya Donald Trump ketika berkampanye dalam Pilpres Amerika Serikat (AS) pada 2016.

Salah satu potensi ketakutan yang disuarakan Prabowo adalah mengungkapkan ancaman dari pihak asing ke Indonesia. Metode ini sebelumnya terbukti ampuh mengangkat dukungan publik AS kepada Trump hingga terpilih sebagai presiden.

Kala itu, Trump menyebutkan AS sedang di bawah ancaman China, Islam, dan tenaga kerja imigran dari Meksiko. “Sebenarnya menurut saya ini agak mirip. Jadi yang disebarkan adalah pesimisme dan ketakutan,” kata Qodari di Hotel Harris Suite FX Sudirman, Jakarta, Selasa (3/4).

Ia berpendapat, Prabowo memilih mengadopsi strategi ini karena ada kemiripan situasi antara AS dan Indonesia, di mana media sosial tengah menjadi tren di masyarakat. Selain itu, ketakutan dengan ancaman dari luar juga sama-sama merebak di kedua negara.

“Kalau di Amerika takut kepada Islam, kalau di Indonesia orang Islam takut sama Barat. Jadi ini sebenarnya saling takut-menakuti. Tinggal siapa yang pakai isu ini,” ucapnya.

Qodari menilai, strategi Trump digunakan tim kampanye Prabowo karena terbukti berhasil memenangkan Pilpres AS. Alasannya, pesimisme dan ketakutan yang disampaikan ketika itu diterima oleh rakyat AS sehingga memilih Trump menjadi presiden.

“Jadi saya kira kalau ketakutan dan pesimisme ini dikembangkan, kemudian mempengaruhi mayoritas masyarakat Indonesia, maka kecenderungannya akan memilih Pak Prabowo, bukan Pak Jokowi,” ulas Qodari.

Qodari menyatakan tujuan Prabowo melontarkan kritik pedas kepada para elite politik adalah untuk menunjukkan adanya kesenjangan di Indonesia. Strategi yang sama digunakan oleh Trump, selain menyebarkan ketakutan dan ancaman.

“Strateginya itu mempertentangkan kalangan bawah dan kalangan atas,” ucapnya.

Beberapa isu lain yang ditebar Prabowo adalah ancaman Indonesia Bubar pada 2030. Isu itu dia sebar melalui  video berisi pidato yang diviralkan di media sosial pada pertengahan Maret lalu.

Selanjutnya, Prabowo juga menyebut elite pemerintah saat ini penipu, bodoh, dan bermental maling. Prabowo menyebutkan hal tersebut ketika berpidato di Gedung Serbaguna Istana Kana, Cikampek, Jawa Barat, Sabtu (31/3). Lontaran yang keras kembali disampaikan ketika menjadi juru kampanye pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu dalam Pilkada Jabar 2018 di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Minggu (1/4).

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut elite pemerintah, partai politik, pengusaha, hingga cendekiawan bertanggung jawab atas sistem perekonomian neoliberal yang ada di Indonesia. Ia bahkan menyebut kapok dengan elite-elite politik saat ini karena masalah tersebut.

Baru-baru ini, Prabowo bahkan berkelakar menyesal tak jadi melakukan kudeta, sebagaimana tuduhan yang kerap dilayangkan kepadanya. Alasannya, dia prihatin dengan kondisi Indonesia saat ini.

“Terus terang saja dalam hati menyesal juga gue enggak kudeta dulu. Lihat negara kayak begini sekarang. Tapi saya buktikan bahwa saya percaya kepada demokrasi, saya percaya pada UUD 1945,” kata mantan capres 2014 ini. (kat/gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *