AO Bank CTBC Dituntut 7,5 Tahun Penjara, Dua Rekannya 7  Tahun

oleh
Tiga terdakwa kasus pemalsuan dokumen dan kredit fiktif Bank CTBC, dari kiri: Rudi Desmon Tampi (AO), Ade Dian Sanura dan Budi Anak Robert Taning dituntut 7,5 tahun dan7 tahun penjara.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Tiga terdakwa kasus pemalsuan dokumen pengajuan kredit fiktif Bank CTBC Rp 16,3 miliar menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (12/4). Terdakwa Rudi Desmon Tampi selaku Account Offiver (AO) dikenakan hukuman paling berat  7 tahun 6 bulan dan denda Rp 10 miliar.

Tuntutan ini sesuai pasal 49 Ayat 1 Tentang Perbankan. Adapun dua terdakwa lainya yakni, Budi Anak Robert Taning  serta Ade Dian Sanura selaku Sales Officer (SO) masing-masing dituntut hukuman 7 tahun dan denda Rp 10 miliar sesuai pasal 49 Ayat 1 Jo Pasal 55 Ayat 1 dan pasal 64 Ayat 1 KUHP Tentang Perbankan.

JPU Kejari Tanjung Perak Ni Made Astri Utami saat membacakan tuntutanya mengatakan jika ketiga terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan talah melakukan perbuatan melawan hukum dengan cara memalsukan dokument pengajuan kredit fiktif Bank CTBC sesuai yang diatur dalam pasal 49 Ayat 1 Jo Pasal 55 Ayat 1 dan pasal 64 Ayat 1 KUHP Tentang Perbankan.

“Menuntut terdakwa Rudi Desmon Tampi terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar hukum sesuai pasal 49 Ayat 1 Tentang Perbankan dengan hukuman 7 tahun 6 bulan,” kata JPU I Made saat membacakan tuntutan di persidangan.

Menanggapi tuntutan JPU, kuasa Hukum terdakwa, Eko Susianta akan mengajukan pembelaan pada persidangan berikutnya.  Eko menilai bahwa tuntutan 7 tahun 6 bulan seolah terdakwa Rudi Desmon Tampi yang paling bersalah.

Padahal menurutnya, ide dan eksekutor pemalsuan dokumen pengajuan kredit itu adalah terdakwa Budi Anak Robert Taning.

“Yang berperan penting itu si Budi, idenya muncul dari dia serta yang memalsukan dokument tersebut,” ujar Eko Susianto saat dikonfirmasi setelah persidangan.

Eko menambahkan jika tindak pidana pemalsuan dokumen yang merugikan Bank CTBC Jakarta senilai Rp 16,3 miliar yang menyeret tiga terdakwa adalah tindak pidana kolektif.

“Ini tindak pidana yang kolektif. Artinya dari kepala cabang sampai orang-orang yang terlibat, tidak dilibatkan,” ujarnya.

Sebelumnya Eko telah membuat keberatan untuk meminta kepada JPU Farkhan Junaidi pada persidangan pekan lalu untuk menyeret siapa saja yang terlibat dalam perkara ini termasuk kepala cabang Bank CTBC Surabaya Fransisca Leonora Wiharjo.

“Pada saat itu Jaksa pun menjawab akan menyeret siapa saja tetapi sampai dengan sidang berakhir itu tidak terbukti” ujar Eko Susianto.

Disinggung terkait dugaan keterlibatan kepala cabang soal Mou pengajuan kredit yang bekerjasama antara Bank CTBC dengan 13 Perusahaan, Eko menilai bahwa kepala cabang CTBC Surabaya terlibat dalam perjanjian tersebut.

“Terungkap dalam fakta persidangan bahwa Mou itu ditanda tangani oleh pejabat Bank CTBC termasuk Kepala Cabang tersebut. Tetapi sampai dengan sidang kali ini JPU tidak pernah mampu menunjukkan Mou tersebut,” tutur Eko. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *