Gelapkan Sertifikat Tanah Rp 4,5 M, Henry Gunawan Hanya Divonis 8 Bulan

oleh
Bos PT Gala Bumi Perkasa  yang menjadi terdakwa kasus pengelapanHenry J Gunawan mendengarkan majelis hakim membacakan putusannya di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (16/4).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Pemilik PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Henry Jacosity Gunawan dnyatakan terbukti bersalah melakukan penggelapan sertifikat tanah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (16/4). Meski nilai sertifikat dan objek tanahnya cukup besar senilai Rp 4,5 miliar, namun vonis yang dijatuhkan kepada Henrry tergolong ringan, yakni 8 bulan penjara dan 1 tahun masa percobaan.

“Sehingga terdakwa Henry Jacosity Gunawan haruslah dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana penggelapan,” ujar Ketua Majelis Hakim Unggul Mukti Warso saat membacakan amar putusannya pada persidangan diruang Candra  PN Surabaya, Senin (16/4).

Hakim Unggul menyatakan, perbuatan Henry terbukti melanggar pasal 372 KUHP. Menurut hakim, tidak ada alasan yang membenarkan perbuatan pidana  terdakwa Henry

Walau demikian, bos kontraktor Pasar Turi Baru itu hanya menjalani sisa hukuman 8 bulan dipotong masa tahanan. Pengusaha property yang berlatar belakang lulusan Sekolah Dasar (SD) ini hanya divonis hukuman percobaan.

“Menjatuhkan pidana penjara selama 8 bulan dengan masa percobaan selama 1 tahun,” kata Hakim Unggul.

Sebelum menjatuhkan vonis, Hakim Unggul Mukti Warso membacakan pertimbangannya yang  tidak sependapat dengan pembelaan tim penasehat hukum terdakwa Henry.

Pada pertimbangan itu, Hakim Unggul Mukti Warso menyatakan laporan Notaris Caroline C Kalempung benar adanya dan menyatakan keterangan saksi dua petinggi PT Gala Bumi Perkasa (PT GBP), yakni Raja Sirait dan Yuli Ekawati tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

“Keterangan Mantan Dirut PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Raja Sirait dan Staf Legal PT GBP, Yuli Eka Wati tidak berdasar,” tutur Hakim Unggul saat membacakan pertimbangan hukum pada amar putusannya.

Selain membenarkan laporan Notaris Caroline, Hakim Unggul juga membenarkan keabsahan transaksi jual beli dua objek tanah yang dilakukan antara terdakwa Henry Jacosity Gunawan dengan Hermanto.

“Saksi Hermanto sudah membayar lunas dan diterima oleh terdakwa Henry Jacosity Gunawan senilai 4,5 milliar rupiah untuk tanah di Claket Malang dan 500 juta rupiah untuk pembayaran objek di Jalan Teuku Umar Surabaya,” pungkas Hakim Unggul.

Vonis hakim Unggul Mukti Warso ini jauh lebih rendah dari surat tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso dari Kejari Surabaya, yang menuntut terdakwa Henry Jacosity Gunawan dengan hukuman 4 tahun penjara dengan perintah penahanan.

Atas putusan tersebut, pihak terdakwa Henry Jacosity Gunawan melaui tim kuasa hukumnya menyatakan pikir-pikir. “Kami juga pikir pikir,”ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso saat menjawab pertanyaan hakim Unggul.

Dari pantauan selama persidangan, terdakwa Henry Jacosity Gunawan terlihat tegang. Ia berkali-kali menggelengkan kepala dan memandang tim penasehat hukumnya saat Hakim Unggul Mukti Warso membacakan pertimbangan hukumnya.

Henry J Gunawan bisa sedikit bernafas lega setelah majelis hakim hanya menjatuhkan vonis 8 bulan penjara kepadanya dalam kasus penggelapan sertifikat tanah senilai Rp 4,5 miliar.

Usai sidang, Henry bergegas meninggalkan ruang sidang tanpa ada sepatah kata pada awak media. Sementara Siddik Latuconsina selaku tim penasehat hukum terdakwa Henry Jacosity Gunawan tetap kecewa atas putusan hakim meski kliennya mendapat vonis ringan

“Putusan mejelis hakim ini ngambang,”singkat Siddik usai persidangan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kasus pidana ini bermula dari jual beli tanah antara terdakwa Henry Jacosity Gunawan dengan Hermanto, Klien dari Notaris Caroline C Kalempung. Tanah yang dijual belikan itu berada di Claket, Malang Jawa Timur seharga Rp 4,5 miliar dan objek lain di Jalan Teuku Umar Surabaya senilai Rp 500 juta.

Selanjutnya sertifikat tanah di Claket Malang tersebut dipinjam terdakwa Henry di Notaris Caroline C Kalempung guna perpanjangan SHGB. Ironisnya , sertifikat itu tak kunjung dikembalikan dan oleh terdakwa Henry, tanah yang sudah dibayar lunas oleh Hermanto itu justru dijual lagi ke orang lain dengan harga yang lebih tinggi yakni Rp 10,5 miliar. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *