Belum Terjangkau Bantuan, Pengungsi Kelaparan Histeris Minta Makanan

oleh
Para pengungsi korban gempa di Lombok Utara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Tinggal di tenda bekas gempa tahun 2013 silam di atas bukit dan tanpa bantuan apapun, makanan maupun obat-obatan.

GLOBALINDO.CO, LOMBOK – Kondisi warga Lombok Utara, khususnya pengungsi akibat bencana gempa bumi, sangat memprihatinkan. Ribuan pengungsi yang hidup di tenda bekas bantuan gempa 2013 silam harus menahan sakit dan lapar, beberapa di antaranya sampai berteriak histeris meminta makanan.

Ribuan pengungsi di Desa Medana terpaksa tidur di tempat yang tak layak yakni, tenda bekas gempa tahun 2013 silam yang ada di atas bukit. Kondisi memprihatinkan ini karena  belum adanya satu pun bantuan yang datang ke lokasi tersebut usai gempa 7 magnitudo mengguncang Lombok Utara.

“Warga beralaskan seadanya dan memakai bekas baliho dan atap terpal bahkan tidak ada atap sekalipun, kami semua membutuhkan air minum dan MCK umum dan makanan dan selimut karena cuaca sangat dingin dan angin kencang,” sebut Rodi, Senin (6/8).

Ia mengatakan, hingga saat ini untuk bertahan hidup sampai menunggu bantuan datang, warga desa Medana memakan makanan dari sisa yang didapat dari sisa reruntuhan bangunan.

“Tempat belanjar pun tidak ada sama sekali, dan penjarahan terjadi di mana-mana,” tambahnya.

Menurut Rodi, kondisi pengungsi lebih parah dari saat kejadian serupa menimpa wilayah Lombok pada 2013. Selain makanan, obat-obatan adalah bantuan yang paling dibutuhkan di wilayah Medana.

“Kondisi yang luka-luka dan patah tulang sangat memperihatinkan,butuh bantuan obat-obatan dan vitamin, kami tidak berani pergi kemana-mana dan tinggal agak jauh dari kampung kami yang hancur luluh,” ucap Rodi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memperkirakan jumlah pengungsi mencapai 20 ribu orang. Namun berdasarkan data yang tercatat di BNPB saat ini, jumlah pengungsi pascagempa bermagnitudo 6,4 ada 29 Juli 2018 lalu mencapai 10.000 orang.

“Saya belum bisa pastikan. Jumlah pengungsi masih pendataan. Tapi, saya perkirakan lebih dari 20.000 orang,” ujar Sutopo saat memberikan keterangan pers di kantor BNPB, Jakarta Timur, Senin (6/8).

Ia mengatakan, BNPB masih terus melakukan pendataan terkait jumlah pengungsi pasca-gempa bermagnitudo 7 yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (5/8) malam.

Adapun jumlah korban meninggal dunia berdasar data terbaru dari BNPB pada Pukul 17.45 WIB tadi telah bertambah menjadi 98 orang.

“Perkembangan terkini sampai dengan sore ini terdapat jumlah korban meninggal tambahan 7 orang ditemukan di Kabupaten Lombok Barat sehingga total korban 98 orang meninggal dunia. Dimana 96 di Lombok dan 2 orang di Bali,” kata Sutopo. (kun/mun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *