Ada Jenderal Polisi di Balik Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Penyidik KPK, Novel Baswedan mengalami cedera serius di wajah dan harus mendapat perawatan intensif usai disiram air keras oleh dua orang tak dikenal, Selasa (11/4) subuh.

GLOBALINDO.CO, SINGAPURA – Terkatung-katungnya penuntasan kasus penyiraman air keras pada penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan mengundang banyak pertanyaan. Bahkan, ada kesan bahwa pihak kepolisian sengaja membiarkan kasus itu selesai dengan cara menguap begitu saja.

Kesan itu diperkuat oleh pernyataan Novel Baswedan yang menyebut adanya sosok jenderal polisi di belakang kasus penyiraman air keras yang menimpa dirinya.

Pernyataan itu disampaikan Novel Baswedan dalam sebuah wawancara dengan Time.

“Saya memang mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat. Awalnya saya mengira informasi itu salah. Tapi setelah dua bulan dan kasus itu belum juga selesai, saya mengatakan (kepada yang memberi informasi itu), sepertinya informasi itu benar,” kata Novel kepada pewarta Time seperti dikutip globalindo.co, Kamis (15/6/2017).

(Baca Juga: Motor Penyiram Novel Ternyata Milik Polisi, Tapi Pelaku Masih Misterius)

Pernyataan Novel ini diperkuat lagi dengan banyaknya serangan yang mengarah pada dirinya. Hal itu terkait sejumlah kasus korupsi yang ditanganinya.

“Begitu banyak korupsi untuk dilawan,” kata Novel.

Novel hingga kini masih dalam proses penyembuhan terhadap matanya yang terkena siraman air keras. Sebuah pelindung mata terlihat terpasang di wajahnya untuk melindungi penglihatannya yang mulai membaik.

Dalam perhitungan Novel, serangan air keras itu merupakan kali keenam dia mendapat serangan terkait pekerjaannya sebagai penyidik KPK.

Pada 2011, sebuah mobil nyaris menabraknya saat dia mengendarai sepeda motor. Novel sempat berpikir bahwa itu adalah kejadian biasa. Namun, pikiran itu berubah saat kejadian yang sama terulang pada pekan berikutnya.

Terhadap serangan air keras yang terjadi usai dia menunaikan shalat subuh itu, Novel pun berharap polisi bisa segera menemukan pelakunya. Namun, sekitar dua bulan sejak peristiwa itu terjadi, polisi hingga kini belum menemukan pelakunya.

Di sisi lain, Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul menyatakan, seharusnya Novel Baswedan sebagai korban penyerangan air keras menyampaikan setiap informasi penting yang diketahuinya kepada penyidik Polda Metro Jaya yang menangani kasusnya.

Selain agar bisa ditindaklanjuti dan dikroscek kebenarannya, juga untuk menghindari penilaian pernyataan Novel itu sebuah tuduhan atau tudingan kepada pihak tertentu.

“Informasi-informasi yang dianggap penting oleh saudara Novel hendaknya disampaikan kepada penyidik, supaya tidak terjadi sebuah tendensi atau tudingan,” kata Martinus.

“Karena informasi itu kan harus diuji, tidak dibiarkan, kalau diberikan kepada penyidik. Nanti kami akan teruskan, kami akan selidiki,” kata dia.

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian sebelumnya mengatakan, Polri berusaha keras untuk menangkap pelaku teror terhadap Novel Baswedan.

Bahkan, Tito menyebut ada kemungkinan keterlibatan Miryam S Haryani, anggota Komisi II DPR periode 2009-2014 yang saat ini terlibat kasus e-KTP.

Ia mengungkapkan, dalam menangani kasus penyiraman terhadap Novel, polisi menggunakan metode induktif berdasarkan olah TKP dan deduktif berdasarkan orang-orang yang berpotensi terlibat.

Tito menambahkan, dalam penggunaan metode deduktif tadi, sejauh ini polisi telah memeriksa dua orang, yakni Miryam dan Miko yang belakangan muncul melalui videonya di YouTube.

Sedangkan melalui metode induktif, polisi sudah memeriksa tiga orang, di antaranya Muhammad Lestaluhu, dan belum menemukan hasil yang sudah positif.

“Semenjak 11 April, Polri telah membentuk tim gabungan yang berasal dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri dan ini terus bekerja,” ujar Tito.(kcm/ziz)