Agus Martowardojo Pensiun Saat Rupiah Memble Rp 14.200/Dollar

oleh
Gubernur BI, Agus Martowardjojo saat memenuhi panggilan KPK, Selasa (1/11) untuk diperiksa dalam kapasitasnya sebagai mantan Menkeu yang ikut meluluskan anggaran proyek e-KTP Rp 6 triliun.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Agus Martowardojo secara resmi mengakhiri jabatannya sebagai orang nomor satu di bank sentral pada Rabu (23/5/2018) hari ini, setelah lima tahun menjabat.

Anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun meminta pengganti Agus Martowardojo sebagai Gubernur BI mampu mengatasi gejolak nilai tukar rupiah yang kian melemah terhadap dollar AS.

“Selisih dan perjalanan rupiah belakangan ini harus menjadi catatan bagi Gubernur BI baru pengganti Agus,” ujar Misbakhun.

Misbakhun juga memberi catatan kritis bagi kinerja Agus dalam lima tahun belakangan. Agus diangkat menjadi gubernur BI pada Mei 2013 saat kurs dollar AS berada di posisi Rp 9.700. Saat Agus purna bakti, nilai tukar dollar AS mencapai Rp 14.200.

Dengan demikian, ada selisih Rp 4.200 dalam hal kurs dollar AS saat Agus mulai menduduki posisi Gubernur BI dengan akhir masa jabatannya.

Baca Juga: Jokowi Tunjuk Perry Warjiyo Sebagai Gubernur BI Gantikan Agus Martowardojo)

Misbakhun meminta agar Gubernur BI selanjutnya memberi solusi konkrit untuk mengangkat nilai tukar rupiah.

“Angka Rp 14.200 ini akan menjadi sebuah notifikasi baru bagi kita, akan ke mana nilai tukar ini kita dibawa? Apakah kita akan melakukan redominasi, atau akan kita turunkan melalui mekanisme yang ada?” kata Misbakhun.

Misbakhun menambahkan, cadangan devisa RI pada akhir April lalu di angka 124,9 miliar dollar AS. Sedangkan kini jumlah devisa turun menjadi 105,2 miliar dollar AS. Hal tersebut sebagai dampak adanya operasi moneter ketika kurs memasuki zona Rp 14.000.

Misbakhun mempertanyakan efektivitas operasi moneter yang dilakukan BI tersebut. Padahal, kata dia, saat ini BI tak hanya memiliki undang-undang tersendiri, tetapi juga diperkuat dengan UU Transfer Dana dan UU Devisa Bebas.

Menurut Misbakhun, fundamental ekonomi yang kuat seharusnya tak terlalu terpengaruh gejolak di mancanegara. Ia menambahkan, harus ada strategi panjang ke depan untuk membangun bank sentral.

“Review panjang saya ini menjadi bahan refleksi bagaimana BI ke depan dikelola. Bagaimana BI ke depan dijalankan dan dioperasionalkan menjadi kebijakan moneter yang memberi dampak langsung terhadap kemakmuran rakyat,” kata Misbakhun.(kcm/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *