Akibat Terkendala Biaya, Pengobatan Azkiya Terancam Putus

oleh
Tri Setyarini menggendong buah hatinya Azkiya Nur Annisa saat mendatangi gedung DPRD Surabaya. 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sungguh malang nasib yang dialami Azkiya Nur Annisa (22) bulan. Akibat kesulitan biaya balita yang didiagnosa menderita TOF Post Pecutaneous Transcatheter Ballon Valvuloplasty (PTBV) + Ps Berat terancam tidak bisa melanjutkan pengobatannya.

Tri Setyarini (34), ibu kandung Azkiya menuturkan buah hatinya sudah membawa balita Azkiya ke RSUD dr M Soewandhie. Namun, karena keterbatasan peralatan, balita tersebut di rujuk ke RSU Dr Soetomo untuk penanganan lebih lanjut dirujuk Jakarta.

“Pertama di Soewandhie saat umur dua bulan kemudian dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Semua perawatan ditanggung BPJS,” ujar Tri Setyarini saat ditemui gedung DPRD Surabaya, Kamis (11/4/2019).

Diceritakan Tri Setyarini, awal penyakit anaknya diketahui saat berumur dua bulan. Saat itu jari-jari Azkiya terlihat membiru, lalu dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan awal.

Hingga akhirnya balita Azkiya menjalani perawatan di RSU Dr Soetomo karena diagnosa kelainan jantung. Bahkan setelah menjalani CT-Scan, ditemukan pula kelainan lain pada pembuluh darahnya.

Selama hampir dua tahun menjalani perawatan di Dr Soetomo, untuk mencari perbandingan diagnosa, pihak Dr Soetomo menyarankan balita Azkiya dirujuk ke RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Hal inilah yang membuat orang tua merasa keberatan.

Apalagi, untuk diagnosa ke RS Jantung Harapan Kita biayanya sudah tidak ditanggung oleh BPJS. Mengingat sehari-hari dirinya hanya sebagai pekerja di percetakan Titanium, Jl Kali Rungkut. Sementara suaminya Achmad Rusli (36) sebagai ojek online.

“Saya sudah pernah ke Jakarta ke RS Jantung Harapan Kita, tapi hanya tiga hari saja. Padahal kata dokter di sana, saya diharuskan untuk tinggal lebih lama,” jelas Rini yang tidak bisa menutupi kesedihannya itu.

Perempuan yang tinggal di Jl Tambak Wedi Baru XV menuturkan, saat berangkat ke Jakarta hanya berbekal uang Rp 2 juta. Uang tersebut termasuk digunakan untuk membeli tiket dan keperluan lain selama berada di ibu kota.

“Secara kasat mata putri saya ini seperti tidak menderita penyakit. Tapi akibat penyakit yang dideritanya tumbuh kembangnya menjadi lambat. Bahkan duduk saja baru bisa,” imbuhnya.

Demi kesembuhan buah hatinya, Rini mengaku sudah meminta bantuan semua pihak. Mulai dari Wali Kota Surabaya, Gubernur Jatim hingga sejumlah donatur.

“Kami benar-benar tak mampu, kami hanya butuh biaya untuk berobat di Jakarta,” ungkap Rini yang tak mau pengobatan anaknya terhenti.

Ditanya soal hasil diagnosa di RS Jantung Harapan Kita, menurut dia, dokter setempat juga mendiagnosa anaknya terserang cerebral palsy. Hal itu berdasarkan kondisi balita Azkiya yang terlihat terhambat tumbuh kembangnya.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Surabaya, Vincensius Awey yang menerima Rini beserta suaminya Ahmad Rusli langsung menghubungi pihak Dr Soetomo melalui dr Joni Wahyuhadi.

Melalui sambungan seluler, Joni Wahyuhadi menegaskan jika pihaknya masih mampu menangani hal tersebut. Bahkan dr Joni menegaskan, untuk ke RS Jantung Harapan Kita adalah keinginan orang tua balita Azkiya sebagai second opinion.

“Dokter Joni menyarankan pada Senin (15/4) agar orang tua balita untuk meneruskan pengobatannya di Dr Soetomo. Bahkan Rini diminta untuk menggunakan SKTM agar seluruh biaya pengobatannya tercover pemerintah,” jelas Awey. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.