Alfian Tanjung Bantah Sebut Ahok dan Jokowi PKI

oleh
Terdakwa kasus ujaran kebencian, Ustadz Alfian Tanjung menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (20/11).
Terdakwa kasus ujaran kebencian, Ustadz Alfian Tanjung menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (20/11).

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sidang lanjutan kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Ustadz Alfian Tanjung di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (19/11) berlangsung agak tegang. Ketegangan dipicu penasihat hukum terdakwa yang berkali-kali menolak dan menginterupsi jaksa penuntut umum yang sedang membacakan transkrip ceramah Ustadz Alfian di Masjid Mujahidin, Tanjung Perak Surabaya yang sudah diuji tim laboatorium forensik Polrestabes Surabaya.

Mulanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anggara Suryanagara mengajukan pertanyaan terkait hasil transkrip labfor terkait isi cermah terdakwa. Belum tuntas membaca, tim penasehat hukum terdakwa memprotes dengan mengatakan menolak pembacaan hasil transkrip tersebut.

Protes penasehat hukum terdakwa tak dihiraukan. JPU tetap melanjutkan membaca transkrim isi ceramah Ustadz Alfian Tanjung yang lagi-lagi diinterupsi oleh penasehat hukum.

Saling tumpang tindih pernyataan antara jaksa dan penasehat hukum tak terelakkan. Hal ini membuat suasana sidang menjadi agak ribut.

Hingga Ketua Majelis Hakim Dedi Fardiman memperingatkan penasehat hukum dan terdakwa agar tidak menyela keterangan jaksa. Dedi menyatakan, tim penasehat hukum akan diberikan waktu sendiri untuk bicara dan memberikan tanggapan.

“Tolong hormati persidangan ini,” ujar Hakim Dedi, yang meminta jaksa melanjutkan pembacaan hasil transkrip labfor itu.

Sikap hakim Dedi yang mereda suasana debat kusir itu bukanlah sekali saja, sebelumnya hakim Dedi juga meminta agar tim penasehat hukum terdakwa untuk tidak melakukan intruksi saat jaksa melakukan pembuktin perkara ini.

“Ada saatnya buat saudara penasehat hukum untuk mengajukan penolakan, biarkan jaksa melakukan pembuktian,”ucap hakim Dedi pada persidangan.

Terdakwa mengakui telah menulsi sendiri materi ceramahnya di Masjid Mujahidin, Tanjung Perak Surabaya. Hal itu karena menurutnya, panitia tidak memberikan materi dalam ceramah. Terdakwa mengakui materi ceramahnya itu dibuatnya sendiri dengan berbagi sumber yang didapat dari buku.

“Saya ambil dari berbagai literatur buku, Ini buku-bukunya. “Terang terdakwa menjawab pertanyaan para hakim.

Tetapi terdakwa membantah telah menyebut mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Presiden Jokowi sebagai PKI. Ia menyatakan tidak punya dendam pribadi dengan Ahok dan Jokowi.

“Itu bagian dari watak sepihak, tidak ada maksud dan tujuan tertentu. Dan saya tidak ada masalah pribadi,” ujar terdakwa.

Sementara terkait adanya isi ceramah yang menjelekan salah satu etnis golongan juga dibantah oleh terdakwa. Menurutnya, isi ceramah itu merupakan fakta, jika Indonesia dikuasi oleh salah satu etnis tertentu, tanpa menyebutkan etnis yang dimaksud.

“Itu faktanya,” ucapnya.

Terdakwa Alfian Tanjung mengaku tidak mengenal saksi pelapor. Ia pun tidak mengetahui kalau cermahnya itu direkam dan di upload ke You Tube. “Saya taunya saat proses penyelidikan,”ujarnya. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *