Alumni Santri NU Jawa Timur Pertanyakan Seruan Wajib Dukung KIP

oleh
Ketua Jaringan Santri NU Jatim, Abdul Hamid.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Jaringan Santri Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur mempertanyakan adanya seruan wajib bagi Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk mendukung Khofifah Indar Parawansa (KIP) dalam Pilgub Jatim 2018.

Sebelumnya beredar kabar ada seruan wajib dari Kiai Darwies Maszar yang mewajibkan alumni PMII di Jawa Timur untuk memberi dukungan kepada pasangan Khofifah-Emil dalam Pilgub Jatim.

Ketua Jaringan Santri Nahdaltul Ulama (NU) Jawa Timur, Abdul Hamid menyatakan, Kiai Darwies menyebut IKA PMII bekewajiban mendukung Khofifah dalam Pilgub Jatim baik secara kelembagaan maupyn keanggotaan. Alasanya, KIP merupakan alumni PMII.

Padahal, selaku anggota Majelis Pertimbangan PW IKA PMII Jatim tidak seharusnya fatwa semacam itu dikeluarkan dalam pesta demokrasi seperti saat ini. Menurut dia, seruan wajib yang bersifat fardu ain itu di luar nalar.

”Namanya pesta demokrasi, kalau ada seruan wajib apalagi katanya fardu ain ini patut dipertanyakan,” kata Alumni Ponpes Walisongo Situbondo ini, Senin (22/1/2018).

Dia berharap Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memberikan penjelasan tersebut statemen tersebut. ”Hukum fardu ain dalam hal dukung mendukung apakah ini dibenarkan, apalagi dalam pilkada yang sarat muatan kepentingan,” katanya.

Mantan Pengurus PMII Surabaya periode 2013-2014 ini juga menanyakan keabsahan seruan Kiai Darwis tersebut dari sisi kelembagaan, khususnya PWNU Jatim. Sebab, kata dia, para kiai di lingkungan NU biasanya melakkan bahtsul masail terlebih dahulu sebelum mengeluarkan statemen yang bersifat fatwa apalagi berkait dengan wajib tidaknya suatu masalah.

Jaringan Santri NU, katanya, juga menanyakan keberadaan PMII Jatim yang dinilainya sudah terseret arus politik terlalu dalam.

”Ada apa dengan PMII Jatim?, mestinya jadi kontrol sosial, kontrol masyarakat dan kontrol demokrasi sebagai wadah berkumpulnya para mahasiswa, apalagi ini soal suksesi, jangan kemudian larut dalam aksi dukung mendukung,” pungkas Hamid. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *