Anjloknya Harga Gabah Petani di Balik Impor Beras 500 Ribu Ton

oleh
Petani bekerja keras menanam padi hingga panen, meskipun harga gabah cenderung merosot pada bulan Februari 2018. Di sisi lain, dua hari terakhir, pemerintah mendatangkan sekitar 100 ribu ton beras dari Thailand dan Vietnam.

GLOBALINDO.CO, INDRAMAYU – Pemerintah lebih mengutamakan jalan pintas mengimpor beras untuk menjaga ketahanan pangan dibanding mengelola hasil panen petani dan menjaga stabilitas harganya. Karena faktanya, kebijakan impor beras hingga 500 ribu ton di tahun 2018 ini justru membuat harga gabah anjlok.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan  (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengakui, mulai turunnya harga gabah saat ini. Padahal, luas areal yang panen masih di kisaran kurang dari 50 hektare.

Sutatang menilai, tertekannya harga GKP di masa panen perdana itu disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah keputusan pemerintah untuk mengimpor beras dari luar negeri.

“Impor memang membuat harga gabah petani menjadi jatuh, ” kata Sutatang.

Tak bisa dipungkiri,  penurunan harga gabah hasil panen petani nusantara dipengaruhi masuknya beras impor. Selain mulai banyaknya daerah yang panen dan faktor cuaca.

”Harga gabah sekarang sudah mulai turun,” kata salah seorang petani asal Indramayu, Rusdani, Rabu (14/2).

Rusdani mengatakan, harga gabah kering panen (GKP) di ilayahnya, Kecamatan Terisi, saat ini hanya berkisar antara Rp 4.000-Rp 4.500 per kilogram. Padahal pada awal 2018, harga GKP di Kabupaten Indramayu sempat menyentuh Rp 8.000 per kg, naik dibanding harga pada akhir Oktober 2017 rata-rata mencapai Rp 6.000 per kilogram.

Menurut Rusdani, harga gabah ditaksir akan terus melorot saat masa panen yang meningkat pada Maret. Kondisi ini diperparah dengan gempuran beras yang diimpor pemerintah.

”Apalagi ada impor. Pengaruhnya ke harga gabah sangat besar,” tutur ketua kelompok tani Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi itu.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Cirebon. Ribuan ton gabah asal Jateng pun menyerbu penggilingan- penggilingan beras yang ada di daerah tersebut.

”Kebanyakan dari Demak. Tapi ada juga yang berasal dari Tegal dan Brebes,” kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar.

Tasrip menyebutkan, harga GKG di Kabupaten Cirebon semula mencapai Rp 7.500 per kilogram. Namun, harga gabah dari Demak hanya di kisaran RP 6.250 – Rp 6.500 per kilogram. ”Itu gabahnya lumayan kering. Sehari jemur juga sudah kering,” kata Tasrip.

Dalih Impor untuk Penuhi Stok Beras Nasional

Baru-baru ini, sebanyak 60 ribu ton beras asal Thailand mulai masuk ke Indonesia melalui tiga pelabuhan. Masing-masing 10 ribu ton masuk ke Pelabuhan Lampung, 20 ribu ton masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, dan 30 ribu ton masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

“Kemarin Vietnam 57 ribu ton. Jadwal hari ini Thailand,” kata Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati saat berbincang di Jakarta, kemarin.

Sehari sebelumnya, Minggu (11/2), Siti menyatakan 57 ribu ton beras impor asal Vietnam masuk ke Indonesia. Dari jumlah tersebut, 6 ribu ton masuk melalui Pelabuhan Merak, 41 ribu ton melalui Pelabuhan Tanjung Priok, dan 10 ribu ton melalui Pelauhan Tenau, Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sandar Minggu di Merak 6 ribu ton, Tanjung Priok 41 ribu ton dan Tenau NTT 10 ribu ton. Semua dari Vietnam,” ujarnya.

Siti berdalih, beras impor itu tidak akan langsung digelontorkan ke pasaran melalui operasi pasar, melainkan akan dijadikan cadangan beras Bulog dan baru akan didistribusikan bila diperlukan.

“Disimpan sebagai stok,” katanya.

Pernyataan Siti ini menguatkan alasan Presiden Joko Widodo membuka kran impor beras besar-besaran. Pada pertengahan Januari 2018 lalu, Presiden mengatakan, kebijakan impor 500.000 ton beras dilaksanakan demi memperkuat cadangan beras nasional.

“Itu ( impor beras) untuk memperkuat cadangan beras kita agar tidak terjadi gejolak harga di daerah-daerah,” ujar Jokowi di sela kunjungan kerjanya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (15/1).

Sebagai catatan,  untuk perhitungan cadangan beras nasional, pemerintah juga merujuk pada rekomendari organisasi sayap PBB FAO. Lembaga PBB yang mengurusi pangan dunia itumerekomendasikan cadangan beras untuk negara seperti Indonesia 1,1 juta hingga 1,8 juta ton.

Sementara cadangan beras pangan Indonesia pada pertengahan Januari 2018 jauh di bawah itu sehingga dibutuhkan penambahan cadangan. Di sisi lain, panen beras di Indonesia baru dimulai pertengahan Februari 2018 dan berakhir pada Maret 2018 (panen raya).

Total konsumsi beras per tahun di Indonesia 37.700.000 ton. Artinya, konsumsi beras per bulan mencapai sekitar 3,1 juta ton. Hitung-hitungan pemerintah pun, 500.000 ton beras hasil impor itu akan menjadi cadangan  sekitar satu hingga dua pekan saja. (mun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *