Antiklimaks Keputusan Megawati Dukung Gus Ipul-Azwar Anas, Ini Alasannya

oleh
Saifullah Yusuf (tengah ditemani Abdullah Azwar Anas (kiri) menujukkan SK pencalonan sebagai Cagub-Cawabug Jatim dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawti Soekarnoputri (kanan) di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Minggu (15/10).
Saifullah Yusuf (tengah) ditemani Abdullah Azwar Anas (kiri) menunjukkan SK pencalonan sebagai Cagub-Cawagub Jatim dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawti Soekarnoputri (kanan) di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Minggu (15/10).

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Persaingan merebut kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur pada Pilkada 2018 bakal sengit, meski boleh dibilang cenderung monoton. Sebab, kontestasi Pilgub Jatim diprediksi hanya diikuti dua pasang calon setelah PDI Perjuangan akhirnya memutuskan bergabung dengan Partai Kebangkaitan Bangsa mengusung Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas sebagai duet cagub-cawagub.

Sejauh ini, hanya ada satu poros yang mencuat yakni koalisi Golkar, NasDem, PPP dan Hanura serta kemungkinan Partai Demokrat juga akan masuk dalam gerbong ini untuk mengusung Khofifah Indar Parawansa yang belum menentukan cawagubnya. Meskipun ada tiga parpol lain yang juga belum mengumumkan keputusan politiknya masih bisa mengusung satu pasang calon lagi yakni Partai Gerindra, PAN dan PKS.

Keputusan PDI Perjuangan yang akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Gus Ipul dan Azwar Anas sebagai duet cagub-cawagub seolah menjadi antiklimak, setelah beberapa pekan sebelumnya Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan beberapa elit DPP gencar mengunjungi Tri Rismaharini.

Tak pelak, nama Walikota Surabaya itu langsung melejit di bursa cagub Jatim yang bakal diusung PDIP. (Baca: Sekjen DPP PDI-P Isyaratkan Usung Risma dalam Pilgub Jatim).

Namun Megawati Soekarnoputri tentu punya alasan kuat yang melatari keputusannya mendukung Gus Ipul. Satu alasan yang ditegaskan langsung oleh Megawati adalah karena ia merasa mendapat amanah dari mantan Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk mengasuh Gus Ipul.

“Gus Dur titip anak ini kepada saya. Lha kenapa kok saya?” katanya biar pintar. Alhamdulillah, ternyata beliau memang pinter dari dasarnya,” ungkap Megawati saat menyampaikan sambutan dalam acara pengumuman cagub-cawagub Jatim dari PDIP di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (15/10).

Megawati mengaku Gus Dur yang pertama kali mengenalkan dirinya dengan Wakil Gubernur Jatim itu. Karena sejumlah faktor, Megawati mengklaim punya kedekatan dengan mantan Menteri PDT era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jilid I.

“Saya kenal dengan orang ini (Gus Ipul) sudah lama banget. Karena beliau ini punya ikatan darah dengan Gus Dur,” ungkap Megawati didampingi oleh sederet pengurus PDIP. .

“Jadi, dia sudah saya anggap anak angkat saya,” imbuhnya.

Kedekatan Megawati dan Gus Ipul memang bukan sekadar klaim. Gus Ipul  memang pernah menjadi kader PDIP dan menjadi anggota DPR RI dari partai banteng moncong putih itu pada periode 1999-2000.

“Lengkapnya, dia ini adalah anak angkat yang sekarang jadi anak hilang,” sebut Mega yang juga mantan Presiden RI ke-5, ini disambut tawa peserta pertemuan.

Selain kedekatan ini, Gus Ipul juga dinilai memiliki pengalaman kepemimpinan yang lengkap.Di antaranya, pernah menjadi Ketua Umum GP Ansor dua periode dan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, serta yang terakhir menjadi Wakil Gubernur Jatim.

“Saat menjadi Wagub, juga sukses memperoleh 31 penghargaan di bidang transportasi publik dan pelayanan publik,” pujinya. Dengan berbagai alasan itulah, Mega optimis bahwa di bawah kepemimpinan Gus Ipul, Jatim selama lima tahun ke depan akan banyak mengalami peningkatan.

Untuk diketahui, Sabtu (14/10) malam sebelum pengumuman cagub-cawagub ini, Megawati mengundang sejumlah tokoh yang masuk bursa bacagub dan bacawagub dari partainya. Mereka di antaranya, Bupati Trenggalek Emir Dardak, Bupati Ngawi Budi Sulistyono, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat.

Selain itu, Megawati juga mengundang Ketua Umum PBNU KH Aqil Siradj untuk dimintai pendapt terkait kandidat dari NU anatra Khofifah atau Gus Ipul yang layak diusung PDIP.

”Akhirnya kami usung Saifullah Yusuf sebagai calon Gubernur Jatim,” pungkas Megawati.

Pasangan cagub0cawagub Jatim 2018, Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas bergandengan dengan petinggi dua parpol pengusungnya, Sekjen PKB Abdul Kadir Karding (kiri) dan Wasekjen PDIP Ahmad Basarah (kanan).

Keputusan Megawati sontak memancing kritik dari sejumlah pengamat. Salah satunya, pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio. Menurut Hendri, sedang memainkan peran politik baru yang terkesan independen dan berbeda dengan pilihan arus istana.

“Manuver PDI Perjuangan ini cerdas ya, mereka belajar dari hasil pilkada Jakarta bahwa Cagub yang citranya didukung “istana” belum tentu menang dalam perhelatan Pilgub,” ujar Hendri Satrio kepada, Minggu (16/10).

Sebab menurut hasil survei KedaiKOPI ( Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia), masyarakat yang akan memilih parpol pendukung Joko Widodo (Jokowi) hanya sekitar 40%. Namun manuver PDI Perjuangan harus bisa dimanfaatkan Istana agar bisa dapat dicitrakan independen dan lepas dari pengaruh parpol asal Jokowi, yakni PDI Perjuangan.

Hendri berpendapat, keputusan PDIP menduetkan Gus Ipul dan Azwar Anas, merupakan hasil belajar dari Pilkada Jakarta. Dimana, calon gubernur yang citranya didukung istana belum tentu menang dalam perhelatan Pilgub.

Hendri Satrio mengatakan jumlah kursi PDI Perjuangan-Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ibarat duet maut di Jatim. Menurut Hendri, Pilgub Jatim juga akan menjadi lampu kuning buat cagub lain terutama di Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Barat (Jabar) yang kesannya sudah mendapat dukungan istana.

“Saya ragu pasangan calon lain juga tidak akan dapat dukungan PDI Perjuangan,” ujarnya. (bs/bmb)

Rekam Jejak:

  1. Saifullah Yusuf

Anggota DPR pada tahun 1999 (mundur tahun 2001)

– Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (2004-2009)

– Wakil Gubernur Jatim dua periode (2008-2013 dan 2013-2018)

– Sekretaris Jenderal PKB (2002)

– Ketua Umum GP Ansor (Badan Otonomi Nahdlatul Ulama) dua periode (2000-2005 dan 2005-2010)

– Ketua PBNU era Ketum KH Aqil Siradj (sekarang)

  1. Abdullah Azwar Anas

– Anggota DPR (tahun 2004-2009)

– Anggota MPR termuda berusia 24 tahun (tahun 1997).

– Bupati Banyuwangi dua periode (2010-2015 dan 2015-2020)

– Tokoh muda NU Banyuwangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *