Arief Hidayat Serahkan Nasibnya pada Dewan Etik Mahkamah Konstitusi

oleh
Ketua Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat saat berada di Gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus dugaan suap terkait uji materi UU Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan tersangka Hakim Konstitusi Patrialis Akbar.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Arief Hidayat menyerahkan nasibnya pada dewan etik apakah masih layak atau tidak menduduki jabatan sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi. Hal itu menyusul isu yang terus menggelinding soal ketidakprofesionalan Arief dalam memimpin Mahkamah Konstitusi.

“Itu nanti dipelajari sendiri, tanya dewan etiknya saya melanggar apa. Apakah saya harus mundur atau tidak, tanya dewan etik,” kata Arief Hidayat di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (13/3/2018).

Arief sempat diminta mundur oleh bawahannya, Abdul Ghoffar Husnan karena dua kali mendapat sanksi etik.

(Baca Juga: Menunggu Arief Hidayat Mundur dari Jabatannya Sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi)

“Saya sudah katakan yang lalu, saya nggak akan komentar lagi. Saya nggak mau gaduh. MK ini mau nanganin Pilkada. Nanti kalau saya komentar gaduh, nggak elok. Indonesia kalau selalu suuzon gaduh nggak bisa maju. Mari kita melangkah ke depan dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.

Sebelumnya, Ghoffar menilai Arief tidak layak lagi menjadi hakim konstitusi karena 2 kali melanggar kode etik.

“Menyikapi putusan Dewan Etik untuk yang kedua kalinya, seharusnya Arief Hidayat mundur,” kata Ghoffar.

Kedua pelanggaran yang dimaksud yaitu sanksi Dewan Etik pertama tentang katebelece ke pejabat kejaksaan. Kartu kuning kedua yaitu sanksi Dewan Etik tentang pertemuan Arief Hidayat dengan anggota Komisi III DPR di sebuah hotel di Jalan Sudirman, Jakarta. Pertemuan itu jelang fit and propert test Arief Hidayat sebagai hakim konstitusi periode kedua.(dtc/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *