Banyak Sidang ‘Tikus’, Ketua PN Surabaya Berdalih Website Bermasalah

by
Salah satu terdakwa kasus narkoba warga negara Korsel, Park Insung alias Justin Park menjalani sidang dakwaan di PN Surabaya, Rabu (18/10). Sidang ini salah satunya yang nyaris tak terpantau awak media karena tidak ada dalam agenda sidang di website PN Surabaya.
Salah satu terdakwa kasus narkoba warga negara Korsel, Park Insung alias Justin Park menjalani sidang dakwaan di PN Surabaya, Rabu (18/10). Sidang ini salah satunya yang nyaris tak terpantau awak media karena tidak ada dalam agenda sidang di website PN Surabaya.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Pengadilan Negeri Surabaya dicurigai tidak transparan dalam mempublikasikan agenda sidang dan sejumlah kasus yang sedang disidangkan. Kecurigaan itu menguat dari website resmi PN yang sering sulit diakses.

Setiap agenda sidang dan pekara yang sedang ditangani PN Surabaya seharusnya dipublikasikan di sipp.pn-surabaya.go.id. Namun dalam beberapa pekan terakhir, link tersebut sulit diakses publik.

Tercatat ada puluhan sidang yang nyaris tak terpoantau publik dan awak media. Salah satunya persidangan perkara besar seperti sidang kasus narkoba dengan dua terdakwa warga negara Korea Selatan, Park Hae Jin dan Park Insung alias Justin Park, Rabu (18/10) kemarin.

Awak media yang ingin mengetahui detil kasus ini, termasuk dakwaan jaksa kepada dua WNA itu kesulitan mendapat informasi yang jelas dan valid. Website sipp.pn-surabaya.go.id memang bisa diakses pada saat itu, namun tidak ada informasi apapun soal sidang perkara narkoba dua WNA tadi.

Situasi ini sontak menimbukan kecurigaan awak media karena mengira PN melangsungkan sidang secara sembunyi-sembunyi atau tak terjadwal. Dikonfirmasi persoalan ini, petugas bagian informasi PN Surabaya Riris mengakui ada kesalahan dari pihaknya yang tidak memasukkan agenda sidang Park Hae Jin dan Park Insung ke dalam website.

“Sidang Park Hae Jin tertanggal 18 Oktober 2017 belum dimasukkan” ucap Riris saat dikonfirmasi globalindo.co.

Terdakwa lain, Park Hae Jin yang juga teman Park Ingsun menjalani sidang dengan berkas dakwaan terpisah.

Kecurigaan soal sidang ‘tikus’ kasus narkoba ini semakin menguat dari sikap jaksa penuntut umum Kejari Tanjung Perak, Farkhan Junaidi, terkesan menghindari wartawan dan tak mau membeber isi dakwaan. Ia malah menyuruh wartawan untuk melihat langsung isi dakwaan di sipp.pn-surabaya.go.id atau bertanya ke bagian informasi PN Surabaya.

”Langsung lihat ke sipp.pn-surabaya.go.id aja,” ujar Farkhan sembari bergegas pergi.

Sementara Ketua PN Surabaya, Sudjatmiko saat dikonfirmasi maslaah ini menjelaskan, jika website PN Surabaya ada yang otomatis sipp.pn-surabaya.go.id  dan satu lagi  yang cara kerjanya manual sinkron adalah 172.20.129.30/sipp/detil-perkara. Nah, untuk detil perkara narkoba dua WNA tadi bisa dilihat di 172.20.129.30/sipp/detil-perkara.

Sayangnya, website ini diproteksi sehingga tidak semua orang bisa mengaksesnya. ”Website manual ini hanya bisa diakses internal PN yang punya username dan password-nya,” ujar Sudjatmiko.

Keberadaan dua website PN Surabaya ini justru semakin menambah kecurigaan. Pasalnya, bisa saja internal PN hanya memasukkan agenda sidang dan detil perkara di website manual singkron, tapi tidak ada dalam link yang terbuka untuk publik, sipp.pn-surabaya.go.id.

Faktanya memang, isi dari kedua website itu tidak sama. Tetapi Sudjatmiko membantah keberadaan dua website dengan isi yang tidak sama itu sengaja untuk menyembunyikan perkara tertentu.

Menurutnya, perbedaan isi dari dua website itu karena hosting website yang otomatis, sipp.pn-surabaya.go.id sedang bermasalah. Ia berdalih website otomatis ini sering terputus ketika diakses.

”Hostingnya memang gak bagus, butuh perbaikan,” kelit Sudjatmiko.

Karena itu, pihaknya akan membenahi bahkan berencana mengganti hosting. ”Kasus yang kami tangani banyak, pengadilan se-indonesia terpadat kita kok, makanya kita perlu pindah hosting,” tutupnya. (ady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *