Bareskrim Cium Jejak Parpol di Balik Saracen

No comment 107 views

Asma Dewi (tengah), tersangka kasus menyebarkan ujaran kebencian yang tehubung dengan Grup Saracen bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subainto (kiri) dan beberapa orang lain.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Aktor intelektual di balik operasi pabrik hoax, Saracen segera terungkap. Indikasi kuat penggerak Saracen mengarah  partai politik tertentu.

Kasubdit I Tipid Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar mengaku penyidik telah menemukan jejak kelompok besar yang mengendalikan Saracen. Bahkan ada sinyal parpol yang mendalangi grup penyebar hoax di media sosial itu.

“Pengendali kelompok besar itu seorang politisi yang berasal dari sebuah partai politik. Dari analisis dan hasil pemeriksaan yang kami lakukan, nanti ketahuan,” kata Irwan, Selasa (19/9).

Irwan mengatakan, Saracen merupakan bagian dari kelompok besar yang saling terhubung dengan sel lain dan bermunculan sejak lima tahun lalu itu terhubung satu sama lain. Saracen sendiri membiakkan 800 ribu akun untuk menyebar ujaran kebencian di media sosial.

“Semuanya berpusat ke satu kelompok di atasnya dan ada ruang-ruang yang menghubungkan antar mereka,” ujarnya.

Akun jaringan Saracen di Facebook, antara lain Saracen News, Saracen Cyber Team, dan Saracennewscom. Kelompok Saracen diduga menawarkan jasa penyebaran ujaran kebencian bernuansa SARA di media sosial.

Sebelumnya, polisi menangkap Jasriadi, Muhamad Faizal Tanong, dan Sri Rahayu Ningsih pada rentang 21 Juli-7 Agustus 2017 serta Asma Dewi di 8 September 2017. Jejak Asma Dewi di Saracen yang terhubung langsung dengan Jasriadi (Ketua) terendus dari bukti transaksi senilai Rp 75 juta untuk menggunakan jasa Saracen.

Untuk tersangka Jasriadi, kata Irwan, penyidik telah membuktikan yang bersangkutan memiliki relasi luas dengan politisi dan media massa. Hubungan itulah yang membuat Jasriadi memiliki keterampilan menulis dan melek politik.

“Dia belajar autodidak. Jasriadi bahkan membuat pelatihan khusus cara-cara menulis ujaran kebencian di Hambalang. Dia sempat hendak menjadi pemateri sebuah pelatihan, tetapi keburu kami tangkap. Kami fokus pada tindak pidana yang dilakukannya,” ujar Irwan.

Irwan menambahkan, Saracen kerap mengubah nama dalam kegiatannya menyebarkan ujaran kebencian. Beberapa nama mereka antara lain Keranda Ahok Jokowi, Pendukung Anies-Sandi, Saracen, dan NKRI Harga Mati.

“Kami telusuri semua itu. Sekarang kan dampaknya,” imbuh Irwan.

Kabag Penum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul menambahkan, berkas perkara atas nama Muhammad Faizal Tanong telah lengkap dan segera masuk ke tahap penuntutan.

“Jumat (15/9) kejaksaan memberi tahu berkas tersangka sudah lengkap atau P-21. Berkas Jasriadi masih harus dilengkapi. Kejaksaan telah menerima berkas tersangka Sri Rahayu Ningsih dengan dugaan penghina Presiden melalui Facebook. Adapun penyerahan tersangka dan barang bukti dilaksanakan Selasa (26/9),” tutur Martinus.

Jaksa Agung M Prasetyo mengakui pihaknya sudah meminta fatwa dari Mahkamah Agung untuk menggelar persidangan Sri Rahayu Ningsih di PN Jakarta Selatan kendati peristiwanya (locus delicti) berlangsung di Cianjur, Jawa Barat. Sri Rahayu Ningsih menjadi tersangka dalam dua kasus, yaitu penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo di jejaring sosial Facebook dan keterlibatannya sebagai pengelola Grup Saracen. (met/nad)