Bareskrim Tetapkan Dirut PT Garam Tersangka

No comment 94 views

Direktur Utama PT Garam Persero, Achmad Boediono ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyimpangan imor dan distribusi garam 75.000 ton.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menetapkan Direktur Utama PT Garam Persero, Achmad Boediono dan Direktur Operasional PT Garam sebagai tersangka kasus dugaan penyimpangan impor dan distribusi garam industri. Dalam penggeledahan di kantor PT Garam, Jalan Arif Rahman 93, Surabaya, Jawa Timur, penyidik  menyita sejumlah dokumen dan komputer dari ruang kerja Bediono.

Bareskrim menerjunakn enam penyidik untukmelakukan penggeledahan di ruang Direktur Utama dan Direktur Operasional PT Garam.  “Penggeledahan berlangsung kurang lebih selama tujuh jam,” kata Direktur Tipideksus Brigjen Pol Agung Setya, dalam keterangannya, Jumat (16/6).

Dari ruangan Boediono, penyidik menyita laptop atau komputer. Agung menyebut, komputer itu diduga menyimpan data-data yang terkait dengan distribusi impor garam.

Dirut PT Garam dan Direktur Operssional disangka menyelewengkan garam industri sebanyak 75.000 ton. Dirut PT Garam disangka melanggar pasal berlapis. Antara lain; Pasal 62 Undang-undang Perlindungan Konsumen, Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 3 poin ke-5 UU Pencegahan dan Pemberantasan TPPU dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Dalam penyidikan kasus ini, Bareskrim sudah memeriksa sejumlah saksi dan menyita do­kumen terkait. “Penyidik masih menganalisa seluruh dokumen yang ada,” kata Agung.

Sebelumnya tersangka Achmad Boediono mengatakan impor garam di Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 3 juta ton. Angka itu bertambah dari tahun sebelum­nya yakni 2,1 juta ton.

Dari jumlah itu, 1,7 juta ton di antaranya untuk kebutuhan industri kimia. Sedangkan kebu­tuhan garam untuk industri pan­gan antara 350.000 ton-400.000 ton per tahun.

Selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Garam bertugas mengimpor garam konsumsi guna memenuhi kebutuhan garam nasional. Namun, sesuai sesuai Surat Persetujuan Import dari Kemeterian Perdagangan, yang diimpor oleh PT Garam adalah garam industri dengan kadar NaCL diatas 97%.

Sebanyak 1000 ton garam industri import sudah dikemas dalam kemasan 400 gram dengan merek garam Cap Segi Tiga G, lalu dijual untuk konsumsi. Sedangkan, 74.000 ton sisanya, diperdagangkan atau didistribusikan kepada 45 perusahaan lain.

Mengacu Pasal 10 Peraturan Menteri Perdagangan nomor 125 tahun 2015, tentang ketentuan importasi Garam, importir garam industri dilarang memperdagangkan atau memindahtangankan garam industri kepada pihak lain. (met/gbi)