Begini Cara Kerja Sindikat Saracen

No comment 178 views

Inilah tiga tersangka pengendali grup Saracen, sindikat penyebar isu SARA, Jasariadi (32), Muhammad Faizal Tonong (43), dan Sri Rahayu Ningsih (32).

 

GLOBALINDO, CO, JAKARTA – Sindikat kejahatan cyber penyebar fitnah dan SARA, Saracen, tengah menjadi sorotan banyak pihak. Berdiri sejak tahun 2015 dan punya 800 ribu akun mdia sosial, komplotan kelompok cyber crime ini telah bekerja secara teroganisir sesuai pembagian tugasnya masing-masing.

Kasubag Satgas Patroli Siber Bareskrim Mabes Polri, AKBP Susatyo Purnomo, menerangkan grup Saracen di Facebook Saracen berfungsi  sebagai grup induk dari cabang-cabang grup lainnya. Susatyo menegaskan bahwa grup Saracen sangat banyak hingga dioperasikan di berbagai daerah.

“Sejauh ini yang ditemukan sebanyak 800 ribu akun,” katanya hari ini (Kamis, 24/8).

Saracen dikendalikan tiga orang sebagai aktor utama, yakni Jasariadi (32), Muhammad Faizal Tonong (43), dan Sri Rahayu Ningsih (32). Ketiganya telah ditangkap Subdit Cyber Crime Bareskrim Polri.

Susatyo mengungkapkan, Jasriadi menjadi penanggung jawab situs saracennews.com yang isinya banyak mengkritik pemerintah. Jasriadi memiliki keahlian tersendiri dibanding yang lainnya. Jasriadi bukan hanya menjadi pendiri tapi juga ketua sindikat tersebut.

“Dia punya kemampuan untuk me-recovery, dengan kata lain kalau akun ditutup, maka dibuka lagi. Ia juga punya kemampuan mengambil alih akun orang lain,” terang Susatyo.

Awalnya Jasriadi membuat grup Saracen dan berusaha meyakinkan orang untuk masuk ke dalam grup tersebut. Caranya, menurut Susatyo, dengan membuat kiriman-kiriman di Facebook yang bernada provokasi dan sebagainya.

“Dia juga membantu para anggota untuk membuat akun, baik akun asli, semi anonim, ataupun anonim,” beber Susatyo.

Dalam struktur organisasi yang tercantum di situs saracennews.com, Jassriadi selaku penanggung jawab sekaligus Ketua Saracen membawahi beberapa posisi yang diisi orang-orang kompeten di bidangnya, terutama IT.

Dalam struktur organisasi, nama pengacara kondang Eggi Sudjana tertulis sebagai Dewan Penasehat bersama Mayjend TNI AD (Purn) Ampi Tanudjiwa. (Baca: Heboh Kelompok Buzzer SARA Saracen, Ini Struktur Organisasinya).

Struktur organisasi Saracen yang termuat dalam situs www.saracennews.com

Sedangkan tersangka kedua, Muhammad Faizal Tonong, berperan sebagai bagian dari media informasi. Faizal ditangkap pada 20 Juli 2017 silam di Koja, Jakarta Utara. Menurut ahli bahasa yang menjadi saksi ahli Polri, status Facebook Faizal telah memenuhi unsur ujaran kebencian.

“Dia (MFT) melihat tren pemberitaan, [dari sanalah] lalu dia membuat meme. Nah nanti bagian koordinator wilayah (Sri Rahayu) yang menyebarkannya di berbagai grup,” terangnya.

Sri Rahayu Ningsih ditangkap tanggal 5 Agustus di Desa Cipendawa, Cianjur. Peran Sri Rahayu juga penting karena merupakan bagian dari koordinator wilayah Cianjur.

Menurut Susatyo, ketiga tersangka tadi mempelajari keterampilan membuat konten berisi ujaran kebencian, khususnya terkait SARA, secara otodidak. Sebagian produknya adalah meme dan gambar yang sudah diedit untuk mengarahkan pembaca pada posisi tertentu.

Susatyo menegaskan penyebaran ujaran kebencian ini dilakukan dengan licin. Dengan internet, mereka mempunyai kesempatan bergerak dengan leluasa tanpa dianggap ganjil oleh tetangga/kenalannya.

Sehari-hari ketiga tersangka bekerja sebagai wiraswasta. Hanya Jasriadi yang memiliki usaha rental mobil dan tempat les. Jasriadi ditangkap di Riau, Faizal di Koja, dan Sri Rahayu di Cianjur, ketiganya memang warga daerah yang menjadi lokasi penangkapannya. Jasriadi tinggal bersama orang tuanya, sedang Faizal dan Sri Rahayu sudah berumah tangga dan mempunyai anak. Susatyo belum mengetahui apakah keluarganya juga terlibat dalam usaha ini.

Selama tinggal di daerahnya masing-masing, Susatyo mengatakan belum pernah ada warga yang mengadukan pernah ditawari untuk memakai jasa Saracen membuat ujaran kebencian terkait SARA.

“Gak ada yang tahu juga, Mas. Tahunya mereka baik-baik aja,” jelasnya.

Inilah yang membuat sulit mendeteksi aktifitas mereka. Sejak awal 2017 saja, Susatyo mengaku sudah  58 tersangka pelaku ujaran kebencian, namun Grup Saracen malah tidak terdeteksi.

Sampai saat ini, Divisi Siber Bareskrim Mabes Pori masih mendalami sejak kapan struktur organisasi Saracen ini terbentuk. “Banyak yang menggunakan nama Saracen. Tapi, memang Jasriadi yang mengepalai semuanya,” lanjutnya.

Perlu diketahui, proposal penawaran pembuatan konten ujaran kebencian yang ditemukan Bareskrim nilainya mencapai harga puluhan juta, ada yang sampai Rp 75 juta sampai Rp 100 juta. Susatyo mengaku belum bisa menaksir besar keuntungan yang diraih mereka.

“(Rumah mereka) tidak mewah, biasa saja,” katanya. Ketiga tersangka dikatakan memang memiliki kendaraan pribadi, itu pun tidak terbilang mewah. “Ya, dalam keadaan seperti itu (800 anggota Saracen), juga kan harus berbagi dengan banyak orang, dan sebagainya,” lanjutnya.

Grup Saracen kini mulai ditinggalkan. “Sejak pengungkapan ini banyak yang keluar dari grup Saracen,” kata Susatyo. (tir/gbi)