Begini Komentar Khofifah Jika Bersaing dengan Risma

Momen saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) menemui Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di kediamannya pada kampanye Pilwali Kota Surabaya tahun 2016 silam.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Dinamika politik bursa calon Gubernur Jawa Timur semakin menggeliat. Di tengah berjalannya perhitungan mundur PDIP yang akan mengumumkan cagubnya pada 15 Oktober nanti, kandaidat kuat yang diusung Partai Golkar dan NasDem, Khofifah Indar Parawansa mengomentari kemungkinan persaingannya dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Bagi Khofifah, barangkali rival politiknya yang abadi tetaplah Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. Alasannya bukan lantaran Khofifah menganggap Gus Ipul pesaing terberat, melainkan karena Ketua Umum Muslimat NU itu merasa tidak dalam posisi head to head dengan Risma.

“Saya bagian yang support beliau,” ujar Khofifah di Kantor DPP Partai Nasdem, Jalan RP Soeroso, Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (11/10).

Hal itu mengingat hubungannya dengan Risma selama ini sangat dekat. Menteri Sosial di Kabinet Kerja Jokowi-JK ini juga mengaku tak jarang dimintai tolong oleh Risma dalam panggung politik. Termasuk saat Risma maju sebagai calon Walikota Surabaya untuk periode keduanya tahun 2016 lalu sempat meminta bantuan Khofifah untuk mendulang suara di basis massa Muslimat NU.

“Saya dikasih peta basisnya Muslimat NU. (Risma bilang) ‘Mbak ini di basis NU saya kedodoran tolong dong’, pada running second periode. Beliau humble,” tuturnya .

Hingga sekarang, Khofifah mengaku masih berkomunikasi dengan Risma. Hanya saja kalau urusan politik, perempuan tentunya memiliki cara lebih lembut.

“Dan itu tetap berjalan sesuai dengan proses demokrasi yang kualitatif. Itu komitmen kita bersama,” ungkapnya.

Nama Risma mencuat di bursa cagub Jatim setelah petinggi DPP PDIP memberi sinyal kuat untuk mengusung walikota perempuan pertama di Surabaya itu. (Baca: Ultimatum PDIP Mentahkan Gus Ipul, Muluskan Jalan Risma).

Hasto mengaku DPP memang melibatkan Risma langsung dalam pembahasan paslon untuk Pilkada Jatim 2018. Hal itu sesuai arahan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Kami akan mengumumkan hari Minggu (15 Oktober) 2017 terhadap paslon gubernur dan wakil gubernur Jatim,” kata Sekjen PDIP Perjuangan Hasto Kristiyanto saat menemui Risma di rumah dinasnya, Senin (9/10) kemarin.

Sayangnya, keinginan Megawati dan elit PDIP belum mendapat respon positif dari Risma. Mantan Kepala Bappeko Surabaya itu masih teguh pendirian tak mau dicalonkan di Pilgub Jatim. (Baca: Jadi Pemimpin Berat, Risma Lebih Pilih DKI Daripada Jatim).

Di pihak lain, salah satu parpol pengusung Khofifah, Partai NasDem mengklaim mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden Gus Dur telah mengantongi dukungan lima partai. Selain NasDem, empat parpol lain yang diklaim dukung Khofifah adalah  Hanura, Golkar, PPP dan Partai Demokrat.

“Jadi formasi itu cukup kuat secara dukungan politik,” ungkap Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Johnny G Platkepada wartawan di Kantor DPP Partai Nasdem, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (11/10).

Pihaknya berharap, dukungan dari lima parpol dapat mendukung kerja Khofifah dalam mempersiapkan pilkada. Dukungan dari lima parpol juga diharap mampu meningkatkan elektabilitas Khofifah.

Pada Rabu (11/10) sore, Khofifah bertemu dengan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh. Dalam pertemuan itu, Surya menegaskan dukungannya kepada Khofifah menjadi cagub Jatim.

“Nasdem sudah memberi dukungan kepada Bu Khofifah untuk maju pada Pilkada 2018 sebagai Cagub Jatim. Kami menaruh harapan besar dan misi besar Nasdem agar bisa diamanatkan kepada Khofifah menyangkut gerakan perubahan bagi bangsa ini,” jelas Surya, tadi sore.

Paloh menambhakan, partainya memberi waktu kepada Khofifah untuk menentukan cawagub pasangannya. Selain itu, koalisi dengan parpol lain yang akan mengusung Khofifah masih terus dijajaki oleh Nasdem.

“Mudah-mudahan tidak terlalu lama Bu Khofifah menetapkan wakilnya. (bs/bmb)