Bekas Pengacara dan Dokter Setnov Jadi Tersangka Manipulasi Rekam Medis dan Halangi Penyidikan

dr Bimanesh Sutarjo (kiri) dan pengacara Frederich Yunadi (kanan) pernah melindungi Setya Novanto dari penyidikan KPK terkait kasus korupsi proyek e-KTP.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi menjerat mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi dan dokter RS Permata Hijau yang memanipulasi data rekam medis pasca kecelakaan,  dr Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka. Keduanya diduga membantu Setya Novanto untuk menghambat proses penyidikan.

KPK menjerat kedua tersangka dijerat KPK dengan Pasal 21 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Pasal 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Keduanya diancam 12 tahun penjara.

“FY dan BST diduga bekerja sama untuk memasukkan tersangka SN ke salah satu RS untuk dilakukan rawat inap dengan data medis yang sudah dimanipulasi sedemikian rupa,” ujar Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (10/1).

Penetapan status tersangka Fredrich dan dokter Bimanesh dilakukan setelah KPK memeriksa 35 orang saksi dan ahli pada penyelidikan. KPK juga sudah mengirimkan surat permintaan cegah terhadap keduanya pada 8 Januari untuk masa cegah 6 bulan.

Dari hasil pemeriksaan puluhan saksi itulah, KPK menemukan perbuatan tersangka telah menghalangi penyidikan kasus korupsi yang dilakukan Novanto. Pengacara Fredrich Yunadi ditengarai memesan satu lantai Rumah Sakit Medika Permata Hijau sebelum Novanto dirawat.

Basaria menceritakan adanya kejanggalan yang terjadi di Rumah Sakit Permata Hijau saat menangani Setnov. Hal ini terlihat Setnov tak langsung dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), namun langsung dimasukan kedalam ruang VIP yang telah dipesan oleh Fredrich.

Fredrich diduga telah datang terlebih dulu ke RS Medika Permata Hijau untuk memesan ruang VIP sebelum Setnov ke rumah sakit tersebut. Perbuatan tersebut dinilai bagian dari upaya melindungi Novanto yang saat itu tengah dicari oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

“Salah satu dokter di rumah sakit mendapat telepon dari orang yang diduga pengacara SN, bahwa SN akan dirawat di RS sekitar pukul 21.00, dan meminta kamar perawatan VIP yg rencana akan di boking satu lantai,” kata Basaria. Sehari sebelumnya, KPK tengah mencari Setnov untuk diperiksa sebagai tersangka kasus korupsi KTP elektronik.

Mendengar ada kecelakaan, Tim KPK kemudian menuju rumah sakit tersebut. Namun saat itu tim KPK mengalami kesulitan untuk mendapatkan informasi.

“Penyidik juga mendapatkan kendala ketika melakukan pengecekan informasi peristiwa kecelakaan dan berlanjut perwatan medis di RS Medika Permata Hijau,” ungkapnya.

KPK kemudian menetapkan status buron pada Setnov. Tak ditemukan, Setnov belakangan diketahui kecelakaan dan dirawat di RS Medika Permata Hijau.

Perbuatan keduanya diduga untuk menghindari panggilan penyidik KPK. Saat itu Novanto memang berulang kali tak memenuhi panggilan penyidik KPK.

“Untuk menghindari panggilan penyidik KPK,” ucap Basaria. (cni/nad)