Bekraf Optimis Bisa Menjadi Tulang Punggung Perekonomian Nasional

Kepala Bekraf, Triawan Munaf (dua dari kiri) bersama Rektor ITS Joni Hermana saat melihat sejumlah stan dalam Creative Talk.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan kreatif di masyarakat. Salah satunya dengan menggandeng sejumlah kampus dan lembaga swasta.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf menuturkan, ekonomi kreatif memiliki peluang yang cukup besar untuk bisa menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Bahkan peluangnya bisa mengalahkan Sumber Daya Alam (SDA).

“Dengan dukungan dari pemerintah yang tepat, kami optimis bisa mewujudkannya,” ujar Triawan Munaf, saat membuka Creative Talk dalam rangkaian acara Suroboyo Creative Week 2017, Selasa (10/10/2017).

Menurut Triawan Munaf, ada sejumlah kendala yang membuat ekonomi kreatif sulit berkembang di tanah air. Salah satunya sektor perpajakan yang belum mendukung.

Triawan kemudian mencontohkan pajak hasil karya yang diciptakan oleh seorang musisi. Selama ini tidak ada jaminan apakah pajak yang telah dibayarkan sudah disetorkan atau belum.

“Karena tidak ada jaminan musisi biasanya harus membayar pajak dua kali. Langkah protektif inilah yang tidak ada,” sesalnya.

Dalam kesempatan itu, Triawan menyarankan pemerintah Indonesia mencontoh langkah yang diambil Tiongkok dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di negeri tirai bambu. Dimana Tiongkok memproteksi masuknya sejumlah aplikasi dari luar seperti What’s Up dan Facebook.

“Karena dilarang akhirnya Tiongkok membuat aplikasi sendiri. Hasilnya, start up di sana bisa berkembang dengan pesat,” ungkapnya.

Sementara terkait acara Creative Talk dalam rangkaian acara Suroboyo Creative Week 2017, Triawan mengaku bangga dengan acara yang digagas oleh sejumlah anak muda ini. Dia berharap acara kali ini bisa menjadi contoh bagi generasi muda yang lain.

“Kami mengapresiasi acara ini yang melibatkan pemuda atau mahasiswa untuk masuk di dunia ekonomi kreatif. Dan kami berupaya agar ekonomi kreatif dapat tumbuh subur di masyarakat,” kata Triawan.

Sementara itu, Rektor ITS, Joni Hermana mengaku sangat mengapresiasi dengan andanya becraf yang bisa menjembatani para kreator kreatif yang ada di surabaya khususnya para mahasiswa.

“Saya kira ini, sangat stategis sekali, selama ini kita hanya brekreasi untuk dilombakan kita hanya berhenti di situ,” ujar Joni Heremana.

Joni Hermana mengingatkan, maju tidaknya ekonomi kreatif tidak bisa dilihat dari prestasi atau penghargaan yang telah diraih. Namun, yang terpenting adalah langkah selanjutnya.

“Tidak boleh puas setelah dapat penghargaan. Keberadaan becraf harus bisa menjadi wadah dan bisa menaungi para pekerja kreatif,” pungkasnya. (bmb/gbi)