Benteng Kokoh Setya Novanto Runtuh

No comment 29 views

Dua advokat tangguh Otto Hasibuan dan Frederich Yunadi menyatakan mundur dari tim pengacara Setya Novanto.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Benteng pertahanan Setya Novanto mulai runtuh. Satu per satu pengacara yang selama ini menjadi bemper  Ketua DPR dalam menghadapi kasus korupsi e-KTP) mengundurkan diri.

Pengacara Fredrich Yunadi menyusul Otto Hasibuan menyatakan mundur dari tim kuasa hukum Ketua DPR Setya Novanto. Frederich telah menyampaikan langsung keputusannya mundur kepada Novanto di Rumah Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis kemarin (7/12).

“Sudah-sudah, secara lisan kemarin sudah beritahukan (kepada Setya Novanto),” kata Fredrich, Jumat (8/12).

Pengunduran diri Frederich ini cukup mengejutkan. Pasalnya, dialah di antara tim pengacraa Novanto yang selama ini paling kuat membentengi Ketua Umum Partai Golkar dari berbagai serangan hukum dan isu miring.  Menurutnya, terhitung hari ini dirinya sudah tidak lagi mendampingi Ketua Umum nonaktif Partai Golkar itu dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP.

“Untuk kasus yang disidik KPK ditangan Maqdir, saya dan rekan Otto mengundurkan diri,” tuturnya.

Selanjutnya, kata Fredrich, politii yang mulai ppopuler dengan sebutan ‘Papa’ itu hanya didampingi oleh pengacara Maqdir Ismail. Fredrich meminta pertanyaan seputar permasalahan yang berkaitan dengan Setnov dikonfirmasi kepada Maqdir, selaku kuasa hukum yang baru.

“Ini kan ditangani Maqdir. Lain kali kalau ada apa-apa tanya Maqdir ya,” ujarnya.

Fredrich menyatakan, tak ada masalah dengan Setnov sehingga memutuskan untuk mundur mendampinginya dalam proses hukum kasus korupsi e-KTP. Frederich mengaku, Setnov telah menerima keputusan dirinya tersebut.

“Beliau (Setnov) terima, enggak ada masalah apa-apa. Kita sama Pak SN juga tidak ada perbedaan pendapat, tapi ya karena ada sesuatu hal yang kita enggak bisa lakukan,” katanya.

Sebelumnya, Otto menyampaikan secara resmi pengunduran dirinya sebagai kuasa hukum Setnov di Gedung KPK. Otto merasa tidak ada kesempatan lagi untuk menghindarkan Novanto dari jerat kasus megakorupsi e-KTP senilai Rp 2,3 triliun.

Apalagi setelah Pengadilan Tipikor Jakarta sudah menerima berkas tuntutan jaksa KPK terhadap Novanto dan sidangnya akan dimulai Rabu pekan depan (13/12). (Baca: Setya Novanto Sudah Terdakwa, KPK Minta Hakim Gugurkan Praperadilan).

“Saya kira ini kan KPK berhak kalau mau melimpahkan. Memang nanti ada persoalan-persoalan hukum yang akan timbul, tapi itu kan nanti di pengadilan kan,” kata Otto.