Berhati Santri, Ini Profil Menteri Perdagangan Agus Suparmanto

oleh
Agus Suparmanto saat dipanggil ke istana oleh Presiden Jokowi. 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Sosok Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto menjadi salah satu kejutan dalam daftar “Kabinet Indonesia Maju” periode 2019-2024 yang diumumkan Presiden Joko Widodo.

Menengok rekam jejak yang dimilikinya, Agus Suparmanto memiliki segudang pengalaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pria kelahiran Jakarta 23 Desember 1965 itu memiliki pengalaman beragam sebagai seorang pengusaha profesional dan CEO di berbagai perusahan.

Agus Suparmanto, menghabiskan masa kecilnya di Kota Jakarta. Bersekolah di SD Budhaya Jakarta, SMPN 14 Jakarta, SMAN 8 Jakarta, dan Pendidikan S1 di Universitas Nasional. Sempat juga menimba ilmu agama di Pondok Pesantren di salah satu Kota Kecil di Jawa Timur.

Saat diberikan tugas menjadi Menteri Perdagangan oleh Presiden Jokowi, sebagai seorang santri yang berjiwa pengusaha, Agus Suparmanto menerima karena pesan dan ajaran para kyai agar santri meningkatkan kemampuan untuk mengisi pembangungan, menghilangkan kemiskinan dan membangun kesejahteraan rakyat.

Selain sebagai pengusaha, Agus Suparmanto juga aktif pada kegiatan organisasi keolahragaan. Pada 2014 ditunjuk sebagai Ketua Umum PB Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) periode tahun 2014-2018 dan berlanjut lagi periode 2019-2022.

Di tingkat Asia, melalui General Assembly di Tokyo, Jepang, Agus Suparmanto terpilih sebagai Wakil Presiden FCA ((Fencing Confederation Of Asia/konfederasi Anggar seluruh Asia) periode Tahun 2017- 2020.

Sebelumnya, ketika bertemu Presiden Jokowi, Agus mengaku ditugasi mengurus sektor perdagangan.

“Setelah pengarahan dari bapak presiden tadi ditugaskan bapak presiden ada unsur bidang ekonomi. Diskusi berkaitan dengan komoditas dalam negeri, luar negeri, dan juga internasional,” ujar Agus di Istana Kepresidenan, Selasa (22/10/2019).

Hal yang terpenting baginya ialah membantu Presiden Jokowi untuk menggenjot ekspor dan neraca perdagangan Indonesia terhadap negara lain.

“Tetap, program bapak presiden memajukan komoditas dalam negeri sehingga ekspor lebih baik. Intinya yang memiliki keterkaitan dengan yang bisa diekspor,” kata Agus waktu itu. (ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.