Bos CV Lem Indo Solution Bantah Kirim Tagihan, Korban Beber Bukti Nota

oleh
Korban Salim Himawan Saputra (kanan) bersaksi di sidang terdakwa penipuan Leny Anggreini (pakai rompi tahanan, kiri) di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (27/3).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Bukti penipuan dan  penggelapan duit oleh terdakwa Leny Anggreini mulai diungkap di persidangan, Selasa (27/3). Adalah korban Salim Himawan Saputra saat bersaksi di sidang yang membeber bukti nota tagihan Rp 500 juta dari terdakwa.

“Ini bukti nota tagihannya. Di amplop ini ada tulisan tangan Leny yang bertuliskan isi suratnya adalah Nota Tagihan dan ada stempel pengiriman Express dari Kantor Pos,” ujar saksi Salim Himawan Saputra sembari memperlihatkanya kepada majlis hakim di Pengadilan Negeri, Selasa (27/3).

“Bisa di cek di Kantor Pos dan kalau perlu bisa di test lab bahwa ini semua adalah benar tulisan tangan dari terdakwa Leny,” tambahnya.

Direktur PT Guna Karya Pembangunan itu menunjukkan nota tagihan di hadapan majelis hakim setelah terdakwa Leny Anggreini mempertanyakan tuduhan penipuan. Sebelumnya, terdakwa yang juga bos CV Lem Indo Solution Surabaya merasa tidak pernah mengirim nota tagihan pembayaran utang kepada korban.

Dalam kesaksiannya, korban Salim Himawan Saputra menceritakan perkara ini bermula saat dirinya mengajukan pinjaman dana kepada terdakwa sebesar Rp 750 juta sampai Rp 1 miliar untuk mengerjakan proyek pada 20 Juni 2016. Tetapi saat itu terdakwa hanya bisa memberi utang Rp 500 juta dan diterima oleh korban.

Kemudian pada 12 Oktober 2016, korban mengembalikan pinjamannya sebesar Rp 300 juta. Pengembalian uang itu diberikan kepada terdakwa dalam bentuk Bilyet Giro (BG) Bank BII Mybank. (Baca: Bekas Terdakwa Penipuan Balik Seret Pelapor ke Pengadilan).

“Pada tanggal 12 Oktober 2016 terdakwa meminta pengembalian total pinjaman Rp 500 juta karena terdakwa ada kebutuhan mendesak. Kemudian saya kembalikan sebagian dulu sebesar Rp 300 juta dalam bentuk Bilyet Giro (BG) Bank BII Mybank,” jelas Salim.

Namun, setelah duit Rp 300 juta berhasil dicairkan terdakwa, tiga hari kemudian saksi Salim Himawan Saputra menerima surat tagihan dari terdakwa pada 15 Desember 2016. Dalam surat tagihan Nomor 001/X/2016 REVISI itu tertulis tagihan pembayaran konsultan pajak serta pembayaran pemakaian kantor dengan total rincian Rp 500 juta.

“Di hari yang sama, terdakwa melalui asistennya Elizabeth juga melayangkan surat somasi, yang isinya meminta pengembalian uang titipan senilai Rp 500 juta. Padahal uang tersebut sudah saya kembalikan Rp 300 juta dalam bentuk BG,” tutur Salim dihadapan majelis hakim.

“Semua itu sudah saya klarifikasi melalui Surat Jawaban Somasi saya kepada Leny dan Elizabeth,” imbuhnya.

Diakhir persidangan, JPU Darwis meminta kepada majlis hakim agar waktu persidangan dalam perkara ini dipercepat.  Atas permintaan JPU tersebut, Ketua Majlis (KM) Anne Rosiana dan Hakim Anggota sepakat untuk mempercepat jalanya persidangan dengan menggelar sidang terkait perkara ini digelar pada hari Senin pekan depan.

Sebelum menutup sidang, Ketua Majelis Hakim Anne Rosiana memerintahkan terdakwa Leny Anggreini agar tetap ditahan. “Sidang tunda hingga Senin depan, dan terdakwa tetap ditahan” ujarnya. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *