Bukan Tuntutan Beli Mobil, SPG Cantik Dimutilasi Suaminya karena Alasan Ini

by
Ini surat keluhan yang ditulis Nindy, korban pembunuhan mutilasi yang dilakukan suaminya sendiri, M Kholil.
Siti Saidah alias Nindy alias Desi Wulandari (21) bernasib tragis dimutilasi dan jasadnya dibakar oleh suaminya sendiri M Kholili alias Entong (23).

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Fakta baru terungkap dalam kasus pembunuhan mutilasi Siti Saidah alias Nindy alias Desi Wulandari (21) oleh suaminya sendiri, M Kholili alias Entong (23). Motif Kholil sampai tega memutilasi tubuh Nindy ternyata bukan hanya karena menuntutnya segera membelikan mobil, tetapi sang istri ingin sudah tidak sabar menghadapi  kelakuan pelaku.

Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan Hendy menjelaskan, titik terang motif pembunuhan itu terungkap setelah penemuan lembaran surat di kontrakan korban saat olah TKP. Isinya bertuliskan keluhan sang istri yang sudah tidak tahan dengan kelakuan suaminya.

“Suaminya berati memang enggak beres,” jelas mantan penyidik KPK ini saat dihubungi di Jakarta, Jumat (15/12).

Keluhan Nindy ini baru terkuak dari surat yang dia tulis. Surat yang baru ditemukan penyidik tersebut selama ini tersimpan di rak televisi di rumah kontrakan mereka di Dusun Sukamulya, RT 005 RW 002, Desa Pinayungan, Kecamatan Telukjambe Timur, Karawang.

Dalam suratnya yang singkat, korban mengeluh malu punya suami yang lebih suka kelayapan menemui orang lain ketimbang pulang ke rumah, menghabiskan waktu bersama keluarga. Sebab itu, dia bermaksud pamit pulang ke kampung halamannya di Pati, Jawa Tengah.

“Dari surat itu, sifat kamu enggak cocok dengan sifat aku,” tandas Hendy.

“Pengen pulang ke rumah tapi malu sama keluarga, malu juga sama tetangga. Punya suami tapi gak tinggal bareng pikirannya pasti banyak yg negatif.

Yah, Bunda pamit aja ya… udah capek ngadepin sifat kamu, kamu lebih sayang mereka ketimbang aku.” demikian isi surat tersebut.

Ini surat keluhan yang ditulis Nindy, korban pembunuhan mutilasi yang dilakukan suaminya sendiri, M Kholil.

Adapun pengakuan tersangka bahwa ia tega memutilasi istrinya karena kesal korban memaksanya untuk membelikan mobil dan sakit hati orang tuanya dihina hanya alasan pelaku.

“Ya mungkin bikin-bikinan pelaku iya,” tutur Hendy.

Hal ini diperkuat penjelasan keluarga Nindy, bahwa motif pembunuhan karena tuntutan membeli mobil hanya alasan tersangka. Sebab, Nindy bisa membeli mobil sendiri dari penghasilannya sebagai sales di Meikarta.

Nindya saat ini memiliki dua sepeda motor dan rencananya akan dijual untuk DP mobil. Dengan bekerja menjadi sales Meikarta, gaji Nindya Rp 5 juta per bulan bisa untuk mencicil mobil.

“Dia pernah bercerita kalau mau menjual motornya, kemudian uangnya untuk DP mobil Brio. Nanti cicilannya akan dibayar pakai gajinya kerja di Meikarta itu. Jadi tidak mungkin kalau anak saya minta mobil. Andaikan dia bayar sendiri juga bisa,” kata ayah Nindya, Saryadi, saat ditemui detikcomdi kediamannya di RT 1 RW 5, Dukuh Sridonomulyo, Desa Srikaton, Kecamatan Kayen, Pati, Jumat (15/12).

Ia menyayangkan pernyataan Muhammad Kholil yang tidak sesuai dengan fakta. Padahal selama ini pihak keluarga Nindya selalu memandang baik perilaku Kholil.

“Anak saya itu kalau ada apa-apa selalu cerita sama saya. Termasuk dia saat punya rencana mau beli mobil, juga cerita sama saya. Tapi dia beli, bukan meminta kepada suaminya,” ujarnya.

Kronologi Mutilasi

Dari hasil penyidikan polisi, kronologi kasus mutilasi dan pembakaran Siti Saidah, seorang sales properti perusahaan swasta oleh suaminya sendiri, M Kholil berawal dari pertengakaran rumah tangga.

Sebelumnya, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Karawang, AKP Maradona Armin Mapaseng, saat dihubungi, Kamis (14/12), mengatakan sempat terjadi cekcok rumah tangga antara korban dan tersangka pada Senin, 4 Desember malam.

“Sempat terjadi pertengkaran antara tersangka dengan korban. Motifnya karena sakit hati, korban nyebut-nyebut orangtua dia (tersangka). Sudah sakit hati dia (tersangka) tersinggung,” kata Kasat Reskrim Polres Karawang AKP Maradona Armin Mapaseng.

Pertengkaran tersulut karena persoalan tuntutan hidup. Saat itu, kata Maradona, korban yang bekerja sebagai sales promotion girl atau SPG sebuah perusahaan properti, meminta suaminya yang merupakan petugas kebersihan itu membelikan mobil.

“Caranya beli mobil, jual motor. Tapi suaminya ini tidak menyanggupi. Bertengkarlah, sampai ke masalah susu anak dan merembet ke orangtua,” kata Maradona.

Cekcok tersebut berujung pada penganiayaan. Kholili memukul leher korban dan mengakibatkan Siti tersungkur. Kholili lalu mengecek denyut dan menyadari istrinya sudah meninggal dunia.

“Dia bingung, baru keesokan harinya dia mempunyai rencana menghilangkan jejak,” kata Maradona.

Pada Selasa, 5 Desember 2017, tersangka berbelanja peralatan untuk memutilasi korban. Tersangka gelap mata memotong beberapa bagian tubuh korban dan membuangnya di beberapa wilayah.

“Kepala dan kedua kaki korban dibuang di tiga tempat yang tak berjauhan, yakni di wilayah Curug Cigentis, Loji, dan Pangkalan, Karawang,” ujar Maradona.

Potongan tubuh berupa kepala dan kaki ditemukan di sebuah kawasan air terjun di Kampung Loji, Kecamatan Tegalwaru, perbatasan Karawang dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sementara tubuhnya ditemukan di Desa Ciranggon, Kecamatan Majalaya, Karawang, Kamis, 7 Desember 2017, sekitar pukul 15.00 WIB. Selain ditemukan termutilasi, tubuh korban dalam kondisi hangus dibakar.

“Motif tersangka (mutilasi dan bakar) untuk hilangkan jejak,” ungkap Maradona. (lpn/adi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *