Buktikan Kesalahan ITE, Hakim Perintahkan JPU Hadirkan Sejumlah Saksi

oleh
Saidah Saleh.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kasus dugaan pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan terdakwa Saidah Saleh kembali digelar di Sidang Sari I Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Dalam sidang kali ini, Majelis hakim yang diketuai, Isjuaedi memutuskan jika dalil-dalil eksepsi dari kuasa hukum terdakwa ditolak dan dianggap telah masuk pada pokok perkara. Hakim juga menyatakan agar persidangan ini dilanjutkan dengan menghadirkan saksi saksi untuk pembuktian pelanggaran UU ITE.

Selain itu, hakim Isjuaedi memerintahkan Jaksa Penuntut Umum, (JPU) Roginta Siraid SH untuk mendatangkan saksi-saksi dalam perkara ini untuk membuktikan dakwaan JPU kepada terdakwa.

Terkait perkara ini, sebanyak 18 orang saksi, 8 saksi diantaranya berdomisili di Surabaya. Serta beberapa saksi dari jajaran PT Pismatex Textile Industry yang dipimpin oleh presiden direktur Jamal Gozi Basmeleh.

Menanggapi perintah majlis hakim, jaksa Roginta lantas meminta waktu sepekan, tepatnya pada Senin (17/12/2018) untuk menghadirkan saksi saksi.

“Satu minggu yang mulia, untuk menghadirkan saksi-saksi” tukas jaksa Roginta Siraid menanggapi permintaan majlis hakim.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa Sururi SH MH mengatakan, jika eksepsi pada putusan sela tersebut bukan ditolak seluruhnya. Bahkan, dengan adanya eksepsi ini semua pihak terkait akan mengetahui arah kasus ini.

“Jadi eksepsi bukan ditolak seluruhnya. Dengan adanya eksepsi ini para pihak menjadi mengetahui arahnya kemana kasus ini. Istilahnya untuk membingkai perkara ini, saya kira majlis hakim sejak awal sudah punya gambaran” tukasnya.

Sururi menilai, jika banyaknya saksi yang akan dijadirkan jaksa untuk memenuhi pasal 282 ayat 2 KUHAP yang bakal menjadi beban jaksa. Sebab, jika saksi pilihan yang berdomisili di Surabaya tidak hadir, unsur dari pasal 282 menjadi tidak terpenuhi.

“Jaksa telah memperbanyak saksi-saksi untuk memenuhi pasal 282 ayat 2 KUHAP. Tetapi hal ini menjadi beban jaksa untuk menghadirkan saksi pilihan di Surabaya. Saksinya nanti harus hadir kalau sampai tidak hadir pasal 282 ini menjadi tidak terpenuhi” ujarnya

Sururi juga menanggapi serius terkait keterangan saksi pelapor, saksi ahli, serta saksi lain yang keteranganya telah dibacakan jaksa penuntut umum. Tanggapan tersebut dikarenakan hingga agenda putusan sela keterangan saksi dibawah sumpah telah dibacakan jaksa tanpa menghadirkanya saksi-saksi kepersidangan.

“Nanti akan saya nilai apakah saksi yang dibacakan tersebut saksi kunci apa saksi tambahan untuk pemenuhan pasal 282 ini, jika saksi tersebut penting saya pasti minta untuk dipanggil paksa kepada majelis hakim” tukasnya

Disisi lain, Saidah Saleh mengatakan, jika dirinya tidak pernah mengirimkan kalimat “bozz … piye iku pisma kok tambah ga karu2an ngono siih” kepada siapapun maupun seperti yang didakwan jaksa terkait pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (3) Tentang Pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Selain itu, Saidah mengaku tidak mempunyai kepentingan apapun dengan saksi Amerita sebagai General Bank BNI Pusat dan saksi Komaruzzaman sebagai divisi Bank Syariat Exim Indonesia. Kedua perusahaan Bank tersebut mempunyai hubungan kerjasama dengan jajaran PT Pismatex Textile Industry yang dipimpin presiden direktur Jamal Gozi Basmeleh.

“Intinya, saya tidak mengirimkan kalimat tersebut ke siapapun. Saya tidak mempunyai nomor hp orang Bank. Saya juga tidak mempunyai kepentingan apapun dengan Pismatex. Bahasa yang digunakan pun saya nggak ngerti” tukas Saidah saat dikonfirmasi terkait perkara ini.

Jajaran direksi PT Pismatex Textile Industry dan PT Pisma Putra Textile telah memperkarakan perkara ini dengan tudingan adanya pencemaran nama baik perusahaan.

Tudingan tersebut berasal dari pesan japri media sosial whatsapp yang telah diterima dua orang saksi Amerita dan saksi Komaruzzaman pada 11 Juli 2017 silam.

Berikut pesan japri media sosial whatsapp yang diperkarakan jajaran direksi PT Pismatex Textile Industry tertanggal 11 Juli 2017.

Pada uraian dakwaan jaksa, dua saksi penerima pesan japri tersebut ialah saksi Amerita sebagai General Manager Bank BNI Pusat yang saat itu berada di Jl. Agaphos Blok C/62 Rt 03 Rw 02, Kelurahan Jatimakmur Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi.

Sedangkan saksi penerima pesan lainya yakni, saksi Komaruzzaman sebagai Kepala Divisi Bank Syariat Exim Indonesia yang bertempat Jl. Primadana XV Blok A1 No. 02 RT/RW 03/10 Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kota Bekasi. Kedua perusahaan Bank tersebut mempunyai hubungan kerjasama dengan jajaran direksi PT Pismatex Textile Industry.

Jajaran PT Pismatex Textile Industry mengaku telah dirugikan dengan adanya pesan japri tersebut yang menurut versi mereka nama baik perusahaanya akan tercemar.

Padahal, Saidah Saleh dan PT Pismatex Textile Industri tidak mempunyai kepentingan. Begitu juga dengan beberapa saksi dari perbankan, Saidah mengaku tak mengenal orang Bank tersebut.

“Yang mempunyai kepentingan mungkin itu suami saya, yang kini masuk pensiunan dulunya sebagai dirut keuangan PT Pismatex Textile Industry selama 20 Tahun” tutupnya.

Sebelumnya, kuasa hukum terdakwa, Sururi SH MH, jika pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (3) yang didakwakan jaksa tidak cermat dan terkesan dipaksakan. Dikarenakan pasal yang dikenakan tersebut tidak memenuhi unsur materil sebagaimana dimaksud dalam ketentuan pasal 143 ayat 2b KUHAP. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.