Buronan di Indonesia, Rizieq Bertemu Zakir Naik

Pemimpin FPI, Rizieq Shihab (dua dari kanan) duduk bersama dai kondang asal India, Dr Zakir Naik (paling kiri) dan beberapa tokoh di sebuah acara.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Berstatus buronan yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Kepolisian RI, pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab justru leluasa melakukan safari pertemuan dengan sejumlah tokoh di Arab Saudi. Dalam foto yang beredar di dunia maya, tersangka kasus dugaan pornografi itu nampak duduk dengan sejumlah orang, di antaranya pendakwah (dai) terkenal asal India, Zakir Naik.

Rizieq yang mengenakan gamis dan serban yang biasa dipakainya nampak sedang menghadiri sebuah acara. “Benar, itu foto kemarin (Selasa 13 Juni) di rumah ulama terkenal Saudi, Syeikh Kholid al Hamody,” ujar pengacara Rizieq, Kapitra Ampera, saat dikonfirmasi.

Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya telah mendeteksi keberadaan pemimpin FPI Rizieq Shihab. Rizieq Shihab yang terjerat kasus dugaan pornografi berupa chat seks itu diketahui berada di salah satu kota di Arab Saudi.

“Dia di Jeddah. Kita tahu posisinya dari Divhubinter (Divisi Hubungan Internasional) Polri,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di kantornya, Jakarta.

Polisi telah menetapkan Rizieq sebagai tersangkka dan DPO kasus dugaan skandal chat mesum dan pornografi dengan Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana, Firza Husein. Namun permohonan red notice yang diterbitkan Polri dimentahkan Interpol. (Baca: Firza Diperiksa, Interpol Kembalikan Red Notice untuk Rizieq).

Sebagai gantinya Mabes Polri mengajukan blue notice kepada Interpol terkait keberadaan Rizieq Shihab. Blue notice diterbitkan untuk mencari tahu posisi dan kegiatan Rizieq di negara yang diduga menjadi tempat persembunyiannya.

“Jadi kita terbitkan blue notice untuk kita mintakan, untuk dicari,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian Negara Republik Indonesia (Karo Penmas Polri) Brigjen Rikwanto di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta.

Blue notice merupakan satu dari sembilan kode notifikasi yang dimiliki Interpol. Berbeda dengan red notice yang meminta bantuan pihak Interpol menangkap buronan atau tersangka, blue notice adalah kode untuk mengumpulkan informasi atau identitas seseorang atau kegiatan ilegal terkait dengan suatu tindak pidana.

Rikwanto menambahkan, Polri juga melakukan cara police to police atau berkoordinasi dengan pihak kepolisian negara sahabat di mana diduga menjadi lokasi keberadaan Rizieq.

Police to police itu hubungan, calling-calling-an koordinasi dengan polisi negara sahabat. Itu dilakukan dengan polisi seluruh dunia. Lebih efektif police to police,” tutur mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya ini.

Polri, lanjut Riwanto, juga menghormati undang-undang dan hukum internasional untuk melakukan mekanisme penangkapan Rizieq Shihab yang kini berada di luar negeri. “Kita harus tunduk kepada undang-undang​ dong, juga kepada hukum internasional mana yang bisa mana yang tidak. Itu terjadi di semua negara di dunia,” pungkas Rikwanto. (lpn/gbi)