Cuaca dan Medan Berat Hambat Pencarian 25 Korban Tertimbun Longsor Ponorogo

oleh
Tim SAR dibantu warga menggunakan eskavator terus mencari 25 korban tertimbun longsor di Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo, yang belum ditemukan.
Medan Berat: Tim SAR dibantu warga menggunakan eskavator terus mencari 25 korban tertimbun longsor di Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo, yang belum ditemukan.

GLOBALINDO.CO, PONOROGO – Proses pencarian korban yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Pulung, Kabupaten Ponorogo, terhambat beratnya medan. Ketebalan tanah yang menumpuk mencapai  20 meter dengan lebar area longsor 20 meter dan panjang 2 kilometer.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, tingginya timbunan tanah akibat longsor di Ponorogo membuat proses pencarian korban tidak bisa secepat ketika bencana longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Ditambah cuaca yang kadang kurang mendukung juga menambah kendala dalam mencari 25 orang,” kata Sutopo, Selasa (4/4).

Hujan yang sering turun di lokasi bencana, menurut Sutopo, membuat proses pencarian korban harus dihentikan. Dari 28 korban hilang akibat terseret atau tertimbun longsoran tanah, sampai sekarang baru tiga yang ditemukan.

Sutopo menjelaskan alat-alat berat sudah didatangkan guna mempermudah proses pencarian korban, namun medan yang sulit membuat upaya pencarian korban berjalan lebih lambat dari seharusnya. Meski begitu, tim penyelamat tidak menyerah.

“Saat hujan deras, tidak mungkin melanjutkan aktivitas SAR. Alat berat dikerahkan. Ada kemungkinan korban terseret arus,” ucapnya.

Sementara jumlah pengungsi bencana tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur sudah mencapai 178 jiwa. Para pengungsi tinggal di 8 rumah warga yang relatif aman dan tak jauh dari lokasi bencana.

Mengungsi: Sejumlah pengungsi korban tanah longsor ditampung di rumah kepala desa dan warga lain di Desa Banaran, Pulung, Kabupaten Ponorogo.

“Pengungsi korban tanah longsor yang rumahnya tertimbun mencapai 178 jiwa terbagi di delapan rumah warga. Jumlah orang yang tinggal di pengungsian bervariasi tergantung masing-masing kapasitas rumah,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ponorogo, Setyo Budiono, Selasa ( 4/4).

Budi menyebutkan 178 pengungsi itu tinggal di rumah lurah sebanyak 30 orang. Kemudian di rumah warga Agus Suryono 9 orang, Endar 55 orang, Sisri Gondang Sari 12 orang, Kisut 12 orang, Sumanto 15 orang, Parwoto 25 orang, dan di rumah Bibit sebanyak 20 orang.

Soal logistik untuk para pengungsi, Budi mengatakan sejauh ini tidak ada kekurangan. Sampai saat ini, bantuan dari luar terus berdatangan. Bantuan tersebut berupa makanan, minuman, selimut dan kebutuhan lainnya. (ant/gbi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *