Data User Facebook Dijual ke Seluruh Dunia, Ini Kronologi Penyalahgunaan versi Zuckerberg

oleh

GLOBALINDO.CO – Bos Facebook Mark Zuckerberg kelabakan menghadapi skandal penjualan data pengguna media sosial miliknya. Apalagi, muncul indikasi bahwa data yang diselewengkan perusahaan riset Cambridge Analytica (CA) itu bukan hanya dimanfaatkan oleh Donald Trump untuk kepentingan Pilpres AS 2016 silam, tetapi juga dijual ke seluruh dunia.

Melalui akun Facebook pribadinya, Zuckerberg menjelaskan kronologi kejadian penyalahgunaan 50 juta data pengguna ini. Ia memaparkan bahwa medsos yang diluncurkan pada 2007 memang didesain pengguna untuk log in ke aplikasi dan membagikan informasi mengenai siapa teman-teman mereka dan beberapa informasi mengenai teman-temannya.

Kemudian pada Juni 2014, peneliti dari Cambridge University bernama Aleksandr Kogan membuat sebuah aplikasi kuis kepribadian, ‘thisisyourdigitallife’. Zuck mengungkap bahwa aplikasi Kogan dipasang oleh sekitar 300.000 orang. Ratusan ribu pengguna aplikasi itu bersedia membagikan data pribadi mereka serta beberapa data teman-teman mereka.

“Mengingat cara kerja platform kami saat itu, Kogan bisa mengakses puluhan juta data teman-teman dari orang yang meng-install aplikasi tersebut,” tulis Zuck.

Belajar dari kejadian tersebut, Facebook mengubah kebijakan platform untuk membatasi data yang dapat diakses oleh aplikasi setahun kemudian. Perubahan tersebut membuat pengembang seperti Kogan tidak bisa lagi meminta data teman dari pengguna kecuali teman mereka juga mengakses aplikasi tersebut.

“Kami juga mengharuskan pengembang aplikasi mendapatkan persetujuan kami sebelum mereka meminta data yang sensitif dari para pengguna. Tindakan ini akan mencegah aplikasi seperti milik Kogan untuk mengakses banyak informasi,” imbuh Zuck.

Tetapi rupanya pada 2015, Facebook mendapatkan informasi dari media bahwa Kogan telah membagikan datanya pada CA. Dari sana, Kogan telah melakukan pelanggaran terhadap kebijakan Facebook sehingga platform tersebut menghapus aplikasi Kogan.

“Kami meminta Kogan serta Cambridge Analytica secara formal menyatakan bahwa mereka telah menghapus semua data yang diperoleh secara ilegal. Mereka telah menjamin hal tersebut,” ungkap alumnus Harvard University ini.

Sayangnya, pekan lalu Facebook menerima kabar bahwa CA tidak menghapus semua data seperti yang mereka janjikan sebelumnya. Facebook mengambil tindakan untuk memblokir CA dari layanannya.

D sisi lain, CA berdalih bahwa mereka sudah menghapus semua data. Mereka bahkan setuju diaudit forensik oleh perusahaan yang telah ditunjuk Facebook, Stroz Friedberg, untuk mengkonfirmasi kejadian ini.

Penyalahgunaan data oleh Kogen ini banyak disebut sebagai pencurian data terbesar sepanjang sejarah. Sebesar 50 juta data pengguna Facebook digunakan oleh CA tanpa izin pengguna Facebook.

Kini, berbagai pihak menuntut Facebook untuk bertanggung jawab atas kebobolan data tersebut. Kampanye #DeleteFacebook di media sosial pun sudah muncul.

Akibat skandal ini, saham perusahaan Facebook di bursa global terjun bebas. Mark Zuckerberg memiliki 400 juta saham Facebook. Namun sejak kasus ini mencuat, suami dari Priscilla Chan itu sudah kehilangan USD 6,8 miliar atau setara Rp 93,5 triliun.

50 Juta Data User Dijual ke Seluruh Dunia

Mantan konsultan politik Donald Trump dalam masa kampanye Pilpres, Steve Bannon, menolak disalahkan atas penyalahgunaan data 50 juta user Facebook oleh perusahaan Cambridge Analytica

“Aku bahkan tidak tahu apapun tentang penambangan data Facebook,” kata Bannon dikutip  dari Guardian.

Bannon mengklaim baik dirinya maupun Cambridge Analytica yang disewa untuk membantu kampanye Trump, tidak melakukan trik kotor dalam menggunakan data yang didapat dari Facebook. Ia juga mengaku tidak ingat menggunakan data tersebut untuk propaganda Pemilu demi kemenangan Trump.

Hal itu berbeda dari pernyataan mantan pegawai Cambridge Analytica.  yang ‘bernyanyi’ bahwa 50 juta data pengguna Facebook itu dianalisa untuk diberikan kampanye iklan yang sesuai.  Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengeksploitasi Facebook untuk meraup jutaan profil dan data user.

Cambridge Analytica sendiri telah membantah semua pernyataan Wylie dan menyatakan telah menghapus semua data tersebut. Bannon juga membantah praktik mengambil informasi personal di Facebook adalah sebuah skandal.

“Hal ini hanya tentang biaya. Itu (data-red) dibeli dan dijual setiap hari, seperti di pasar. Begitulah bisnis Facebook,” ujar. Ia menyebutkan bahwa tindakan serupa juga dilakukan mantan Presiden AS Barack Obama.

“Data itu ada di luar sana, mereka (Facebook-red) mengambil kepunyaan kalian secara gratis. Mereka mengambil alih hidup kalian,” tandasnya.

“Data Facebook dijual di seluruh dunia. Aku tidak mengingat membelinya. Orang Cambridge yang melakukannya”. (cni/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *