Demokrat Siap Jadi Game Changer Pilpres 2019 Lewat Barisan Parpol Sakit Hati

oleh
Presiden Jokowi saat membuka Kongres IV Demokrat.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Situasi politik nasional jelang Pilpres 2019 masih hangat-hangat tai ayam. Seluruh partai politik (Parpol) memasang sikap wait and see untuk bisa menangguk keuntungan dari sikap ceroboh lawan. Gerbong Jokowi menunggu sikap pasti gerbong Prabowo dan sebaliknya.

Sikap serupa ditunjukkan gerbong Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan sedikit modifikasi. Lewat mesin Partai Demokrat, SBY mengambil posisi sebagai game changer atawa pengubah permainan. Caranya, berbekal kesabaran yang luar biasa, hingga detik terakhir pendaftaran Capres-Cawapres, gerbong SBY ini mengintai Parpol yang sakit hati dengan pilihan Jokowi maupun Prabowo.

“Entah apakah pengumuman dilakukan jauh-jauh hari dari pendaftaran KPU atau mepet-mepet di 10 Agustus, apakah semua partai politik koalisi mereka merasa puas (dengan keputusan cawapres Jokowi dan Prabowo)? Itu kan baru diketahui setelah pengumuman Cawapres dilakukan,” kata Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat, Amir Syamsuddin, Kamis (12/7/2018).

“Manakala pengumuman (Cawapres) terjadi dan ada partai politik koalisi yang merasa aspirasinya tidak diakomodasi, tidak diajak komunikasi dalam penentuan atau alasan apapun, kemudian dia merasa kecewa atau kurang puas, di situlah Demokrat akan memainkan perannya sebagai ‘game changer’, mengubah permainan,” lanjut dia.

(Baca Juga: Poros Demokrat Tak Mau Tunggangi Sentimen Agama)

Amir menegaskan, Demokrat siap mengakomodasi partai politik yang kecewa itu dan membentuk barisan sakit hati sebagai poros politik baru.

Melihat peta kengototan partai politik soal pengajuan Cawapres, Amir melihat, Parpol koalisi Jokowi yang paling banyak mengajukan nama ketua umumnya sebagai pendamping Jokowi.

Ia yakin ada tersisa kekecewaan di antara partai politik yang kadernya tidak digandeng Jokowi sebagai cawapres.

“Walaupun Jokowi gaya politiknya merangkul, tapi UU membatasi. Tidak mungkin semua parpol koalisi mendapatkan semua aspirasinya, ingat wapres hanya satu orang. Sedangkan parpol yang mendukung, harapan tertingginya adalah ketum mereka jadi cawapres. Jadi kekecewaan akan itu bukan hal yang mengejutkan nantinya,” papar Amir.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan menambahkan, partainya masih menunggu beberapa hal. Pertama, menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang gugatan presidential threshold menjadi 0 persen.

Kedua, menunggu kader Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono disambut oleh partai politik lain sebagai calon wakil presiden yang diusung pada Pilpres 2019.

“Kami kan punya strategi ya. Nah, salah satunya itu, karena itu semua sudah keputusan partai ya,” kata Syarief.

Menurut Syarief, waktu hingga peta koalisi menjadi terang masih cukup lama, sekitar satu bulan lagi. Menurut dia, masih banyak yang mungkin bisa terjadi.

“Pokoknya, keputusannya (Demokrat) sebelum tanggal 9 Agustus (satu hari sebelum penutupan pendaftaran capres dan cawapres di KPU),” ujar Syarief.(kcm/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *