Dewan Protes Rekanan Pembangunan Basement di Balai Pemuda

Kondisi tempat parkir mobil di DPRD Kota Surabaya. Semenjak ada pembangunan basement kondisi area parkir menjadi kotor dan licin.

Kondisi tempat parkir mobil di DPRD Kota Surabaya. Semenjak ada pembangunan basement kondisi area parkir menjadi kotor dan licin.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Proyek pembangunan basement Balai Pemuda kembali jadi rasa-rasan Anggota DPRD Kota Surabaya. Kali ini terkait kotornya area parkir dewan yang menjadi akses keluar masuk kendaraan proyek.

Sebelumnya, Ketua DPRD Kota Surabaya, Armuji mengancam menghentikan proyek pembangunan basement Balai Pemuda yang saat ini sedang dikerjakan PT Cipta Karya Multi itu.

Ancaman yang disampaikan Armuji menyusul insiden yang menimpa salah satu anggota Pamdal DPRD Surabaya, Suyono. Beberapa jari kaki Suyono hampir putus setelah terjepit Armada truck yang keluar dari lokasi proyek.

Pantauan di lokasi, lumpur bekas galian dari proyek tampak berserakan di sepanjang jalan. Mulai dari pintu keluar proyek yang berada di dalam area Gedung DPRD Surabaya, hingga sepanjang jalan protokol yang dilalui.

“Seharusnya manajemen proyek sudah bisa mengantisipasi. Sehingga kendaraan yang keluar dari kawasan proyek tidak kotor dan tidak memuntahkan lumpur yang diangkutnya,” kritik Ketua Komisi C Syaifuddin Zuhri, Kamis (20/10/2016).

Meski proyek yang sedang dikerjakan, menurut dia, kontraktor harus tetap menjaga keindahan dan kebersihan area di sekitar proyek. Pihaknya khawatir jika proyek yang dikerjakan nantinya justru menimbulkan dampak sosial.

“Bila perlu dibagi menjadi dua tahapan pembersihan, sehingga benar-benar tidak akan mengotori jalan yang dilalui,” saran Ipuk, sapaannya.

Menurut Ipuk, ceceran lumpur dari kendaraan proyek sangat berbahaya bagi kendaraan sepeda motor yang melintas di depan dewan. Dengan kondisi hujan seperti sekarang, lumpur tersebut akan sangat licin jika terkena air.

“Kondisi tersebut bisa membahayakan pengguna jalan,” tandasnya.

Anggota Komisi C lainnya, Sudirjo mempertanyakan kinerja konsultan pengawas CV. Amoret Consulondo. Menurutnya kontraktor pelaksana mempunyai kewajiban untuk melakukan pembersihan terhadap seluruh dampak sosial yang ditimbulkan oleh kegiatan proyek, termasuk kotoran lumpur di jalan.

“Saya minta konsultan pengawas untuk menegur, sekaligus memberikan solusi terhadap masalah yang ditimbulkan akibat aktifitas proyek ini,” saran Sudirjo. (bmb/gbi)