Didakwa Penipuan Dana Haji, Direktur PT Global Access Minta Dibebaskan

oleh
Terdakwa kasus penggelapan dana haji dari Jamaah PT Al Madinah Yunus Yamani memohon majelis hakim menjatuhkan vonis bebas saat membacakan nota pledoinya di PN Surabaya, Rabu (16/5).

GLOBALINDO.CO , SURABAYA – Terdakwa kasus penggelapan dana haji dari Jamaah PT Al Madinah Yunus Yamani  memohon majelis hakim menjatuhkan vonis bebas. Dalam nota pembelaannya (pledoi), terdakwa menyangkal ikut terlibat dalam penipuan dan penggelapan dana haji Rp 5 miliar yang ditransfer ke rekening perusahaannya, PT Global Access.

Dalam pledoinya, terdakwa Yunus Yamani berdalih, penggelapan uang jamaah haji itu dilakukan oleh dua pegawainya, yakni Harika Oscar dan Dicky Mastur Ahmad yang telah divonis bersalah oleh Hakim PN Surabaya.

“Tanda tangan saya dan stempel perusahaan dipalsukan untuk mencairkan dana dari rekening perusahaan. Oscar adalah otak dari perkara ini, makanya dia dihukum lebih berat dari Dicky,” kata Yunus Yamani membacakan pledoinya di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya, di ruang sidang Garuda 1, Rabu (16/5).

Yunus juga mengklaim tidak mengetahui adanya dana masuk ke rekening PT Global Access yang ditransfer PT Almadinah. “Saya taunya waktu didatangi oleh Cahynono (Direktur PT Almadinah),”kelit Direktur PT PT Global Accses itu.

Selain terdakwa Yunus Yamani, pembelaan juga dilakukan oleh tim penasehat hukumnya. Tak jauh beda dengan nota pembelaan kliennya. Dua tim penasehat hukum yang terdiri dari Zaenal Fandi dan Imam Asmara juga menyebut klienya tidak bersalah melakukan atau menyuruh melakukan atau turut serta melakukan penipuan dan penggelapan.

Selain itu, tim pembela terdakwa Yunus Yamani mengklaim jika kliennya bukanlah otak atas program Haji bayar 1 gratis 1.

“Oleh karenanya, terdakwa haruslah dibebaskan dari jeratan hukum,”ujar Imam Asmara saat membacakan nota pembelaannya.

Pledoi terdakwa Yunus Yamani dan tim penasehat hukumnya akan ditanggapi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nouvan pada persidangan dua pekan mendatang (30/5). Sebelumnya, jaksa menuntut terdakwa Yunus Yamani hukuman pidana 3 tahun penjara.

Seperti diketahui, dalam dakwaan jaksa, Perkara Nomor 335/ Pid.B/2018/PN.Sby berawal saat Yunus Yamani selaku Dirut PT Global Acces sepakat melakukan kerjasama dengan Dicky Mastur Ahmad dan Harika Oscar Perdana (berkas terpisah) di bidang pemberangkatan haji plus. Dari kerjasama itulah, akhirnya Yunus selaku Dirut PT Global Access menggelar program pemberangkatan haji plus pada 2012. Padahal pada 2012, PT Global Access belum memgantongi izin pemberangkatan haji.

Meskipun tak mengantongi izin, Yunus tetap nekat menggelar program pemberangkatan haji plus. Parahnya lagi, untuk menarik masyarakat, Yunus bersama Dicky dan Harika membuat program promosi pemberangkatan haji plus ‘Bayar 1 Gratis 1’, Dengan membayar biaya sekitar USD 9.000, maka peserta akan mendapatkan keberangkatan untuk 2 orang dengan jadwal keberangkatan pada tahun 2016.

Dari situlah, dengan menggunakan nama PT Global Access akhirnya Dicky dan Harika kemudian menggelar seminar di Hotel Meritus (sekarang Pullman) pada September 2012. Untuk memuluskan programnya, Dicky dan Harika mengajak kerjasama dengan Cahyono Kartika, Direktur PT Al Madinah (pelapor). Di seminar tersebut Dicky dan Harika memakai tipu muslihat saat presentasi program Bayar 1 Gratis 1 di hadapan masyarakat. Hal itu dilakukan untuk menarik minat masyarakat.

Karena banyak masyarakat Surabaya yang tertarik untuk mendaftar, maka Dicky dan Harika menugaskan PT Al Madinah untuk mengkordinir pembayaran peserta program tersebut. Dana pendaftaran program dengan total sebesar USD 717 ribu atau Rp 8,8 miliar kemudian ditransfer PT Al Madinah ke rekening PT Global Access.

Namun kenyataannya, calon jemaah haji yang tidak bisa berangkat sebanyak 70 orang karena karena tidak mendapatkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Hal itu dikarenakan uangnya tidak disetor oleh PT Global Access untuk mendapatkan jatah kursi.

Karena hal itulah, Cahyono selaku Direktur PT Al Madinah otomatis mendapat komplain dari para calon jamaah haji yang tidak bisa berangkat. PT Al Madinah pun akhirnya merugi sebesar Rp 5 miliar. Atas perbuatannya,  Yunus Yamani didakwa melanggar  pasal 378 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *