Diduga Rusak Pintu Pembatas, Dua Terdakwa Ini Diadili

oleh
Darno dan Dian saat menjalani persidangan di PN Surabaya.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Darno dan Dian harus rela duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Keduanya didakwa membuka pintu pagar pembatas milik PT Ciputra Development dengan kekerasan.

Akibat perbuatannya, Darno dan Dian Purnomo Keduanya dijerat dengan pasal 170 Ayat 1 KUHP tentang terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun 6 bulan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Wilujeng pada surat dakwaanya disebutkan jika perkara tersebut terjadi pada Rabu 6 Juni 2018 jam 22.00 Wib sekitar 70 orang warga berdatangan di sekitaran pagar pembatas Waduk Sepat, Lidah Kulon, Lakar Santri, Surabaya.

Terdakwa Darno dan Terdakwa Dian Purnomo berdiri didepan pintu pagar pembatas yang dikunci dengan grendel bersama-sama dengan warga yang lain dan berupaya membuka pintu pagar pembatas yang dikunci dengan grendel secara paksa.

“Kemudian Terdakwa Darno dan Terdakwa Dian Purnomo memberi komando kepada warga agar terus mendorong pintu pagar sampai roboh dan rusak sehingga warga dapat masuk secara bebas ke lahan waduk sepat” Kata Lujeng.

Setelah pintu pagar pembatas yang dibangun oleh PT Ciputra Development tersebut rusak, beberapa orang warga masuk kedalam lahan Waduk Sepat termasuk kedua terdakwa.

“Selanjutnya pada saat berada di lahan waduk sepat, terdakwa Dian Purnomo mengambil potongan plat pintu air yang berada diatas tanggul dan mengunakan potongan plat tersebut untuk menutup aliran air” tambahnya.

Masih pada dakwaan JPU, awal tanah Waduk Sepat yang berlokasi Desa Lidah Kulon Kecamatan Lakarsantri Surabaya termasuk Tanah Kas Desa Lidah Kulon yang digunakan untuk pemancingan ikan yang dikelola oleh warga sekitar.

Selanjutnya setelah Desa Lidah Kulon berubah menjadi Kelurahan Lidah Kulon maka tanah Waduk Sepat tersebut beralih menjadi aset Pemkot Surabaya.

Kemudian tanah Waduk Sepat yang berlokasi Kelurahan Lidah Kulon Kecamatan Lakarsantri Surabaya tersebut beralih statusnya menjadi milik PT Ciputra Development Tbk setelah melalui proses Ruislag / tukar menukar dengan Pemkot Surabaya.

Dengan adanya proses ruislag tersebut, pihak PT Ciputra Development Tbk menyerahkan tanah pengganti seluas 204.816 M2 kepada pihak Pemkot Surabaya.

Pihak PT Ciputra Development Tbk membangun pagar pembatas dari seng sebagai pembatas antara Waduk Sepat dengan Fasilitas Umum dan membangun pagar pembatas dari seng antara Fasilitas Umum dengan jalan warga sehingga untuk dapat masuk ke lahan tersebut harus terlebih dahulu membuka grendel di pintu pada pagar pembatas tersebut.

Diakhir persidangan, hakim ketua Maxi Sigarlaxi SH MH sepakat menggelar sidang perkara ini pada hari Selasa 23/4/2019 dengan agenda pemeriksaan saksi – saksi. (Ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.