Diperiksa 10 Jam, Dahlan Mengeluh Sakit

No comment 200 views
Mantan Menteri BUMN dan Dirut PT PWU (BUMD Pemprov Jatim) Dahlan Iskan keluar dari Gedung Kejati Jatim Pukul 17.30 WIB usai diperiksa selama 10 jam, Selasa (18/10).

Mantan Menteri BUMN dan Dirut PT PWU (BUMD Pemprov Jatim) Dahlan Iskan keluar dari Gedung Kejati Jatim Pukul 17.30 WIB usai diperiksa selama 10 jam, Selasa (18/10).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur kembali menghentikan pemeriksaan terhadap mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dan akan dilanjutkan Rabu besok (19/10). Namun dihentikannya pemeriksaan, Selasa (18/10) petang ini lantaran Dahlan mengeluh sakit.

Sama seperti kemarin, Dahlan Iskan tetap memilih bungkam ketika ditanya wartawan terkait penjualan aset PT Panca Wira Usaha (PWU), BUMD Pemprov Jatim, yang dipermasalahkan Kejaksaan. Ia juga enggan menjawab ketika ditanya kondisi kesehatannya. Ia hanya tersenyum sambil berjalan menuju mobil Alphard hitam yang ditungganginya.

Tidak jelas sakit apa yang dikeluhkan bekas Dirut Perusahaan Listrik Negara (Persero) itu. Dokter Kejaksaan memeriksa kondisi kesehatan Dahlan dan menguatkan keluhan itu.

“Dilanjutkan besok,” ujar Kepala Kejati Jatim, Maruli Hutagalung.

Pemeriksaan Dahlan hari ini berlangsung lebih lama dari kemarin, yakni selama 10 jam sampai penyidik memutuskan menghentikan Pukul 17.30 WIB. Selama dua hari pemeriksaannya, Dahlan dicecar 61 pertanyaan oleh penyidik kejaksaan.

Tetapi, penyidik belum juga bisa memastikan apakah bos salah satu media ternama di Jatim itu segera ditetapkan sebagai tersangka. Maruli menegaskan, status Dahlan sampai saat ini masih belum berubah, yakni sebagai saksi.

“Menetapkan tersangka itu tidak mudah. Butuh minimal dua alat bukti. Jadi sabar dulu,” kata mantan Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejaksaan Agung itu.

Kepala Seksi Penyidikan Pidana Khusus Kejati Jatim, Dandeni Herdiana, menuturkan Dahlan mengeluhkan sakit di bagian organ hatinya. Memang, beberapa tahun lalu Dahlan menjalani operasi transplantasi hati di luar negeri.

“Diperiksa dokter memang kondisinya kurang baik,” ujar Dandeni.

Pihak Dahlan belum mengajukan permohonan meminta waktu untuk memeriksakan kesehatan secara khusus ke luar negeri, seperti yang pernah disampaikan konsultan hukumnya, Pieter Talaway. Karenanya, pemeriksaan terhadap Dahlan tetap dilanjutkan besok.

“Yang bersangkutan menyanggupi,” ucap Dandeni.

Terkait materi kasus, Dandeni menuturkan bahwa penyidik masih menggali peran Dahlan pada dugaan kecurangan penjualan aset PWU di Kediri dan Tulungagung. (Baca: Selama Dipimpin Dahlan, PT PWU Sering Jual Aset Sembarangan).

“Kami masih mencari bukti kuat, pelanggaran pidananya apa pada pelaksanaannya atau kebijakannya,” katanya.

Sementara ini, penyidik baru mengantongi bukti bahwa aset itu dijual di bawah harga pasaran saat aset berupa lahan dan bangunan itu dijual, tahun 2003. Uang hasil penjualan diduga tidak dimasukkan semua ke kas perusahaan. Nah, bukti-bukti pelaksanaan penjualan aset itu baru bisa dijeratkan ke tersangka Wishnu Wardhana.

Dahlan, kata Dandeni, selaku Direktur Utama PT PWU, waktu itu mengetahui penjualan aset tersebut. Dokumen transaksi penjualan aset juga ditandatanganinya.

“Tapi mengetahui tidak otomatis ikut bersalah. Perlu juga ada bukti ada tidak kehendak jahat yang bersangkutan pada kebijakan menjual aset itu,” katanya.

Kasus aset PWU diusut Kejati Jatim pada 2015 lalu. Diduga, terjadi penjualan dua aset PWU di Kediri dan Tulungagung yang dilaksanakan secara curang. Akibatnya, negara dirugikan. Penjualan terjadi pada tahun 2003, saat Dahlan menjadi Dirut PT PWU tahun 2000-2010.

Akhir Juni 2016, Kepala Kejati Jatim, Maruli Hutagalung, meneken surat perintah penyidikan (sprindik) kasus tersebut. Kejaksaan sudah menetapkan mantan Manajer Aset PWU, Wishnu Wardhana, sebagai tersangka. Ketua DPRD Surabaya itu kini mendekam di Rumah Tahanan Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo. (vin/gbi)