Diperiksa 4 Jam, Sandiaga Bantah Terlibat Penggelapan Duit Tanah

oleh
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno usai menjalani pemeriksan sekitar 4 jam di Mapolda Metro Jaya, Kamis (18/1) terkait kasus dugaan penggelapan duit hasil penjualan tanah PT Japirex Rp 12 miliar.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno membantah terlibat penggelapan uang sebesar Rp 12 miliar dari hasil penjualan tanah PT Japirex tahun 2012. Ia mencurigai ada pihak yang sengaja memalsukan tanda tangan dalam dokumen likuidasi PT Jaiprex tahun 2001 silam.

Sandiaga menjelaskan kronologi penjualan tanah PT Japirex untuk menjawab 8 pertanyaan yang diajukan penyidik Direktorat Kriminal Umum Polda Metro dalam pemeriksaannya yang berlangsung sekitar 4 jam, Kamis (18/1).

“Ada delapan pertanyaan yang sudah saya klarifikasi semua seputar tentang tanah yang dalam proses likuidasi dijual untuk memenuhi syarat syarat likuidasi dan saat itu sudah disetujui semua,” kata Sandi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (18/1).

Wagub yang pernah menjabat Komisaris Utama PT Japirex ini menceritakan penjualan tanah bermula dari keputusan direksi dan komisaris PT Japirex melikuidasi di tahun 2012. Perusahaan ini bergerak di bidang ekspor rotan.

Namun, akibat prospeknya meredup dan kebijakan pemerintah kala itu terkait ekspor rotan berubah-ubah, PT Japirex memutuskan menutup usahanya.

“Karena kebijakan pemerintah berubah ubah, akhirnya memiliki prospek yang tidak baik dan agar menjaga kelangsungan usaha dan bisa membayar utangnya, pemegang saham memutuskan untuk melikuidasi dan itu sudah dilakukan dan sudah selesai proses likuidasinya,” jelas Sandiaga.

Dalam proses likuidasi itu, Sandi menduga ada yang memalsukan tanda tangan pihak terkait. Laporan yang baru masuk di kepolisian pun, kata Sandi, merupakan kejadian tahun 2001.

“Sekitar 17 tahun yang lalu, jadi temen-temen polisi kita akan dukung, kasus-kasus yang sudah mendekati 20 tahun ini tiba-tiba bangkit kembali,” ujar Sandiaga.

Dalam kasus ini, Djoni Hidayat adalah salah satu direktur di PT Japirex, sedangkan Andreas Tjahjadi menjabat sebagai direktur utama. Keduanya menjabat di PT Japirex hingga 2009. Sandi pun sudah berkawan lama dengan Andreas yang kini ditetapkan tersangka oleh polisi akibat dilaporkan oleh Djoni.

“Sudah lama sekali, saya mengenal beliau (Andreas) 20 tahun,” ucap Sandi yang memiliki 40 persen saham di PT Japirex sebesar 40 persen.

Singkat cerita, berdasarkan Akta Nomor 3 Tentang Penyalaan Keputusan Para Pemegang saham Perseroan Terbatas PT Japirex tertanggal 11 Februari 2009, PT Japirex dibubarkan dan dibentuk tim likuidasi.

Tim likuidasi dipimpin oleh Andreas Tjahyadi dan Djoni Hidayat sebagai wakilnya. Sedangkan, Sandi tidak masuk dalam tim likuidasi. Tim likuidasi lantas menjual sebidang tanah aset perusahaan yang berada di Curug, Tangerang dengan luas sekitar 3.000 meter persegi pada 2012, yang diklaim milik Djoni Hidayat. Dari penjualan itu Andreas dan Sandiaga diduga telah menggelapkan uang sekitar Rp 12 miliar.

Dalam kasus ini, Sandiaga dilaporkan oleh rekannya, Djoni Hidayat. Selain Sandi, rekannya yang juga direksi PT Japirex, Andreas Tjahjadi juga dilaporkan dan telah ditetapkan sebagai tersangka. (Baca juga: Wagub DKI Tersangkut Kasus Penggelapan Lahan, Diperiksa Polda Lusa).

“Beliau (Djoni) direksi dan waktu itu sama saya gak ada masalah sampai menjelang Pilkada (DKI Jakarta) aja tiba tiba baru ada masalah,” jelas politisi Partai Gerindra itu.

Untuk membuktikan bantahannya, siap diperiksa lagi apabila penyidik masih membutuhan keterangannya.

“Saya haqul yakin bahwa saya tidak terlibat dalam tindakan melawan hukum dan itu sudah dibuktikan ini murni perdata. Namun sebagai warga negara yang taat hukum tentunya saya harus mendukung proses investigasi dan proses untuk memenuhi syarat syarat sesuai dengan kaidah hukum tentunya kami kooperatif,” tutur Sandi. (med/adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *