Dituding Korupsi Pasar Besar Kota Madiun, Wali Kota Bambang Bungkam

Wali Kota Madiun Bambang Irianto.

Wali Kota Madiun Bambang Irianto.

GLOBALINDO.CO, MADIUN  – Wali Kota Madiun Bambang Irianto tetap akan menjalankan tugas meski sudah berstatus sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerimaan hadiah dalam pembangunan Pasar Besar Kota Madiun, Jawa Timur senilai Rp 76,523 miliar pada tahun 2009 – 2012. Status tersebut diteken oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dua pekan yang lalu.

Senin siang tadi, 24 Oktober 2016 Bambang masih hadir dalam rapat paripurna di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Madiun. Agenda pertemuan tersebut adalah penyampaian nota keuangan wali kota terhadap rancangan peraturan daerah tentang anggaran pendapatan dan belanja daerah pada tahun 2017.

Usai rapat paripurna Bambang tidak bersedia di temui sejumlah awak media. Terkait keterangan ihwal kasus hukum yang membelitnya.

Ia juga tak berkomentar tentang penunjukan pengacara untuk mendampinginya selama proses hukum berlangsung.

“Embuh (entah),” katanya singkat sambil  menuju ke mobil dinasnya.

Sebelumnya, Bambang telah menyatakan kasus korupsi proyek pasar besar yang menyeretnya sebagai tersangka akibat kesalahan administrasi. “Kalau masalah duit insya Allah saya nggak salah, kalau administrasi kemungkin iya,’’sapanya saat rapat koordinasi penguatan lembaga kemasyarakatan di aula Kecamatan Taman, Kota Madiun, Rabu 19 Oktober 2016.

Sebelum proyek pasar berlangsung pada 2009, Bambang mengaku telah berkonsultasi dengan pihak kejaksaan dan kepolisian setempat. Dari hasil konsultasi, pembangunan fasilitas jual beli berlantai tiga di Jalan Panglima Sudirman itu dapat dijalankan dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Madiun secara multiyears dari 2009 sampai 2012. Alokasi dananya senilai Rp 76,523 miliar.

“Niat saya ingin menjadikan pasar yang baik. Saya sebagai kepala daerah ikut campur masalah proyek, padahal itu harusnya diskresi,” ujar Bambang.

Untuk menjadikan pasar berkonsep modern, Bambang mengaku ikut menomboki biaya pembangunan tiga lantai terakhir yang dibangun. “Saya tidak makan uangnya pasar. Uang saya Rp 4,7 miliar (yang ikut digunakan) tidak sedikit. Tapi sekarang malah dibalik seolah saya menggunakan uangnya pasar,” ujar Bambang. (tm/nh)