Duduk di Kursi Roda, Djoko Yoeyanto Dihukum 1,5 Tahun Penjara

oleh
Terdakwa Djoko Yoeyanto menggunakan kursi roda saat hendak meninggalkan ruang persidangan.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sidang kasus pemalsuan dokumen kepada Terdakwa Djoko Yoeyanto Teguh kembali digelar di PN Surabaya. Agenda sidang kali ini adalah pembacaan vonis terhadap terdakwa.

Dalam vonisnya majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara selama 1 tahun dan 6 bulan. Terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen sesuai pasal 263 Ayat 1 KUHP.

Pemalsuan dokumen tersebut terkait surat Pernyataan kepengurusan di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Surabaya.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Djoko Yoeyanto Teguh dengan hukuman 1 tahun dan 6 bulan dan memerintahkan agar terdakwa tetap ditahan,” kata Hakim Ketua, Jihad Arkanudin

Putusan tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yusuf Akbar Amin, dengan tuntutan 2 tahun dan lima bulan penjara.

Menanggapi putusan tersebut, terdakwa Djoko Yoeyanto Teguh menerima putusan. Tidak berbeda JPU Yusuf Akbar Amin juga menyatakan menerima putusan majelis hakim.

“Terima pak hakim,” ujar Djoko Yoeyanto.

Untuk diketahui, terdakwa Djoko Yoeyanto Teguh sejak tahun 2011 mengontrak dirumah saksi Goei Hadi Prayogo Wahyudi di Jl. Karang Asem Gg. XII-A Surabaya. Pada 2014 terdakwa di datangi petugas KPKNL Surabaya yang menyampaikan bahwa tanah yang ditempat terdakwa akan dilakukan pelelangan.

Selain itu tanggal 9 Februaru 2015, Yanto (DPO) yang mengaku sebagai saksi Goe Hadi Prayogo Wahyudi bersama – sama dengan saksi Rahadi (dalam penuntutan terpisah) mendatangi KPKNL Surabaya dengan membawa surat pernyataan dari RT/07 RW/08 Karang Asem Utara Kelurahan Ploso Kec Tambaksari Kota Surabaya .

Surat pernyataan tertanggal 9 Februari 2018 itu dan semua syarat – syarat yang dipenuhi telah lengkap kemudian KPKNL Surabaya melalui petugasnya menyerahkan dua sertifikat SHGB No. 12 A/N Hadi Orayogo Wahyudi beserta obyek tanah SHGB No.3 Kelurahan Kedinding Kec Kenjeran kepada Yanto (DPO) yang mengaku sebagai saksi Goe Hadi Prayogo Wahyudi dengan berita Acara Serah Terima Dokumen Asli Barang Jaminan.

Dari saksi Goe Hadi Prayogo Wahyudi lantas dijual kepada saksi Goe Faisal dengan harga Rp. 1.350.000.000,- (satu milyar tiga ratus lima puluh juta rupiah) dihadapan notary Alexandra Pudentiana W SH dan saat ini telah berpindah tangan menjadi SHBG No. 00112 Kelurahan Tanah Kalikedinding Kecamatan Kenjeran An. Go Faisal Utomo.

Akibatnya, saksi korban Goe Hadi Prayogo Wahyudi mengalami kerugian sebesar mencapai  Rp.1.350.000.000 (satu milyar tiga ratus lima puluh juta rupiah). (ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.