Duh, Baru Masuk Sekolah Siswa SMAN 30 Garut Malah Diajak Demo Tuntut Pembangunan Kelas

Para siswa SMAN 30 Garut yang demo saat masuk sekolah pertama kali.

GLOBALINDO.CO, GARUT – Pemandangan unik namun menyedihkan saat memasuki hari pertama masuk sekolah ditunjukkan oleh para siswa SMAN 30 Garut. Bukannya masuk kelas dan mengikuti proses belajar-mengajar, para siswa ini malah menggelar aksi demonstrasi menuntut perbaikan ruang kelas.

Para siswa tampak berbaris membawa kertas karton putih berisi tulisan-tulisan tuntutan mereka agar sekolahnya segera diperbaiki setelah pada April lalu dihantam puting beliung. Tiga ruangan kelas mereka hancur dan hanya menyisakan satu ruang guru.

“Tujuan kita bisa punya kelas baru, minta janji Pak Gubernur ganti kelas kita yang runtuh, selama ini kita belajar di tenda, ada juga yang di ruang guru,” kata Doni Mulyawardani, siswa kelas XI yang ikut aksi unjuk rasa.

Doni berharap, sekolahnya bisa cepat dibangun kembali agar para siswa bisa belajar di kelas lagi, tidak seperti saat ini belajar di tenda darurat yang saat ini diberi nama ‘Kelas Pak Aher’. Sebab, tenda itu dipasangi spanduk putih bertuliskan “Selamat Datang di Kelas Pak Aher”. Para siswa sudah empat bulan ini belajar di tenda dan ruang guru.

(Baca Juga: Hardiknas, Mendikbud Ingin Pendidikan Tidak Terkotak-kotak)

Hal yang sama diungkapkan oleh Novi Liandi, siswa kelas XII. Menurut Novi, pemerintah berjanji menyediakan kelas baru saat masuk sekolah tahun ajaran baru. Namun, kenyataannya, janji itu belum dipenuhi.

“Belajar di tenda tidak nyaman, kepanasan, kedinginan tendanya juga sudah ada yang bocor, kasihan siswa baru harus belajar di tenda. Walau di pelosok, kami juga butuh fasilitasnya,” keluhnya.

Sementara itu, Deni Sahay, salah satu guru SMAN 30 Garut mengungkapkan, aksi yang dilakukan para siswa merupakan bentuk keprihatinan atas lambatnya respons pemerintah untuk memperbaiki tiga ruang kelas yang ambruk karena angin puting beliung.

“Pak Gubernur pernah telepon kepala sekolah mau cepat perbaiki, dari Kemendikbud sempat datang mau perbaiki, tapi realisasinya belum ada,” katanya.

Kepala SMAN 30 Garut, Dede Kustoyo mengakui, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memang pernah menyampaikan akan segera memperbaiki ruang kelas yang rusak.

Sebelum kelas dibangun kembali, dua tenda dari BPBD provinsi pun dipasang untuk dijadikan ruang kelas. Satu tenda disekat menggunakan terpal hingga bisa jadi dua ruang kelas.

Kelas XII belajar di ruang guru karena siswanya hanya 14 orang. Sementara siswa kelas X dan XI belajar di tenda.

Dede menuturkan, rencananya pemerintah provinsi dan Kementerian Pendidikan akan memberikan bantuan berupa ruang kelas baru. Namun, yang jadi masalah adalah dulu janjinya akan menggunakan dana taktis penanggulangan bencana. Namun, saat ini mekanismenya disamakan dengan sekolah yang tidak terkena musibah.

“Kami ingin bisa ada prioritas, karena kami tak punya ruangan kelas lagi selain tenda dari BPBD provinsi. Dulu rehabnya diperkirakan tiga bulan bisa selesai,” katanya.

Saat ini, jumlah siswa yang ada di SMAN 30 Garut sebanyak 105 orang, termasuk 49 siswa di antaranya adalah siswa baru. Masyarakat pun, menurut Dede, sering menanyakan masalah perbaikan sekolah. Sebab, jika tidak akan dibangun lagi, mereka enggan menyekolahkan anaknya ke SMAN 30 Garut.(kcm/ziz)