Duterte Sebut Obama Anak Pelacur, Tegaskan Filipina Bukan Anjing AS

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (kanan) terus menghina Presiden Amerika Serikat, Barack Obama (kiri) dengan komentar-komentar pedas dan menyakitkan.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (kanan) terus menghina Presiden Amerika Serikat, Barack Obama (kiri) dengan komentar-komentar pedas dan menyakitkan.

GLOBALINDO.CO, MANILA – Kebencian Presiden Filipina Rodrigo Duterte kepada Amerika Serikat, khususnya Presiden Barack Obama telah memuncak. Duterte bahkan tak segan menyebut Obama sebagai ‘anak pelacur’ dan menegaskan negaranya bukan anjing negeri Paman Sam yang bisa diatur-atur sesuai skenario mereka.

Menurut Duterte, AS yang memulai lebih dulu konflik dengan Filipina melalui kritikan terhadap gaya kepemerintahan dan kebijakannya. Terutama pada caranya mengatasi narkotika.

“Obama dan Uni Eropa, mereka yang memulai perselisihan dengan mengangkat isu pelanggaran HAM kepada saya. Lantas mereka mengancam akan memutus bantuan untuk FIlipina,” ujar Duterte di bandara Manila sesaat sebelum dia berangkat kunjungan kenegaraan ke Jepang, seperti dilansir CNN, Selasa (25/10).

Sejak Duterte menjabat sebagai presiden pada Juni lalu, lebih dari 3.000 orang terduga bandar dan pengguna narkoba tewas ditembak polisi atau jadi korban pembunuhan di jalan. Tindakan tegas ini memicu reaksi penolakan keras dari petinggi negara-negara lain, terutama Presiden Obama yang mengecam keras Duterte.

“Saya tegaskan kepada mereka, ‘dasar anak pelacur, jangan jadikan kami anjing kalian, seolah kami anjing yang diikat, dan kalian melempar roti yang tidak bisa kami raih,” tandas Duterte.

Hubungan Filipina-AS semakin memanas saat Duterte sebelumnya juga pernah menyebut Presiden Barack Obama sebagai “anak pelacur” yang berimbas pada batalnya pertemuan bilateral kedua negara. Buntutnya, Duterte menyatakan cerai dan menghapuskan kerja sama militer dengan AS, termasuk latihan gabungan yang rutin digelar setiap tahun.

Tak berselang lama, Duterte pamer kerjasama bilateral dengan Presiden China, Xi Jinping. (Baca:  Duterte Tegaskan Filipina Cerai dengan AS, Merapat ke China).

Duterte juga mengecam kehadiran tentara AS di Filipina dan mengancam akan membatalkan kesepakatan kerja sama pertahanan kedua negara. Salah satu kesepakatan pertahanan kedua negara adalah Enhanced Defence Cooperation Agreement (EDCA) yang telah disepakati Presiden AS Barack Obama dan mantan Presiden Filipina benigno Aquino pada April 2014 lalu. Pakta pertahanan ini memungkinkan peningkatan kehadiran tentara AS di Filipina.

“Saya menginginkan tak ada lagi pasukan atau tentara asing di negara saya kecuali tentara Filipina itu sendiri,” kata Duterte.

Belum ada komentar dari pemerintah AS terkait pernyataan terbaru Duterte ini. Namun sebelumnya sumber di pemerintahan AS mengatakan bahwa mereka sebisa mungkin mengabaikan ocehan Duterte, karena menurut mereka, komentar Duterte akan semain pedas jika ditanggapi. (cni/gbi)