Elektabilitas Jokowi-AHY Tertinggi, Demokrat Lamar PDIP

oleh
Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono, putra Ketua Umum PD, Susilo Bambang Yduhoyono yang elektabilitasnya semakin meroket ketik2 disandingkan dengan Jokowi.Parpol pengusung kedua tokoh ini pun mulai melakukan penjajakn untuk mewuujudkan duet Jokowi-AHY di Pilpres 2019
Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono, putra Ketua Umum PD, Susilo Bambang Yduhoyono yang elektabilitasnya semakin meroket ketik2 disandingkan dengan Jokowi.Parpol pengusung kedua tokoh ini pun mulai melakukan penjajakn untuk mewuujudkan duet Jokowi-AHY di Pilpres 2019

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Ungkapan tak ada kawan atau rival abadi dalam politik sedang berlaku bagi Partai Demokrat dan PDI Perjuangan. Partai Demokrat dan PDI Pejuangan yang dua peridoe pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono selalu berseberangan, kini mulai merapatkan diri untuk menjajaki duet Jokow Widodo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilpres 2019.

Partai Demokrat yang getol mengorbitkan putra mahkkotanya rela membuang muka pernah menjadi ‘bulan-bulanan’ PDIP selama 10 tahun pemerintahan SBY (2004 hingga 2014). Partai yang dibidani SBY ini pun semakin kepincut menduetkan AHY sebagai cawapres Jokowi setelah elektabilitas duet ini terus meroket mengungguli tokoh-tokoh lain berdasar hasil survei sejumlah lembaga.

Makanya, Sekjen PD Hinca Panjaitan mengaku partainya tak main-main untuk menyodorkan proposal lamaran kepada PDIP demi menyodorkan AHY sebagai pendamping Jokowi di Pilres 2019. Sebagai penjajakan awal, Hinca menyatakan, pihaknya sudah menemui politisi PDIP Maruarar Sirait.

“Kami tadi bicara dengan Ara (Maruarar Sirait). Diskusi tadi dilakukan, akan melakukan komunikasi intens untuk bertemu, saya, AHY dan Mas Ara,” ujar Hinca di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Minggu (3/12).

Hinca menilai intensitas pertemuan politik ini penting untuk dilakukanuntuk menjajaki persiapan Pilpres 2019.

“Jadi intensitas pertemuan politik ini menjadi sangat penting sekali dalam beberapa hari ke depan ini. Saya kira Maret akan terlihat konfigurasi yang pas untuk masuk ke Agustus (pendaftaran capres dan cawapres),” kata Hinca.

Walau begitu, kata Hinca mengungkapkan, partainya juga tetap membuka komunikasi dengan partai lain seperti Gerindra dan Golkar untuk berkoalisi. Hinca menyebut komunikasi itu terjalin atas inisiatif dari AHY.

“Saya kira hari ini komunikasi makin intens dengan siapa aja. (Komunikasi tersebut merupakan) inisiatif dari Demokrat, inisiatif dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) atau sebaliknya itu terjadi. Karena nggak ada satu partai pun hari ini yang bisa mengusung calon presiden sendiri, maka koalisi kan jawabannya. Nah sekarang koalisinya sama siapa? itu yang menjadi penting untuk dalam komunikasi ini,” paparnya.

Jokowi-AHY Benamkan Prabowo-Anies Baswedan

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pun dlam beberapa bulan terakhir semakin intens berkomuniikasi dengan Presiden Joko Widodo membahas berbagai isu.

Hasil survei terbaru yang dirilis Indo Barometer menempatkan duet Jokowi-AHY di urutan teratas. Elektabiliitas capres incumbent dan tokoh muda ini bahkan unggul telak melawan rival Jokowi di Pilpores 2014 lalu, Prabowo Subianto yang diduetkan dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Duet Jokowi-AHY saling melengkapi dan mengerek elektabilitas di angka 48,6 persen.  Artinya, Jokowi mencatatkan elektabilitas tertinggi di angka 48,6 persen jika dipasangkan dengan AHY.

Sedangkan AHY juga menjadi cawapres dengan elektabilitas tertinggi di posisi 7,1 persen jika bersanding dengan incumbent. “Ketika disandingkan dengan Jokowi, 17,1 persen masyarakat memilih AHY,” kata Direktur Utama Indo Barometer M. Qodari dalam diskusi dan pemaparan bertajuk “Siapa Penantang Potensial Jokowi di 2019?” di Hotel Century, Jakarta, Minggu (3/12).

Disusul dengan elektabilitas Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di angka 15,9 persen. “Jika dipasangkan dengan Gatot Nurmantyo, elektabilitas Jokowi 47,9 persen kontra pasangan calon Prabowo Subianto-Anies Baswedan dengan elektabilitas 19,4 persen,” kata Qodari.

Munculnya nama AHY di bursa calon wakil presiden, kata Qodari, merupakan efek dari pencalonannya sebagai Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Berdasarkan survei tingkat pengenalan yang dilakukan Indo Barometer, AHY memiliki persentase 64,6 persen.

“Dan berdasarkan survei, ada lima syarat utama cawapres Jokowi, yakni dari militer, berpengalaman dalam pemerintahan, dekat dengan rakyat, menguasai dunia internasional, dan pintar secara intelektual,” terang Qodari.

Namun, ketika melihat bursa calon wakil presiden secara luas, nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menempati peringkat pertama dengan 10,5 persen. Adapun AHY berada di posisi kedua dengan suara 9,6 persen.

“Ini merupakan suara masyarakat, pertanyaan yang kami berikan bersifat terbuka,” kata Qodari. “Sedangkam untuk cawapres yang akan mendampingi Jokowi, itu pertanyaan tertutup.”

Simulasi lain, elektabilitas Jokowi ada di titik terendah jika diduetkan dengan  Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Pol) Budi Gunawan, yakni 41,2 persen. Selain AHY, Gatot dan Budi Gunawan, Indo Barometer juga mensimulasikan duet Jokowi dengan sejumlah tokoh lain seperti Menteri KEuangan Sri Mulyani Indrawati, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, hingga mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Moeldoko.

“Hasilnya, elektabilitas Jokowi tidak pernah di bawah 41 persen saat dipasangkan dengan nama-nama tersebut,” papar Qodari.

Survei  Indo Barometer dilakukan pada 15-23 November 2017 di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah responden dalam survei ini sebanyak 1.200 orang dengan cara wawancara tatap muka serta kuesioner. Margin of error penelitian ini sebesar lebih-kurang 2,83 persen. (tpi/bmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *