Empat dari Lima Terdakwa Pungli Pelabuhan Divonis Bebas, Termasuk Dirut Pelindo III dan Terminal Peti Kemas

Direktur PT Akara Multi Karya (AMK), Augusto Hutapea (kiri) dan Dirut PT Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS) Rahmat Satria (kanan) menyusul Direktur PT Pelindo III, Djarwo Suryanto dan Istrinya Mieke Yolanda Fransiska alias Nonik yang divonis bebas oleh majelis hakim PN Surabaya dalam sidang kasus pungli di Terminal Petikemas Pelabuhan Tanjung Perak.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya terkait kasus pungutan liar (pungli) dwelling time di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya semakin menuai kontroversi. Majelis hakim yang diketuai Anne Rusiana hari ini, Rabu (6/12) kembali memutus bebas dua terdakwa lain yakni Rahmat Satria, Dirut PT Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS) dan Augusto Hutapea, Direktur PT Akara Multi Karya (AMK).

Putusan ini hanya selang beberapa hari setelah Hakim Maxi Sigerlaki juga membebaskan mantan Direktur PT Pelindo III, Djarwo Suryanto dan Istrinya Mieke Yolanda Fransiska alias Nonik pada kasus yang sama, Senin (4/12) lalu.

Majelis hakim pada persidangan lain yang diketuai Sigit Sutriono, hari ini (6/12) hanya menghukum Firdiat Firman, Manager PT Pelindo Energy Logistik (PEL). Vonisnya pun tergolong ringan, yakni 9 bulan dan 20 hari kurungan penjara karena hanya terbukti melakukan pencucian uang, tidak termasuk pemerasan.

“Menghukum terdakwa Firdiat Firman dengan hukuman 9 bulan dan 20 hari sebagaimana diatur dalam pasal 3 UU No 8 Tahun 2010,” kata Hakim Sigit Sutriono saat membacakan amar putusannya, diruang sidang kartika, Rabu (6/12).

Ini artinya hanya satu dari lima terdakwa kasus pungli di terminal petikemas Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang menerima hukuman pidana. Sebab pada hari yang sama di persidangan yang dipimpin Hakim Anne Rusiana, dua terdakwa yakni Rahmat Satria dan Augusto Hutapea malah divonis bebas.

Padahal, seperti tertuang dalam dakwaan jaksa, Rahmat Satria termasuk aktor yang berperan penting bersama Djarwo Suryanto dalam menjalankan tindak kejahatan pungli ini. Putusan bebas Rahmat Satria dan Augusto Hutapea itu dibacakan diruang sidang garuda pada persidangan terpisah, Rabu (6/12).

Atas putusan bebas tersebut, Kejari Tanjung Perak menyatakan perlawanan, dengan langsung menyatakan kasasi.

Sebelumnya, Hakim Anne Rusiana telah memutuskan Direktur PT Pelindo III, Djarwo Suryanto dan Istrinya Mieke Yolanda Fransiska alias Nonik bebas dari segala dakwan jaksa. Hanya Mieke Yolanda Fransiska dinyatakan terbukti menggunakan uang hasil pungli tersebut tapi dianggap bukan sebagai tindak pidana.

Manager PT Pelindo Energy Logistik (PEL), Firdiat Firman,merupakan satu-satunya terdakwa kasus pungli yang divonis pidana penjara.

Sebelumnya, Djarwo dituntut Kejari Tanjung Perak dengan hukuman 3 Tahun Penjara dan denda sebesar Rp 500 juta, subsider 6 bulan kurungan. Sedangkan Mieke Yolanda dituntut 1 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Perbuatan Djarwo dan Mieke Yolanda dianggap tidak mendukung progam pemerintah dalam percepatan dweling time. Tuntutan Djarwo lebih tinggi dari tuntutan para terdakwa lainnya, yakni Firdiat Firman (Manager Logistik PT Pelindo III) dan Augusto Hutapea (Dirut PT Akara Multi Karya) yang dituntut 2 tahun penjara.

Seperti diketahui, Kasus pungli Dwelling Time di tubuh Pelindo III ini terbongkar setelah Tim Saber Pungli Mabes Polri dibantu Polres Tanjung Perak melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Augusto Hutapea pada November 2016 lalu. Augusto sebagai Direktur PT Akara Multi Jaya yang merupakan rekanan PT Pelindo III itu ditangkap saat diduga mengambil uang pungli dari importir.

Usai ditangkap dan saat diperiksa, Augusto mencakot beberapa pejabat Pelindo III. Atas pengakuan itu, penyidik akhirnya bergerak dan menggeledah ruang kerja Rahmat Satria, Direktur Operasional PT Pelindo III. Tak berhenti disitu, kasus ini akhirnya ternyata juga menjerat Djarwo Surjanto, Direktur Utama Pelindo III dan istrinya yaitu Mieke Yolanda. (ady)