Fahri Harus Buang Muka Jika Gabung Golkar

oleh
Wakil Ketua DPR yang dibuang PKS< Fahri Hamzah kini mencari parpol baru untuk kendaraan politiknya maju di Pemilihan Legislatif 2019.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah harus melepaskan idealismenya sebagai politisi PKS yang kerap kritis dan vocal terhadap pemerintah. Hal ini sebagai salah satu syarat apabila Fahri ingin bergabung dan menggunakan Partai Golkar sebagai kendaraan politik di Pemilihan Legislatif 2019.

Fahri mendapat sokongan dari mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto untuk merapat ke partai beringin. Rekomendasi Novanto ini seiring terbuangnya Fahri dari PKS dan terancam tidak bisa melenggang ke Senayan karena tak punya kendaraan politik.

“Kalau memang Pak Fahri mau bergabung dengan Golkar, tentu Golkar dengan senang hati menerima. Cuma ya harus ikut prosedur,” kata Ace di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/2).

Tetapi politisi asal Nusa Tenggara Barat itu tidak bisa begitu saja masuk ke Partai Golkar. Ia harus terlebih dulu beradaptasi dengan kultur partai baru dan mengadopsi gaya politik Golkar yang selalu dekat dengan kekuasaan.

Ideologi pragmatis ini tentu sangat jauh dari sikap dan gaya politik yang selama ini ditunjukkan Fahri. Diketahui, ejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo sekarang, mantan Wakil Sekjen PKS ini selalu kritis dan berbenturan dengan pemerintah.

Satu hal yang barangkali akan membuat Fahri bisa alergi ketika benar-benar bergabung dengan Golkar adalah dirinya harus rela mengkampanyekan Jokowi sebagai capres di Pemilu 2019 sesuai garis politik partai. Hal ini bagi Fahri tentu sama saja dengan menjilat ludah sendiri atau memasang topeng berlapis di muka.

Pasalnya, sejak mendukung Prabowo Subianto pada kontestasi Pilpres 2014, Fahri telah membuat garis tebal yang memisahkan sikap politiknya dengan Jokowi. Hingga kini pun, sikap Fahri belum terlihat kendur.

“Golkar sudah menyatakan dengan tegas mendukung Pak Jokowi sebagai capres di 2019. Tidak lagi keras dengan Pak Jokowi dan harus ikut mendukung pemerintahan ini sampai 2019,” tuturnya. Golkar, melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa, memutuskan mendukung Jokowi dua periode.

Menurut Ace, sikap dan gaya politik yang kaku tidak bisa terus dilakukan Fahri jika ingin bergabung dengan Golkar. Ace mengatakan, Fahri harus menunjukkan karakter Golkar sebagai partai yang nasionalis yang jelas berbeda dengan PKS.

“Karena itu, harus ikut dengan karakternya Golkar sebagai partai kekaryaan nasionalis,” katanya.

Syarat-syarat tadi rupanya sudah diamini Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Menteri Perindustrian ini menekankan Fahri Hamzah harus ikut mendukung pemerintah serta menyukseskan Joko Widodo pada Pilpres 2019 jika bergabung dengan Golkar.

“Munas kan sudah mendukung Pak Jokowi,” kata Airlangga.

Airlangga memastikan partainya membuka pintu lebar untuk Fahri.Airlangga bahkan menganggap suatu kerugian jika Golkar tidak memiliki kader sekelas Fahri Hamzah.

“Tanya sama Beliau dulu (mau gabung Golkar atau enggak), Partai Golkar kan partai terbuka. Siapa juga boleh,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/2).

Fahri Hamzah terancam tak akan melenggang ke Senayan lagi pada periode selanjutnya. Anggota DPR tiga periode berturut-turut ini tak diusung lagi sebagai calon legislatif oleh Partai Keadilan Sejahtera.

Fahri sebelumnya dipecat PKS. Namun, politisi asal Nusa Tenggara Barat ini melakukan perlawanan lewat jalur pengadilan. Ia sudah dimenangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, tetapi PKS mengajukan banding

Fahri mengaku, banyak partai yang mengajaknya bergabung. Bukan satu atau dua, bahkan hampir semua partai yang ada di DPR saat ini memberi tawaran. (Baca: Dibuang PKS, Fahri Klaim Dilamar PDIP dan Gerindra).

“Saya sudah ditawari Golkar, PDI-P, Gerindra, Nasdem, PAN, PPP, Hanura, semualah,” ujarnya. (kc/ara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.