Gamawan Berkelit Pernah Bertemu Johannes Marliem, Novanto dan Ganjar Mangkir

oleh
Mantan Menteri Dalam Negeri Gaamawan Fauzi (kiri) dan beberapa orang lain bersaksi di sidang lanjutan terdakwa kasus korupsi pengadaan e-KTP, Andi Agustinus di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (9/10). Dalam kesaksiannya, Gamawan banyak berkelit dari cecaran pertanyaan jaksa KPK.

 

Banyak Berkelit: Mantan Menteri Dalam Negeri Gaamawan Fauzi (kiri) dan beberapa orang lain bersaksi di sidang lanjutan terdakwa kasus korupsi pengadaan e-KTP, Andi Agustinus di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (9/10). Dalam kesaksiannya, Gamawan banyak berkelit dari cecaran pertanyaan jaksa KPK.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi membantah pertemuannya dengan saksi kunci skandal korupsi pengadaan e-KTP, Johannes Marliem, di Padang pada 2010 silam. Ia berkelit pernah bertemu dengan dua orang warga negara asing dan satu orang yang berwajah oriental (Cina), tapi tidak tahu kalau itu Johannes Marliem.

“Bagaimana pertemuan dengan Johannes Marliem di Padang?” tanya.

“Tidak pernah saya (bertemu). Memang pernah ada ketua DPRD (Sumbar) saat saya mau melantik gubernur mengatakan ‘saya minta waktu untuk ketemu’. Lalu saat saya sampai di rumah ada 2 orang, bule dan 1 orang Chinese, saya tidak tahu namanya,” jawab Gamawan menjawab pertanyaan JPU KPK Abdul Basir dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (9/1) ihwal pertemuannya dengan sejumlah orang yang diketahui salah satunya adalah Johannes Marliem.

“Jadi ada orang bule dan keturunan Chinese?” tanya jaksa Basir.

“Saya tidak tahu namanya tapi permintaan ketua DPRD, ada bule dan ada keturunan Chinese,” jawab Gamawan. Ia mengaku lupa saat ditanya nama Ketua DPRD yang mengantarkan Johannes dan dua temannya.

“Lupa saya,” imbuhnya.

Namun saat didesak jaksa, Gamawan akhirnya mengatakan nama Ketua DPRD yang dimaksud.

“Yultekhnil, Yulteknil, dia ketua DPRD Sumbar, saya mau lantik gubernur,” jawab Gamawan. Yultekhnil adalah Ketua DPRD Sumatera Barat dari fraksi Partai Demokrat 2009-2014.

Gamawan lagi-lagi berkelit saat ditanya hal yang diperbincangkan Gamawan dengan tiga orang tadi. “Apa yang dibincangkan?” tanya jaksa Basir.

“Tidak ingat lagi karena tidak mau bertemu. Itu tidak lebih dari 10 menit karena saya tidak ada urusan, jadi ketua DPRD yang minta waktu 10 menit,” jawab Gamawan.

Namun dalam pertemuan itu, Gamawan sempat menanyakan keperluan tiga orang tadi yang ingin bertemu dengannya.  “Dijawab ini mau urus KTP-E, saya jawab saya tidak ada urusan, pergi sana, itu prinsip saya,” jawab Gamawan.

Hanya Gamawan tetap berkilah tidak tahu identitas ketiga orang yang tiba-tiba menemuinya itu.
“Tidak tahu karena saya tidak ada urusan,” jawab Gamawan.

Jaksa KPK pun lalu menunjukkan foto Johannes Marliem ke Gamawan.

“Saya tidak ingat, kan sampai di Padang Ketua DPRD minta waktu Pak Menteri minta 10 menit saja. Saya kira untuk pelantikan besok, karena besok kan pelantikan gubernur jadi saya persilakan, tapi kok ternyata bawa orang-orang? Saya tanya Kok bareng-bareng? Dijawab ketua DPRD Ini kawan-kawan mau ketemu. Ada lagi orang lain Indonesia, saya tanya dari mana dijawab dari Bappenas, Ini orang apa? ternyata urusan e-KTP oh saya gak mau,” cerita Gamawan.

Gamawan pun berkeras ia tidak mengenal dan tidak ingat siapa saja orang “bule”, “Chinese” dan orang Bappenas yang menemuinya tersebut.

“Saya tidak mau ngobrol, ada juga orang Bappenas ikut ke situ, laki-laki, namanya lupa. Saya tidak mau karena itu kan saya ditipu namanya, ini terjadi sebelum pelantikan gubernur Sumbar pada 2010,” jelas Gamawan.

Johannes Marliem adalah Direktur PT Biomorf Lone LLC, penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merk L-1. Johannes juga disebut ikut memberikan USD 200 ribu pada Oktober 2012 kepada mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Sugiharto sebagai fee karena konsorsium PNRI dinyatakan lulus evaluasi. Marliem mendapatkan keuntungan seluruhnya berjumlah 14,88 juta dolar AS dan Rp 25,242 miliar dari KTP-E.

Namun Johannes Marliem ditemukan tewas di rumahnya di Los Angeles pada Kamis (10/8) dini hari, 10 Agustus waktu setempat. Berdasarkan pemberitaan media di Amerika Serikat, Johannes ditulis tewas akibat bunuh diri.

Belakangan, agen FBI Jonathan Holden di media wehoville.com menyatakan Marliem dalam pemeriksaan FBI pada Agustus 2017 mengaku pernah memberikan sejumlah uang dan benda lain kepada pejabat di Indonesia terkait lelang KTP-e pada 2011. Salah satunya adalah jam tangan merek Richard Mille senilai USD 135 ribu (sekitar Rp1,8 miliar) yang dibeli dari butik di Beverly Hills selanjutnya diberikan ke Ketua DPR Setya Novanto.

Penegak hukum di Minesotta pun saat ini berupaya menyita aset Marliem sebesar USD 12 juta yang diyakini diperoleh dari skandal yang melibatkan pemerintah Indonesia.

Gamawan menjadi saksi untuk terdakwa pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong yang didakwa mendapatkan keuntungan USD 1,499 juta dan Rp 1 miliar dalam proyek pengadaan e-KTP yang merugikan keuangan negara senilai Rp 2,3 triliun.

Novanto dan Ganjar Mangkir

Ketua DPR Setya NOvanto (kiri) dan mantan Wakil Ketua Komisi II dari Fraksi PDIP DPR RI yang kini menjadi Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mangkir dari panggilan sidang terdakwa Andi Narogong, Senin (9/10).

Pada sidang yang sama, Ketua DPR RI Setya Novanto dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranwoo mangkir dari panggilan sebagai saksi. Pihak Novanto berdalih tak bisa menghadiri sidang karena kondisi kesehatan yang belum pulih.

“Karena kondisi kesehatan yang belum memungkinkan jadi belum bisa hadir,” kata kuasa hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi saat dihubungi di Jakarta, Senin (9/10).

Selain Novanto, salah satu saksi yaitu Ganjar Pranowo juga mangkir. “Saksi yang bisa hadir lima orang,” kata Jaksa Penuntut Umum kepada ketua majelis hakim, John Halasan Butar-Butar. (ant/nad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *