Ganjar Pernah Ditawari Duit e–EKTP dari Anggota Banggar

Mantan Wakil Ketua Komisi II DPR yangkini menjadi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo diperiksa sebagai saksi di sidang terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (13/10).

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Mantan pimpinan Komisi II DPR Ganjar Pranowo lagi-lagi membantah kecipratan aliran dana korupsi proyek e-KTP. Tetapi Ganjar mengaku pernah ditawari duit dari Anggota Badan Anggaran 2009-2014, Mustoko Weni.

“Terima uang maksudnya, tidak. Sama sekali (tidak), dan saya sudah pernah jelaskan di sidang waktu kesaksian (untuk) Pak Sugiharto dan Irman (mantan pejabat Kemendagri,” kata Ganjar saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, untuk terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong, Jumat (12/10).

Gubernur Jawa Tengah ini mengaku baru mendenar adanya bancakan duit e-KTP justru saat diperiksa KPK sebagai saksi.

“Saya baru tahu setelah saya diperiksa dan dikonfrontasi dengan salah satu anggota Dewan, ibu Miryam Yani di KPK. Saat itu baru saya ngertibahwa ternyata ada berita bagi-bagi uang,” imbuhnya.

Tetapi di sisi lain, politisi PDI Perjuangan ini mengakui pernah ada tawaran uang dari mantan anggota Badan Anggaran DPR Mustoko Weni. Tawaran dari Mustoko Weni itu ditolaknya.

“Dia (Mustoko) hanya jarak jauh, dia bilang ‘Dek ini jatahmu’. Tapi dia tidak katakan itu duit dari mana,” ujar Ganjar. Ia juga menyatakan tak tahu jika uang yang ditawarkan kepadanya berkaitan dengan proyek e-KTP.

Hakim kemudian bertanya bagaimana Ganjar tahu kalau tawaran dari Mustoko berupa uang. Ganjar mengatakan, dia mengasumsikan begitu berdasarkan pernyataan yang disampaikan Mustoko.

Ia mengaku tidak pernah melihat uang yang ditawarkan Mustoko. “Tidak, dia hanya sampaikan dengan kata-kata,” ujar Ganjar.

“Barangkali dengar rekan anggota DPR dapat tawaran sama?” tanya hakim.

“Mungkin. Tapi karena saya bukan mereka, jadi saya tidak tahu,” jawab Ganjar.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, pernah mengatakan Ganjar Pranowo yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR menolak uang sebesar USD150.000.

“Ribut dia di meja dikasih 150.000. Dia minta (jumlahnya) sama dengan posisi ketua,” ujar Nazar, saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (3/4).

Nazar mengatakan, ada perbedaan pembagian kepada Pimpinan Komisi II DPR RI. Menurutnya, Pimpinan Komisi II mendapatkan jatah 200.000 dollar AS, sedangkan anggota mendapatkan USD150.000.

Sementara itu, dalam dakwaan disebutkan bahwa Chairuman Harahap selaku Ketua Komisi II mendapatkan USD550.000. Nazar mengatakan, Ganjar meminta jatahnya ditambah hingga akhirnya diberikan USD 500.000.

Hal itu bertolak belakang dengan pernyataan Ganjar yang pernah bersaksi dalam sidang sebelumnya yang menolak pemberian dari Mustokoweni. Nazaruddin mengatakan, ia mengetahui adanya pemberian itu karena dirinya menyaksikan langsung adanya catatan pembagian uang dan proses pemberiannya.

“Saya ada di sana,” kata Nazar. (cni/nad)