Gatot atau Sri Mulyani, Cawapres Jokowi Ditentukan Kondisi Ekonomi

Menteri Keuangan Sri Mulynai Indrawati (kiri) dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (kanan) ada di posisi teratas bursa cawapres pendamping Jokowi berdasar hasil survei Indikator Politik Indonesia dan Charta Politica.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Dua hasil survei menempatkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo,  dan Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai calon wapres paling potensial untuk mendampingi Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019. Peluang Gatot dan Sri Mulyani yang bersaing ketat barangkali hanya akan ditentukan oleh perkembangan ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan.

Dukungan kepada dua nama tersebut dianggap bertambah signifikan dari hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dilakukan secara berjenjang. Awalnya,  survei dilakukan melalui simulasi tertutup yang menyordokan 16 nama satu jawaban terbuka jika pilihan mereka tidak ada dalam daftar nama tersebut.

Hasilnya, responden paling banyak memilih Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebesar 16 persen kemudian Gatot Nurmantyo sebesar 10 persen. Selanjutnya, diikuti oleh Ridwan Kamil 8 persen, Sri Mulyani Indrawati 7 persen, Tri Rismaharini 5 persen dan juga Tito Karnavian 4 persen.

“Meski dipenjara, Ahok ternyata masih nomor satu menurut publik. Tapi, selisih dengan nama lain itu tidak terlalu jauh,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi saat memaparkan hasil survei.

Kemudian, survei menggunakan model simulasi 8 nama. Hasilnya persentase tertinggi tetap dipegang oleh Ahok dengan 17 persen dan diikuti oleh Gatot Nurmantyo dengan 14 persen. Posisi selanjutnya diikuti oleh Ridwan Kamil 11 persen, Sri Mulyani 9 persen, Tri Rismaharini 8 persen dan Tito Karnavian 6 persen.

“Dari sana kita bisa lihat bahwa jumlah suara nambahnya ke Gatot, Ridwan Kamil dan juga Sri Mulyani. Ahok memang mnasih teratas. Tapi kalau kita lihat juga, ternyata basis pemilih Ahok dan mendukungnya mendampingi Jokowi juga tetap, ada die hardnya Ahok segitu,” kata Burhanuddin.

Namun ia menjelaskan dari signifikansi penambahan jumlah suara yang paling banyak adalah Gatot Nurmantyo dan Sri Mulyani.

”Artinya, menurut publik pada saat survei ini dilakukan, dua orang yang dianggap cocok untuk menjadi wakil Jokowi ketika nanti dirinya maju kembali adalah Gatot Nurmantyo dan juga Sri Mulyani,” papar Burhanuddin.

Survei Indikator Politik tersebut menggunakan 1.220 responden dengan margin of error +-2,9 persen. Selain itu, pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hasil survei yang sudah terkumpul kemudian akan diperiksa kembali melalui mekanisme quality control sebesar 20 persen dari jumlah total responden untuk memastikan jawaban tidak berubah. Waktu survei sendiri dilakukan pada 17-24 September 2017.

Hasil tak jauh berbeda diperoleh dari survei Charta Politika. Hanya hasil survei Charta Politika disertai analisis kondisi ekonomi dlam dua tahun mendatang dipercaya akan bisa merubah peta bursa Cawapres pendamping Jokowi.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan kondisi ekonomi, politik, dan hukum akan menentukan siapa yang akan mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2019 mendatang. Jika kondisi politik stabil dan Jokowi sebagai inkumben fokus pada pertumbuhan ekonomi, maka sosok cawapres yang tepat tentu Sri Mulyani sebagai pakar ekonomi.

Yunarto menyebut nama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai sosok yang tepat sebagai cawapres bagi Jokowi. Yunarto merujuk pada langkah yang diambil Presiden SBY saat meminang Gubernur BI Boediono sebagai calon wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2009 lalu.

“Untuk fokus pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, dia tarik Boediono. Tapi itu dalam kondisi politik sudah stabil,” ujarnya Yunarto.

Sebaliknya, jika situasi politik belum stabil, figur cawapres yang layak untuk mendampingi Jokowi adalah yang berasal dari institusi pertahanan dan keamanan. Dalam hal ini, Yunarto menyebut nama Gatot Nurmantyo dan  Tito Karnavian.(Baca: Panglima TNI dan Kapolri Masuk Bursa Cawapres Pendamping Jokowi).

“Tergantung pada situasi politik, ekonomi, dan internal dari apa yang terjadi. Tapi kalau ditanya tiga nama besar ya itu, Gatot, Tito, dan SMI,” kata Yunarto. (tep/gin)