Grup Lendir ‘Papi’ SI Jajakan PSK Belia Lintas Daerah

Mucikari SI alias Apunk Kumel (38) yang mengelola Grup Lendir di Facebook diringkus jajaran Cyber Cirme Ditreskrimum Polda Jatim saat mengantar dua PSK binaannya ke pelanggan di Mojokerto.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Meski baru beroperasi beberapa bulan, bisnis prostitusi online yang dijalankan SI alias Apunk Kumel (38) melalui Grup Lendir di Facebook ternyata telah mampu menggaet banyak pria hidung belang di kawasan Jawa Timur. In lantaran grup yang dikelola Apunk itu menjajakan para pekerja seks komersial (PSK) berusia belia, bahkan ada yang masih duduk di bangku SMP dan SMA  tersebar di sejumlah daerah di Jatim.

Dari keterangan yang dihimpun polisi, mucikari asli Jombang baru menjalankan Grup Lendir selama tiga bulan. Untuk meyedot perhatian para pria hidung belang,  Apunk  memasang puluhan foto perempuan belua yang bisa diajak kencan dengan imbalan sejumlah uang.

Mereka kebanyakan masih di bawah umur dan masih duduk di bangku SMP dan SMA. Ada pula yang mahasiswi hingga perempuan dewasa yang oleh tersangka dijuliki Mahmud alias Mama Muda.

Para perempuan pramu syahwat itu berdomisili di sejumlah daerah dan kota besar di Jatim seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Kediri hingga Malang. Sehingga jika ada permintaan layanan syahwat dari konsumen di daerah tertentu, Apunk tingal menghubungi PSK binaannya yang berada di daerah itu atau yang wilayah terdekat dengan si pelanggan.

“Konsumen yang ingin menjadi konsumen atau memesan cewek harus masuk di grup Lendir,” ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Selasa (2/5).

Sepak terjang jaringan prostitusi yang dikelola Apunk awalnya terendus oleh patroli cyber melalui  media sosial facebook yang terdapat sebuah grup Facebook bernama ‘Lendir’. Dalam grup itu, tersangka juga mencantumkan kontak BBM sehingga konsumen yang ingin memesan diminta tersangka untuk menyampaikan pesan melalui kontak BBM itu.

Dari kecurigaan itu, polisi kemudian melakukan pemantauan dan pengintaian. ”Tersangka Apunk juga sering melakukan broadcast pesan ke BBM milik konsumen yang ada di kontaknya untuk memberitahu jadwal booking,” ungkap Barung.

Hingga sekitar sepekan dipantau polisi, Apunk yang melakukan transaksi dengan konsumen minta dicarikan cewek berstatus siswi SMA untuk diajak kencan di Surabaya. Dalam kontak via BBM itu, tersangka menyanggupi dengan tarif Rp 1,2 juta untuk sekali kencan.

Tersangka akhirnya menjemput remaja berinisial EEL (16) di Kediri yang kemudian dibawanya ke sebuah hotel di Mojokerto. Di hotel itu, EEL diminta masuk kamar dan menunggu kedatangan seorang pelanggan. (Baca: Mucikari Prostitusi Online Diringkus saat Antar PSK ke Pelanggan di Mojokerto).

Di saat EEL menanti pria yang akan menggunakan layanannya, tersangka pergi menjemput seorang PSK lainnya berinisial SA untuk diajak bertemu dengan seorang pelanggan yang lain. Perempuan kedua ini dibanderol dengan tarif Rp 700 ribu sekali kencan.

Dari dua perempuan itu, tersangka mendapat uang Rp 500 ribu. Rinciannya, Rp 200 ribu dari EEL dan Rp 300 ribu dari SA.  “Tersangka ditangkap di parkiran hotel saat meninggalkan korban di kamar hotel. Tersangka ini muncikarinya,” ujar Kombes Barung.

Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Rama S Putra menjelaskan, untuk menjaring cewek yang akan ditawarkan, tersangka menyebar informasi kerja sampingan yang menjanjikan imbalan uang secara instan.

“Job tambahannya, ya, bisa BO (booking out) itu,” ungkapnya.

Dalam kasus ini, tersangka dijerat Pasal 76 huruf i dan Pasal 88 Undang-undang Perlindungan Anak. Tersangka juga dijerat Pasal 296 dan atau Pasal 506 KUHPidana. (son/gbi)