Gubernur Banten dan Bupati Tatu Punya Cara Sendiri Soal SD Eks Kandang Kerbau

Wahidin Halim mendatangi lokasi SD bekas kandang kerbau

GLOBALINDO.CO, SERANG  – Gubernur Banten Wahidin Halim dan Bupati Serang Tatu Chasanah punya cara sendiri menyikapi SD Sadah yang dibangun di bekas kandang kerbau di Ciruas, Serang. Wahidin memilih mengunjungi langsung lokasi, sedangkan Bupati serang Tatu memanggil siswi ke pendopo.

SD di bekas kandang kerbau itu ramai diperbincangkan saat seorang siswi Devi Marsya membuat video pendek dan diunggah ke media sosial. Melihat hal tersebut, Gubernur Wahidin langsung datang ke sekolah tersebut pada Rabu (29/11). Ia datang usai menjadi pembina upacara hari Korpri pada sekitar pukul 09.00 WIB didampingi oleh Rektor Untirta Sholeh Hidayat dan Asda II Ino Rawita.

Di sana, Wahidin kemudian bertemu dengan Devi yang videonya menjadi viral, juga siswa lainya yang belajar di Sadah.

Soal kondisi sekolah, Wahidin mengatakan bahwa tempat tersebut mirip seperti di tahun 60-an. Di tahun tersebut, ia pernah merasakan belajar yang mirip dengan kondisi SD Sadah yang memprihatinkan.

“Ini zaman tahun 60 tempat saya (sekolah). Saya tahun 60-an belajar kayak begini,” kata Wahidin.

Soal surat permintaan salah satu murid, Wahidin mengatakan sudah mendengar dan melihat sendiri di situs media sosial. Ia mengaku menghargai ada seorang adak SD yang berani menyampaikan kondisi sekolahnya ke gubernur.

Wahidin berjanji membangun sekolah tersebut. Ia juga akan berkoordinasi dengan Pemkab Serang karena ranah pengelolaan SD ada di tangan kabupaten.

Alternatif lain, Wahidin mengaku akan menyediakan dana misalnya dari CSR atau dana hibah untuk membantu SD Sadah.

“Bagi saya, masalah pendidikan adalah panggilan jiwa, saya tidak mau anak-anak di Banten merasakan bangunan sekolah yang kurang memadai,” ungkapnya.

Kedatangan Wahidin ke SD yang memprihatinkan di Banten bukan yang pertama. Sebelum itu, ia juga sempat mengunjungi SD Citasuk di daerah Padarincang, Serang yang kondisinya juga memprihatinkan. Kedatangannya juga diam-diam dan hanya didampingi oleh ajudan usai ada pemberitaan mengenai sekolah tersebut.

Bupati Serang Tatu Chasanah memanggil siswi SD ke kantornya.

Bagaimana dengan Tatu? Ia memilih memanggil Devi ke kantornya pada Senin (4/12) pagi. Ikut mendampingi orang tua Devi, warga dan Komite Sekolah SD Sadah. Hadir di pendopo bupati adalah jajaran Dinas Pendidikan juga kepala sekolah. Di kesempatan itu, Bupati Tatu beberapa kali bertanya mengenai sekolah kandang kerbau.

“Adek kemarin kan bilang sekolah di kandang kerbau. Adek ngeluh ke Presiden ke Gubernur. Sekarang ibu mau nolongin, jadi gimana? Harus jelas. Sekarang mau Ibu cari solusinya,” kata Tatu bertanya kepada Devi.

“Coba Adek bicara, betul nggak itu soal kandang kerbau. Pokoknya Ibu ngedernya Adek saja, karena Adek (yang bilang) kandang kerbau,” tanyanya lagi.

Mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, Devi yang berdiri didampingi temannya hanya diam saja.

Bupati Tatu kemudian mengatakan, Pemda sebetulnya tidak membiarkan ada siswa yang bersekolah di kandang kerbau. Namun, ia merasa bingung kenapa ada anak siswa yang bicara kepada umum soal belajar di sekolah tidak layak.

Tatu juga menuding, ada media yang ingin membunuh karakternya mengenai pemberitaan sekolah rusak dan rumah tidak layang huni di Kabupaten Serang.

“Dimanfaatkan untuk membunuh karakter saya,” katanya.

Pertemuan hari itu sendiri menghasikan kesepakatan bahwa warga menolak relokasi atau merger ke sekolah terdekat. Kepada wartawan, Tatu mengatakan pada 2018 nanti, pemerintah menurutnya akan membuatkan bangunan baru.

Di kesempatan itu, Tatu juga mengakui bahwa penanganan SD Sadah berjalan lambat. Sekolah tersebut pada 2015 menurutnya tergusur oleh rencana pembangunan Pusat Pemkab. Ia mengatakan, meskipun waktu itu menjadi wakil bupati Serang, saat persoalan ini muncul, dirinya sudah tidak aktif menjabat.

“Itu kan zaman 2015, saya belum jadi bupati. Kalau secara keseluruhan, disebut lambat boleh. Tapi nggak semudah itu juga,” katanya.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten dan Serang kemudian turun tangan datang ke sekolah dan murid bernama Devi pada Selasa (5/12/2017) kemarin. Terkait sekolah, LPA menilai fasilitas baik ruangan dan lingkungan jauh dari kata layak. Sanitasi buruk dan lingkungan dekat kandang bebek dan kerbau.

Di samping itu, kondisi Devi yang dikunjungi LPA juga mengalami shock. Itu terjadi usai pertemuannya dengan bupati Serang di pendopo.

“Kami menemui langsung anak tersebut, memang masih ada shock, belum mau menerima kehadiran orang lain. Tapi kami yakinkan dari LPA, kami melindungi anak-anak,” kata Ketua LPA Banten Uut Luthfi.

(bbs/nh)